BALI EXPRESS, DENPASAR - Ngereh biasanya berhubungan dengan upacara sakral berupa Pasupati, Ngatep, dan Mintonin. Ngereh artinya memusatkan pikiran, dengan mengucapkan mantra dalam hati, sesuai dengan tujuan yang bersangkutan. Pasupati artinya kekuatan dari Dewa Siwa. Ngatep artinya mempertemukan, dan Mintonin adalah Bahasa Jawa Kuna yang artinya menampakkan diri.
Ngereh didahului dengan sebelumnya melaksanakan tiga tingkatan upakara, seperti Prayascita dan Mlaspas, Ngatep dan Pasupati, Masuci dan Ngerehin. Pengertian ketiga tingkatan upacara sakralisasi proses Ngereh Petapakan adalah tingkat Prayascita dan Mlaspas.
“Tujuan dari upacara ini adalah untuk menghapuskan noda, baik yang bersifat sekala maupun niskala yang ada pada kayu dan benda lain yang digunakan untuk pembuatan Petapakan Betara Rangda,” ujar penulis soal keagamaan I Nyoman Supatra kepada Bali Express (Jawa Pos Grout), Kamis (9/3).
Lebih lanjut dijelaskannya, noda ini dapat saja ditimbulkan oleh sangging (seni ukir) ataupun bahan itu sendiri. Dengan upacara Prayascita diharapkan kayu atau bahan itu menjadi bersih dan suci serta siap untuk diberikan kekuatan. Upakara tersebut dihaturkan kehadapan Sang Hyang Surya, Sang Hyang Siwa, dan Sang Hyang Sapujagat.
Ngatep dan Pasupati dapat dilakukan oleh pemangku (orang suci) dan sangging (seni ukir). Dengan upacara ini terjadilah proses Utpeti (kelahiran) terhadap Petapakan Betara Rangda. Mulai saat itu dapat difungsikan sebagai personifikasi dari roh atau kekuatan gaib yang diharapkan oleh penyungsungnya (pemujanya).
Tingkat Masuci dan Ngerehin, merupakan tingkat upacara yang terakhir dengan maksud Betara Rangda menjadi suci, keramat dan tidak ada yang ngaletehin (menodai). Tujuan upacara adalah untuk memasukkan kekuatan gaib dari Tuhan. Dengan demikian diharapkan Petapakan Betara Rangda mampu menjadi pelindung yang aktif. Upacara ini biasanya dilakukan pada dua tempat, yaitu di pura dan di kuburan. Apabila dilakukan di kuburan yang dianggap tenget (angker), maka diperlukan tiga tengkorak manusia yang berfungsi sebagai alas duduk bagi yang memundut (mengusung). Begitu pula bila dilakukan di pura, maka tengkorak manusia dapat diganti dengan kelapa gading muda. “Upacara ini biasanya dilakukan pada tengah malam, terutama pada hari-hari keramat seperti hari kajeng kliwon menurut kalender Bali,” terangnya.
Sebagai puncak keberhasilan upacara ini adalah adanya kontak dari alam gaib, yaitu berupa seberkas sinar yang jatuh tepat pada pemundutnya (pengusungnya). Si pemundut (pengusung) yang kemasukan sinar itu akan dibuat kesurupan (trance) dan pada saat itu pula si pemundutnya (pengusungnya) menari-nari. Kejadian lain yang menandakan upacara ini berhasil adalah apabila Petapakan Betara Rangda bergoyang tanpa ada yang menyentuhnya.
Jadi ritual Ngereh itu adalah peristiwa kesurupan, yang sengaja dibuat untuk membuktikan bahwa 'topeng' yang diupacarai sudah memiliki kekuatan gaib (mapasupati) untuk keselamatan masyarakat penyungsungnya (pemujanya).
Tempat pelaksanaan ngereh biasanya di tengah-tengah setra (kuburan) pada hari tilem (gelap) dan hari keramat di malam hari. Jam pelaksanaannya sekitar jam dua puluh tiga yang diawali dengan matur piuning (pemujaan), ngaturang caru (menghaturkan sesajen yang ditaruh di atas tanah ) dan nyambleh kucit butuhan (memotong babi jantan yang masih muda).
Orang yang ditugaskan ngereh duduk berhadapan dengan Petapakan . Di antara orang yang ngereh dengan Petapakan itu ditempatkan upakara, yang pokok adalah getih satu temelung (darah dari babi jantan) yang ditaruh pada takir (daun pisang). Pengereh bersemedi, sedangkan rekan-rekannya yang lain berjaga-jaga di sekitar setra (kuburan). Malampun bertambah larut . Suasana magis mulai terasa ditambah desiran angin semilir membuat bulu kuduk berdiri.
Untuk menjadi Pengereh diperlukan kesiapan mental, keberanian dan kebersihan pikiran dan badan, serta yang paling penting adalah lascarya (pasrah, tulus, ikhlas). Tidak boleh sesumbar atau menambah serta melengkapi diri dengan kekuatan-kekuatan lainnya seperti sasabukan (jimat kesaktian). Adanya benda-benda asing di luar kekuatan asli yang berada di badan akan mengganggu masuknya kekuatan Ida Bhatara.
Gegodan (gangguan niskala) mulai mengetes keteguhan hati pengereh, apakah dia akan bisa bertahan dan berhasil atau malah kabur yang berarti gagal. Beberapa jenis gegodan, yakni semut yang mengerubuti sekujur tubuh pengereh, dan semut ini besar-besar, jika tidak tahan maka pengereh akan menggaruk-garuk seluruh tubuhnya, maka gagallah dia. Nyamuk yang menggigit serta menyengat muka sampai terasa sakit, rasa-rasanya muka akan hancur. Jika tidak tahan, pengereh akan mengusap atau menepuk-menepuk mukanya dan gagallah dia. Sekalian itu, biasanya ular besar yang melintasi paha pengereh bergerak perlahan yang membuat geli, dingin dan mengerikan. Jika pengereh geli, ketakutan maka gagallah dia. “Celeng (babi) yang datang menguntit pantat pengereh yang sedang khusuknya bersemedi, dan jika takut dan merasa terusik, gagallah si pengereh itu,” tuturnya.
Angin semilir yang membawa Aji sasirep, jika tidak waspada akhirnya ketiduran, dan juga gagallah dia. Kokok ayam dan subuh/ galang kangin (Bahasa Bali), artinya suasana hari mendekati pagi diiringi dengan ayam berkokok. Jika Pengereh terpengaruh dan menghentikan semedi karena merasa hari sudah pagi, maka gagallah dia. 'Bikul nyuling' (tikus meniup seruling) menggoda, sehingga membuat si pengereh tertawa karena lucu melihat tikus meniup seruling, maka gagallah dia. Dan, masih banyak lagi godaan lainya.
Kalau yang disampaikan tersebut adalah kegagalan ngereh, maka keberhasilannnya adalah ditandai dengan adanya gulungan api, atau tiga bola api yang datang menghampiri, kemudian masuk ke petapakan Ida Betara Rangda. Jika sudah masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda, ditandai dengan menjulurnya lidah Petapakan Ida Betara Rangda yang semula di atas kepalanya kemudian turun berjuntai mengarah ke takir (daun pisang ) yang berisi getih temelung (darah babi jantan) dan menyedotnya sampai habis. “Selanjutnya si pengereh akan karauhan (trance), kemudian masuk ke Petapakan Ida Betara Rangda dan ngelur (berteriak) menggelegar, dan akhirnya tangkil (datang) ke Pura Dalem, permisi lanjut menuju pura tempat payogan (persemadian) Ida Betara Durga,” tutup Supatra.