BALI EXPRESS, ABIANSEMAL - Punya upacara pernikahan atau kematian, warga wajib matur piuning (mohon izin dan restu, Red) di Pura Dalem Dasar di Desa Sibanggede, Abiansemal, Badung. Kalau tidak, beragam rintangan akan datang.
Pura Dalem Dasar diyakini berawal dari Kerajaan Mengwi yang berkuasa di Badung. “Zaman dulu pura tersebut merupakan paica (hadiah) dari Raja Klungkung Ida Dewa Agung Made kepada Kerajaan Mengwi. Dikarenakan di sana tidak ada tempat, maka dipilihlah daerah Desa Sibang,” papar
pemangku Pura Dalem Dasar, Mangku I Gusti Agung Gede Mertasana kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di rumahnya Puri Agung Sibanggede, Desa Sibanggede, Kecamatan Abiansemal, Badung, akhir pekan kemarin.
Berdasarkan sejarah Pura Dalem Dasar yang terdapat dalam Babad Dalem, disebutkan juga sebagai panyawangan (pengantar) dari Sibanggede ke Pura Dalem Denpasar yang ada di Klungkung. Dikarenakan keterbatasan waktu untuk menuju pura pusatnya, lanjutnya, maka dibuatkanlah juga Pura Dalem Dasar di Sibanggede. Selain dikarenakan permasalahan yang ada di kerajaan pada waktu tersebut.
Mangku Mertasana mengatakan, sejak awal letak pura memang berada di utara Pasar Desa Sibang, sehingga masyarakat setempat juga menyebut pura dengan Pura Denpasar. Den berarti daja (utara) dan Pasar merupakan tempat transaksi barang dagangan. Ia juga mengatakan Desa Sibang merupakan desa tua bersejarah, baik dalam kewilayahan maupun terkait keagamaan. “Kata Sibang itu namanya terlahir dari tanaman bunga Kembang Sepatu yang ada di desa ini. Sebab bunganya yang tidak pernah layu dan mekar terus, maka diberikanlah desa ini sebutan Sibang yang berarti terus menyala dengan warna merah,” papar Mertasana.
Pura Dalem Dasar, lanjutnya, sangat berkaitan dengan kehidupan warga setempat. “Setiap pelaksanaan upacara pernikahan dan kematian disarankan matur piuning. Sebab, pengantin dan jenazah pantang melintasi pura tersebut. Jika pantangan itu dilanggar sudah terbukti akan ada suatu kapiambeng (masalah) dalam prosesi maupun selesai prosesi tersebut,” urainya.
Sampai saat ini, lanjut Mertasana, tidak ada yang berani melanggar pantangan yang berlaku di Pura Dalem Dasar. Sebelumnya pernah ada yang tidak menuruti pantangan tersebut saat menikah, yang mengakibatkan pasangan tersebut bercerai. “Orang bersangkutan malah masih ada hubungan keluarga dengan saya. Sudah dikasi tahu malah tidak percaya, ya sekarang buktinya mereka sudah bubaran beberapa bulan setelah menikah,” ungkap pria pensiunan PNS Pemprov Bali tersebut.
Selain orang menikah, pengusungan mayat juga tidak pernah melintas di depan pura. Warga akanmemilih jalan alternative untuk mengusung myat ke pemakaman atau kuburan.
Dikatakannya, dulu sempat ada yang mengusung jenazah melintasi pura. Tepat saat berada di depan pura, eketika bade yang digunakan mengusung mayat tidak bisa diangkat. Itu terjadi ketika ia belum menjadi pemangku. Bertalian dengan kejadian itu, keluarga yang meninggal mohon guru piduka (mohon maaf) di pura. Setelah itu, lanjutnya, barulah bade tersebut dapat diangkat dan dibawa ke setra untuk dibakar. “ Semenjak kejadian itu, tidak ada lagi yang berani membawa jenazah melintasi pura. Itu berlaku hanya untuk warga Sibang,” paparnya.
Lantaran pura yang terletak di tengah-tengah pemukiman warga, terkait pantangan, pengantin dan pengusung bade harus berbalik arah. Terlebih jika memiliki rumah tepat berada di dekat pura harus mencari jalan alternatif bisa mencapai dua hingga tiga kilometer. “Hal itu sering dilakukan oleh warga Sibang, dikarenakan ingin menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi,” ujarnya.
Ditambahkannya, lokasi pura dahulunya merupakan hutan yang seram dan angker. Sehingga sangat jarang dikunjungi warga setempat. Krama yang berada di luar Sibang, bila belum pujawali tidak ada yang berani masuk ke dalam areal pura sendirian. Selain dikenal angker oleh masayarakat, juga sangat rawan ada binatang buas. “Kalau Ngaben orang di puri saja tidak berani melintasi pura. Padahal, jika ingin ke setra hanya tinggal beberapa meter saja. Tetapi karena tidak berani melanggar pantangan tersebut, ya harus belok lagi untuk memutar jalan, supaya tidak melintasi pura demi kelancaran upacara,” papar Mangku Mertasana.
Selain pantangan, Mangku Mertasana juga mengaku sering mendengarkan suara gemuruh ketika sembahyang. Suara yang misterius tersebut seakan ada di belakangnya ketika menutup mata. “Saat saya menutup mata ketika sembahyang seperti ada suara gemuruh beserta getaran di belakang saya. Tetapi ketika dilihat ke belakang tidak melihat apa-apa. Memang ada rasa percaya dan tidak percaya, namun saya alami sendiri,” jelasnya.
Selain dirinya, Mangku Mertasana mengaku iparnya juga sempat merasakan hal yang sama ketika sembahyang. Hal itu bisa terjadi, lanjutnya, bisa cihna atau tanda rencangan pura tedun. Di samping enenrgi patung yang ada di tengah-tengah penataran pura yang menghadap ke palinggih gedong panyimpenan.
Mangku Mertasana mengatakan, patung itu merupakan pesan dari pangayah yang menjadi pemangku sebelumnya. Ia menyebutkan sebagai Mangku Lingsir, karena mangku tersebut juga sebagai balian pada waktu itu. Dalam pesan terakhirnya sebelum meninggal dunia, sempat berpesan agar patung dilinggihkan di tengah pura. “Karena pesannya seperti itu, maka dibuatkanlah sebuah patung tepat berada di tengah-tengah pura. Selain menjalankan pesan dari Mangku Lingsir, itu juga sebagai rasa bhakti pangayah kepada leluhur Trah Dalem,” imbuh Mangku Mertasana.
Keunikan lainnya?
Di Pura Dalem Dasar, lanjutnya, diyakini sebagai tempat mohon berkah untuk keturunan anak lanang (cowok).
Tahun lalu, Mangku Mertasana didatangi oleh pamedek yang sebelumnya nunas keturunan lanang yang mengaku permohonannya sudah dikabulkan. Mereka datang kembali untuk menghaturkan bhakti kembali karena permohonannya terkabulkan. “Mereka datang hanya diam saja, tidak bilang tujuannya apa. Ketika sudah terkabulkan, baru mereka bilang apa yang mereka dapatkan setelah nunas di sini,” imbuh Mangku Mertasana.
Pada tempat berbeda, salah seorang warga,Ida Ayu Raka mengaku di kawasan pura sering terdengar suara binatang buas ketika mencari kayu bakar di sekitar pura. “ Dulu kan masih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Ya harus mencari kayu sebelumnya, dan kayu yang bagus-bagus itu banyak ada di dekat pura. Tetapi karena situasi seperti itu, saya tidak bernai, apalagi saat siang hari berada di sana suasananya sudah seperti menjelang petang,” jelasnya.