BALI EXPRESS, DENPASAR - Darah adalah salah satu persembahan dalam konteks tantrayana. Dalam Durga Puja, ada lima paripurna Durga-Murti yang semuanya memiliki kekuatan astral yang terserap dalam susunan alam semesta.
Ketentuan darah termuat dalam lontar Purwa Gamasasana yang menyatakan bahwa kekuatan itu dinyatakan sebagai 'Panca Durgha', yakni Kala Durgha, Durgha Suksmi, Sri Durgha, Sri Dewi Durgha, Sri Aji Durgha. Lima macam Durgha ini menguasai lima arah angin dan setelah dilebur segala bentuk kekotoran, akan mendapatkan kemakmuran.
Kehidupan ini dalam bingkai Tantra (sebagai pemuja Durga/ Ibu Dewi) terdiri dari konteks 'memiliki'. Maka yang hidup, baik sekala dan niskala, memiliki darah, memiliki daging, memiliki air, memiliki air susu dan memiliki tetabuhan. “Semua hal itu, diperlukan dalam kehidupan. Seseorang tidak akan hidup tanpa darah, daging, air, susu dan sedikit tetabuhan,” ujar penulis soal keagamaan, I Nyoman Supatra.
Dijelaskan lebih lanjut, setiap bangunan palinggih, petapakan, pelawatan, ketika diupacarai dan maplaspas, akan diguratkan arang, darah, dan daging. (dalam beberapa tradisi, palinggih hanya diguratkan base dan pamor, sebagai pengganti daging dan darah). Tetapi, esensinya adalah sama, ingin sebuah kehidupan. Bentuk Palawatan Barong dan Rangda, ketika melakukan upacara menghidupkan atau sakralisasi yang memohon anugerah alam semesta agar berkenan mendiami, akan memerlukan sarana berupa darah, sebagai esensi dari kehidupan.
Dalam persembahan berupa kucit butuan, maka darah yang didapat akan ditempatkan dalam sebuah wadah takir. Darah itu adalah sebuah persembahan sekaligus refleksi kekuatan alam semesta yang menopang kehidupan. Darah itu juga merupakan elemen pengantar kekuatan, dari transeden menuju madia yang immanen atau materi. Namun, dalam konteks yang sesuai dengan sastra.
Akan berbeda arti, ketika seseorang menumpahkan darah ayam atau kelinci ke atas banten pesucian, maka banten itu tidak lagi patut untuk dipersembahkan. Sebab, difinisi darahnya sudah berbeda. Jadi, darah kucit yang ditempatkan dalam takir sebagai persembahan dalam ngereh, adalah refleksi kekuatan. “Sedangkan jika darah menetes tanpa konsep jelas dan indik-indik yang jelas, maka itu mengotori persembahan,’ tutup Supatra.