BALI EXPRESS, GIANYAR - Selain soal keberadaan Pura Musen, keberadaan Batu Pajenengan di areal Pura Musen di Desa Pakraman Blangsinga, Gianyar, Bali, tepatnya di bagian tengah Tukad Petanu pun sampai saat ini masih menjadi keyakinan masyarakat setempat.
Di Batu Pajenengan yang menjadi tempat Danghyang Nirartha (tokoh utama Hindu di Bali) masiram tersebut, sejak dulu menjadi tempat bagi seorang anak bayi yang hendak melaksanakan upacara ngayehang dan petik rambut (megundul).
Termasuk bagi masyarakat yang ingin menghilangkan rambut gempel (gimbal) mereka.
Bendesa Desa Pakraman Blangsinga, I Ketut Karyawan mengungkapkan, adanya keyakinan tersebut memang sudah berlangsung sejak dulu. Keyakinan itu pun terkait dengan kedatangan Danghyang Nirartha ke tempat tersebut, hingga adanya Pura Musen.
Diungkapkan olehnya, untuk anak yang akan melaksanakan otonan kedua dan dilanjutkan dengan upacara petik rambut.
“Jadi. ketika anak yang belum petik rambut kan tidak boleh ke Pura. Namun ketika sudah duang otonan, maka ada upacara ngayehang. Upacara ini istilahnya pembersihan kotoran pada anak tersebut, setelah kelahirannya itu. Jadi upacara ngayehang ini juga ada upacara petik rambut tersebut, " terangnya.
Setelah itu, lanjutnya, rambut anak tersebut dibungkus tipat blayag.
"Kemudian tipat blayag yang di dalamnya berisi rambut diisi batu pebaat, lanjut dibuang di sungai, tepatnya dibawah Batu Pajenengan tersebut,” sambungnya.
Upacara ini pun dia akui sudah berlangsung sejak dahulu, dan terus dilakukan masyarakat Desa Pakraman Blangsinga secara turun-temurun.
Bahkan, dia mengatakan, tidak hanya masyarakat Blangsinga saja yang melakukan upacara tersebut, tapi juga ada yang berasal dari beberapa daerah di Bali.
Ditanya mengenai pantangan waktu pelaksanaan upacara ngayehang dan petik rambut tersebut, Karyawan memastikan, upacara ngayehang tidak mengenal waktu. Artinya, ketika ada anak yang akan melaksanakan upacara duang otonan, maka upacara ngayehang tersebut bisa dilaksanakan.
“Tapi, biasanya, untuk kelengkapan banten, keluarga yang anaknya akan melaksanakan upacara ini lebih dulu bertanya ke pemangku di sini. Terkait dengan sarana bebantenan yang akan digunakan. Sehingga saat upacara, tidak ada kekurangan bebanten dan sarana yang lainnya,” paparnya.
Selain upacara ngayehang untuk anak yang memasuki otonan kedua. Upacara ini juga biasanya dilakukan masyarakat yang memiliki rambut gempel. Bahkan, masyarakat yang memiliki rambut gempel yang melaksanakan upacara ini tidak hanya dari Gianyar, tapi juga dari daerah lainnya di Bali.
“Dan, itu sudah terbukti. Artinya ketika rambut mereka yang sebelumnya gempel, dan mengikuti ritual ngayehang tersebut, pada akhirnya rambutnya tumbuh baik. Tidak gempel lagi,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra