BALI EXPRESS, DENPASAR - Ngaben sering dipersepsikan dengan arti negatif, yaitu ‘Ngabehin’ alias berlebihan. Namun, ada pula yang menyebut ‘Ngabin’ atau nampa. Bagaimana sejatinya ritual ini dilihat dari filosofinya? Berikut Ida Pandita Mpu Daksa Charya Manuaba membebernya.
Dalam tulisan bertajuk ‘Tata Titi Lengkap Indik Ngaben,
Ida Pandita Mpu Daksa Charya Manuaba, Ngaben juga
ada yang mengartikan ‘Ngabuin’ (menjadikan abu). Dikatakan tokoh umat Hindu yang nama walakanya Prof Dr Sucipta ini,
Ngaben asal katanya ‘Api’, mendapat prefix ‘Ang’ menjadi ‘Ngapi’, kemudian mendapat suffix ‘An’ menjadi ‘Ngapen’. Kemudian terjadi perubahan fonem P menjadi B menjadi Ngaben.
“Upacara Ngaben merupakan proses pengembalian unsur Panca Maha Butha kepada Sang Pencipta. Kekuatan Panca Maha Butha menciptakan adanya ‘Stula Sarira’ yaitu Pertiwi (kulit), Teja (darah daging), Akasa (urat-urat), Bayu (tulang belulang), Apah (sumsum),” beber Ida Nak Lingsir yang mengizinkan mengutip sejumlah tulisannya kepada Bali Express, ketika dikonfirmasi, Senin (27/2).
Namun, ada juga yang mengartikan lain, di mana Ngaben berasal dari kata ‘beya’ (biaya atau bekal). Dari Ngaben muncul kata meyanin atau ngabeyanin yang disingkat menjadi Ngaben. Ngaben juga disebut sebagai Pitra Yadnya (Lontar Yama Purwana Tattwa). Pitra yang artinya leluhur atau orang yang mati, yadnya adalah persembahan suci.
Di sisi lain, dikatakannya, Pangabenan umat Hindu menggunakan filosofi yang diambil dari gugurnya Resi Bisma dalam perang Berathayudha di tengah Kuru Setra. Badannya penuh dengan panahnya Sang Arjuna. Setelah rebah, badanya sama sekali tidak menyentuh tanah karena disangga ribuan panah. Resi Bisma gugur karena pembayaran sumpahnya Dewi Amba yang reinkarnasi menjadi Sri Kandhi. Senjata Sri Kandhi yang pertama kali menembus kekebalan badannya Resi Bisma. Setelah kekebelannya hilang sebagai pembayaran sumpahnya Dewi Amba, kemudian senjatanya Dresta Jumena dan ribuan panahnya Arjuna menembus seluruh tubuh Resi Bisma.
Dikatakannyan, nilai-nilai yang dapat diambil dari gugurnya Resi Bisma yakni, Resi adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian tinggi. Dari sini diambil filosofi bahwa jasad harus melalui proses penyucian. Bisma juga berasal dari kata ‘Wisma’ atau tempat atau wadah, yaitu wadahnya Sang Jiwatman atau Stula Sarira atau unsur-unsur Panca Maha Butha. Kata Resi Bisma mengandung filosofi proses penyucian terhadap Panca Maha Butha.
Selanjutnya ada Sri Kandhi, di mana Sri yang berarti sinar suci (Div), kemudian menjadi Dewa. Kandi adalah kanda yang juga sama dengan dudonan atau tahapan. Kemudian ada Dresta Jumena. Dresta yang bermakna pedoman. Lantas, bagaimana dengan seribu panahnya Sang Arjuna. Sang Arjuna yang juga disebut Sang Dananjaya yang berasal dari Dana dan Jaya yang artinya tulus iklas. Angka 1000 diambil dari angka Samkhiya adalah mengembalikan unsur Panca Maha Butha dari alam Bhur Loka ke Swah Loka (kehadapan Sang Pencipta).
Di bagian lain juga ada mohon toya pemanah (Toya Manah). Yakni, air minum yang diminta oleh Rsi Bisma diberikan oleh Duryudhana mempergunakan sebuah Kundi Manik sebagai simbul indriya, ditolak oleh Rsi Bisma sebagai simbol penolakan indria (tidak lagi ngulurin indria). Lalu, minta kepada Arjuna, digunakan sebuah anak panah (manah yang artinya intuisi, juga keneh, suara hati), dan air muncrat dari tanah (air klebutan).
“Ini merupakan dasar filosofi Manah Toya. Tirta Pemanah artinya toya berasal dari sindhu atau Hindu atau windhu yang artinya kosong atau sunya. Pemanah yang berasal dari pe dan manah, yang berarti alam pikiran. Jadi, Tirta Pemanah dimaksudkan untuk mengembalikan Panca Maha Butha berdasar ketulusan hati,” beber Ida Pandita Mpu Daksa Charya Manuaba.
Sementara tiga anak panah sebagai bantal Rsi Bisma sebagai simbul leluhur, juga mengandung makna gegalang pisang kayu dan pis bolong 250 kepeng.
“Air untuk membersihkan badan diminta kepada Duryudana, diberikan menggunakan tempayan emas, tapi ditolak. Ini sebagi simbol penolakan segala gemerlap duniawi,” ulasnya.
Dikatakannya, Arjuna menggunakan dua panah, dipanahkan ke atas kemudian panah pertama jatuh di atas kepala Resi Bisma, dan panah yang satunya lagi jatuh di kaki. Oleh karena itu, lanjutnya, pembersihan harus dimulai dari kepala.
“Dari sini diambil filosofi Toya Penembak yang diambil dari Campuhan pada tengah malam tanpa lampu (gelap) dan diambil oleh sanak keluarga. Maknanya sebagai sarana pamrelina mantuk maring Sangkan Paran dan untuk menetralisasi awidyanya sang lampus,” bebernya.
Selanjutnya, Tirta Penembak untuk memutuskan agar terbentuk jalan ke Sunya Mertha. Menjelang menghembuskan nafas terakhir Rsi Bisma berpesan kepada Arjuna agar jasadnya dibakar menggunakan senjata Geni Astra yang disimbulkan sebaga tirta pangentas, untuk memutuskan dan menghilangkan tresna agar kembali kepada kekuatan amertha, yaitu ke Siwa Merta. Dan, senjatanya Dresta Jumena adalah pelukatan. Dresta berarti sima juga adat. Sedangkan Jumene berarti jumeneng atau dikukuhkan sebagai pedoman.
“Page yang dipakai untuk pebersihan menggunakan paga karena badan Resi Bisma tidak menyentuh tanah melainkan ditunjang oleh panah. Penggunaan page dan leluhur merupakan ciri unsur bhur, bwah, swah loka,” kata Ida Pandita Mpu Daksa Yaksa Charya Manuaba yang juga pengurus Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia masa bhakti 2016-2021.
Editor : I Putu Suyatra