BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Batu bukanlah benda yang asing ditemukan di sungai. Namun tak jarang ada beberapa batu yang bentuknya unik dan dipercaya masyarakat setempat memiliki cerita unik di baliknya. Seperti salah satu batu yang ada di Sungai Ayung, tepatnya di Banjar Karangdalem I, Desa Bongkasa, Abiansemal, Badung. Batu tersebut memiliki ceruk di atasnya, sehingga disebut ‘Batu Lesung’ oleh masyarakat setempat.
Keberadaan Batu Lesung di sungai terbesar di Bali tersebut diduga terbentuk secara alami. Namun demikian, ada berbagai cerita mistis seputar manfaat batu berbentuk oval tersebut, khususnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Penasaran dengan informasi tersebut, Bali Express (Jawa Pos Group) langsung mendatangi lokasi, Minggu (12/3) lalu.
Sejumlah penduduk yang ditemui di Desa Karangdalem I mengakui keberadaan batu unik tersebut, pun seputar kisah-kisah mistis di baliknya. Untuk mencapai lokasi, Bali Express (Jawa Pos Group) diberikan petunjuk ke lokasi. Dari jalan raya harus menuruni ratusan anak tangga hingga tiba di bibir Sungai Ayung.
Kebetulan saat itu adalah rahinan purnama. Tak lama kemudian, pemilik lahan tempat Batu Lesung tersebut berada, Wayan Nantiyasa datang ke lokasi. Ia pun sempat menanyakan kedatangan Bali Express (Jawa Pos Group).
Dengan ramah, Nantiyasa yang menggunakan pakaian adat Bali tersebut menyilakan untuk mengikuti dirinya ke sepetak tanah datar di pinggir Batu Lesung tersebut. Di petak tanah yang berukuran sekitar 8x4 meter tersebut ada satu asagan (sejenis meja bambu untuk ritual). Ia pun mengambil air yang keluar dari sela-sela bebatuan untuk dijadikan tirtha. Selanjutnya ia sembahyang dengan canang di asagan tersebut dan di Batu Lesung.
Usai sembahyang, Nantiyasa mulai menuturkan mengenai keberadaan tempat tersebut serta asal-usul dirinya melakukan perawatan. Pria berusia 40 tahun itu bercerita, sekitar tiga tahun lalu bibinya yang tinggal di Sumatera sakit. Bibinya itu kemudian pulang ke Bali untuk berobat. “Sakitnya aneh, seperti orang gangguan jiwa,” ujarnya.
Ketika dirawat di rumah sakit, tiba-tiba sang bibi seperti orang katakson atau karauhan (trance). “Ketika saya pegang, dia minta ampun. Kemudian dia menggeram-geram seperti suara macan dan mengatakan rencangan dari pura kaja kauh,” ungkapnya. Nantiyasa kemudian diminta membersihkan pemandian yang ada di sana. “Saya bilang, mana mungkin? Itu kan milik banjar. Tapi dikatakannya yang sebelah selatan, tepatnya tempat ini,” imbuhnya. Tak lama kemudian sang bibi sadar. Nantiyasa yang tidak mengerti hal-hal gaib pun meragukan hal itu. Oleh karena itu, ia kembali bertanya kepada sang bibi soal ucapannya barusan. Namun, sang bibi mengaku tidak ingat.
Setelah kejadian itu, Nantiyasa yang masih tidak percaya terhadap hal-hal berbau magis mulai mengalami kejadian-kejadian di luar nalar. “Saya seperti berhalusinasi, yakni bisa melihat hal-hal yang aneh-aneh seperti mahluk gaib,” ujarnya.
Beberapa contoh mahluk yang dilihatnya seperti mahluk yang cantik dan tampan berparas dan berpakaian seperti dewa-dewi dan bidadari. Bahkan, di tempat datar tersebut ia melihat sebuah bangunan seperti kerajaan. “Ada salah satu dewi yang katanya beliau bernama Ida Bhatara Sri Sedana Mulet. Ida Bhatara Sri Sedana itu kan pemberi anugerah kesuburan dan kemakmuran. Mulet itu artinya semua rejeki berkumpul di Batu Lesung itu,” ungkapnya.
Mengalami hal itu, Nantiyasa pun mulai khawatir terhadap dirinya. “Saya kan tidak siap. Saya berpikir bahwa saya mulai tidak waras alias gila. Itu seperti mimpi, tapi nyata,” ujarnya. Bahkan, dikatakannya ada satu sosok kakek-kakek yang selalu mengikutinya saat sembahyang hingga ke Pura Besakih. Kakek tersebut tidak pernah bicara kepadanya, tapi entah bagaimana Nantiyasa mengerti dengan maksud kakek tersebut. “Dia tidak bicara atau berbisik. Kalau bicara atau berbisik kan lewat telinga. Tapi ini seperti sulit saya menjelaskannya,” imbuhnya. Ia tidak kenal dengan sosok kakek-kakek tersebut, namun ia menduga sebagai salah satu leluhurnya, karena sangat akrab.
Lama-kelamaan, Nantiyasa makin merasa aneh. Setiap rahinan tertentu, seperti kajeng kliwon ia tidak bisa tidur. Bahkan, badannya terkadang bergerak sendiri seperti melakukan yoga. Yang makin aneh, adalah tangannya seperti memiliki jiwa sendiri. Tangannya tiba-tiba bisa bergerak untuk memijit. Suatu ketika saat menyetir, tangannya seperti bergerak sendiri dan memencet bel. “Ternyata saat itu benar ada kendaraan yang hampir menabrak saya,” ungkapnya. Selain itu, dirinya mulai tidak suka terhadap hal-hal yang kotor dan berantakan, seperti makanan dan tata cara berpakaian. Pun dirinya rutin sembahyang, karena jika tidak, maka akan merasa seperti kotor dan sakit.
Pria yang kini menggeluti usaha florist di daerah Jimbaran itu pun sempat melakukan penolakan terhadap hal yang dialaminya. “Saya berusaha melawan diri saya sendiri. Saya ingin biasa-biasa saja, karena takut dianggap aneh oleh orang lain, tapi tidak bisa,” jelasnya. Ia juga sempat mendatangai orang pintar untuk bertanya ikhwal dirinya, namun orang pintar tersebut mengatakan Nantiyasa baik-baik saja. Justru dikatakannya Nantiyasa dilindungi kekuatan gaib yang amat besar, sehingga tidak bisa diterawang.
Setelah sekian lama ia mulai sadar bahwa dirinya diarahkan ke hal yang baik. Akhirnya, pria yang menolak dipanggil dengan sebutan ‘jro’ tersebut perlahan memahami dirinya. Namun demikian, ia tetap merasa dirinya belum pantas disucikan. “Saya kan bukan pamangku, bukan juga balian. Saya hanya orang biasa. Bahkan, saya tidak hafal mantra-mantra, tapi hanya tahu Tri Sandhya saja,” akunya.
Setelah didalaminya, ternyata Batu Lesung tersebut memang sudah dikeramatkan masyarakat dari dulu. Pun almarhum kakek dan paman Nantiyasa adalah seorang balian yang terkenal dan menggunakan tempat itu untuk melakukan pengobatan. Ia pun mulai mengumpulkan informasi terkait keberadaan batu unik dan tempat tersebut. Mengenai nama tempat tersebut, Nantiyasa mengatakan bernama Taman Beji Bhuana Sari, sedangkan Batu Lesungnya bernama Ketung Pangasari, karena memberikan berkah. “Sebenarnya waktu paman saya masih hidup, saya sempat diajak ke sini dan saya bertanya fungsi tempat ini. Tapi saat itu beliau berkata tidak berwenang menjelaskan, karena berkaitan dengan rahasia alam. Biarlah suatu nanti saya memahaminya sendiri,” terangnya.
Dengan demikian, ia berencana melakukan penataan terhadap tempat tersebut sehingga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Ia mengatakan ingin membuat pancuran untuk tempat malukat, sehingga siapapun bisa datang ke tempat tersebut untuk membersihkan diri atau meditasi. “Saya memang tidak begitu mengerti dengan hal-hal gaib, namun secara logika air kan bisa membersihkan diri kita. Selain itu, bisa juga untuk terapi. Saya yakin Tuhan itu satu dan berada di mana-mana. Mungkin saja ada orang yang cocok dengan tempat ini. Ketika mereka datang untuk malukat, ternyata bisa sembuh dari penyakitnya,” paparnya.
Saat ini Nantiyasa mulai belajar tentang ajaran agama Hindu lebih dalam. Ia tidak mau nantinya justru dirinya tersesat dan justru melakukan hal-hal negatif dengan berbagai pengalaman yang dialaminya. “Jangan sampai saya salah jalan. Semoga Tuhan dan leluhur senantiasa membimbing saya,” pungkasnya.