BALI EXPRESS, TABANAN - Selain Tari Baris Memedi dan Rejang Ayunan yang memiliki nilai magis, Tabanan juga memiliki Tari Andir. Sebagian besar orang masih asing dengan tarian satu ini, meskipun sejak dulu sudah dipentaskan di sejumlah tempat untuk disuguhkan kepada wisatawan, bahkan hingga ke Amerika Serikat.
Kendatipun dipertunjukkan kepada khalayak, ternyata Tari Andir ini memiliki nilai magis tersendiri. Tari klasik ini selalu bisa membuat penontonnya merinding karena taksu dari tarian dan gamelan yang begitu kuat.
Tari Andir merupakan tari sejenis Legong, bahkan gelungan dan pakaiannya pun sama. Perbedaannya terletak pada gerakan dan lakonnya. Namun sayang, Tari Andir yang berada di Banjar Carik, Desa Tista, Kecamatan Kerambitan, Tabanan ini, hingga saat ini tak satu pun warga yang mengetahui sejarah pasti keberadaannya.
Menurut I Ketut Suandia, salah seorang tetua yang juga anggota Sekaa Tabuh Tari Andir menjelaskan, keberadaan Tari Andir di Banjar Carik sudah ada sejak dahulu kala, namun tak ada yang tahu pasti bagaimana awal mula kemunculan tari tersebut.
Selain karena generasi pada saat itu kini sudah tiada, juga karena tak ada bukti tertulis mengenai Tari Andir tersebut. Namun sepengetahuannya, Tari Andir di Banjar Carik dibangkitkan kembali sekitar tahun 1985. “Kebetulan saat itu mendapatkan respon dari Pak Bandem, dan masyarakat pun mulai menggali jejak keberadaan Tari Andir,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (16/1) kemarin.
Termasuk, kata dia, dengan mencari Men Sana, yang dulu pernah menarikan Tari Andir, namun sudah menikah ke Desa Antap, Selemadeg, untuk menjadi pelatih bagi anak-anak dan remaja di Banjar Carik. “Meskipun bisa menari Andir, Men Sana ini juga tidak tahu bagaimana sejarah keberadaan Tari Andir tersebut,” imbuhnya.
Setelah dibangkitkan kembali, Tari Andir kemudian mendapatkan tawaran menari di Amerika Serikat dengan mengikuti KIAS. Sejak saat itu satu per satu wisatawan asing mulai berdatangan ke Banjar Carik untuk mengetahui lebih dalam mengenai Tari Andir, bahkan Sekaa Tari Andir yang terbentuk kemudian dikontrak selama dua tahun oleh Museum Arma Ubud untuk dipertunjukkan kepada wisatawan.
Meskipun saat itu Tari Andir ini masuk dalam Tari Bebali atau Balihbalihan, namun sejak tahun 1994 hingga saat ini Tari Andir juga difungsikan sebagai Tari Wali yang dipentaskan untuk mengiringi Ida Sasuhunan di Banjar Carik. “Tari Andir sering kali dipentaskan pada acara Telubulanin warga di sini, biasanya kalau ada yang Masesangi," papar Suandia.
Tari Andir, lanjutnya, dimasukkan dalam Tari Wali karena biasa dipentaskan mengiringi Ida Sasuhunan masolah di Pura Dalem, Pura Taman, Pura Batu Belig, dan Pempatan Banjar Carik.
Tari Andir yang dikeramatkan ini diiringi oleh gambelan khusus yang terdiri dari Gender, Gangsa, Kantilan, Klemong, Kempul, Kendang, Kecek, Jublag, Jegog, Klenang, dan Suling. Di mana gambelan ini juga disimpan pada tempat khusus di sebuah ruangan di Pura Pempatan setempat. Begitu juga dengan Gelungan dan pakaian Tari Andir yang diletakkan berdekatan dengan Ida Sasuhunan, Ratu Ayu Lingsir dan Ratu Ayu Anom. Dalam mengiringi Tari Andir, Sekaa Tabuh yang kini dibina oleh salah satu tetua di Banjar Carik, I Wayan Pogog, mengenal hingga 40 gending.
Secara rutin Tari Andir dipentaskan pada Kamis Pon Kuningan di Pura Pempatan, setiap Jumat Wuku Kuningan dipentaskan di Pura Puseh, setiap Kamis Wuku Paang dipentaskan di Pura Prajapati. Kemudian setiap Selasa Kliwon Prangbakat dipentaskan di Pura Batu Belig, setiap Sabtu Kliwon Wayang dipentaskan di Pura Taman, setiap Senin Wage Dukut dipentaskan di Pura Dalem. Uniknya, wisatawan asing sudah hafal akan jadwal tersebut, sehingga tanpa diberitahu mereka akan datang langsung untuk dapat menyaksikan tari klasik ini.
Ditambahkan oleh mantan Mekel Sekaa Andir, I Made Tresna Putra, pada gender yang digunakan untuk mengiringi Tari Andir tertulis tanggal yakni 1937, namun tak ada yang bisa memastikan apakah tahun itu merupakan tahun berdirinya Sekaa Andir pertama atau lainnya. Tapi yang pasti, hingga saat ini gamelan yang digunakan untuk mengiringi Tari Andir tidak pernah berubah. “Paling yang diperbaiki hanya kayu-kayunya, kalau besinya memang begitu sejak dulu. Meskipun ada yang patah, itu dilebur lagi dan dibuat lagi seperti semula dan disesuaikan suaranya,” jelasnya.
Uniknya lagi, para penabuh maupun penari cenderung turun temurun. Misalnya penabuh yang saat ini masih aktif merupakan anak, kakak, atau adik dari penabuh yang sebelumnya, begitu juga penarinya. “Dulu neneknya atau ibunya penari Andir, sekarang anaknya juga menari Andir, penabuh juga begitu, dulu bapak atau kakeknya, sekarang anak sampai cucunya menjadi penabuh Andir. Dan anak-anak sekarang sudah mulai diajarkan gending-gending untuk mengiringi Andir agar tetap ada yang meneruskan, karena penabuh generasi saat ini juga sudah tua-tua,” tuturnya.
Lebih lanjut dijelaskan Tresna Putra, masyarakat Banjar Carik meyakini Tari Andir yang mengiringi Ida Sasuhunan masolah, bersinergi untuk melindungi masyarakat dari berbagai hal negatif yang tidak diinginkan. “Sehingga Tari Andir selalu dikaitkan dengan Yadnya, dan kami percaya keberadaan Tari Andir ini yang memperkuat rasa persaudaraan kami, dan menyatukan kami di Banjar Carik ini dalam toleransi,” pungkasnya.