BALI EXPRESS, TABANAN - Pura Alas Sari Batu Aya di Banjar Wani, Desa Gadungan, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, menyimpan banyak cerita unik dan mistis. Salah satunya adalah, pantang pulang atau keluar dari pura saat ngayah di sana.
Seperti pura pada umumnya, pada Utama Mandala terdapat sejumlah palinggih, yakni Palinggih Ageng atau Palinggih Utama linggih Ida Betara Lingsir, kemudian Palinggih yang ada di atas gundukan bebatuan yang merupakan linggih Ratu Gede Mas Mecaling dan Palinggih Ida Pedanda Sakti, lalu palinggih Ratu Nyoman, Palinggih Ratu Made, Palinggih Rambut Sedana, Padmasana, Palinggih Manik Galih, Palinggih Menjangan Seluang, Palinggih Melanting, Bale Kulkul, Bale Gong, Bale Penyimpenan, dan Puwaregan. Sedangkan pada Madya Mandala terdapat sebuah palinggih dengan batu di atasnya yang disebut Pengampak Lawang yang berada sebelum pintu masuk pura yang berfungsi sebagai penjaga, sehingga sebelum melakukan aktivitas apapun di pura harus meminta izin atau matur piuning di Pengampak Lawang.
“Sejatinya di areal pura ada pohon besar, namun beberapa waktu lalu roboh dan saat kami tanyakan kepada orang pintar ternyata yang malinggih di pohon tersebut berwujud anak lingsir atau Ida Pedanda Sakti sehingga kita buatkan palinggihnya di sebelah Palinggih Ratu Gede Mas Mecaling,” kata Prajuru Pura Alas Sari Batu Aya, I Made Marta, 50.
Di samping itu, pada Palinggih Ratu Gede Mas Mecaling juga ada dua patung berbentuk Naga, konon katanya Naga tersebut wujud ancangan Ida Betara yang ada di pura tersebut. Begitu pun dengan dua patung Macan Tutul yang ada di pintu masuk pura.
Keberadaan pura yang konon katanya sudah ada sejak zaman perang dikuatkan dengan banyaknya pamedek yang tangkil dari berbagai daerah yang jauh dari Tabanan yang datang untuk naur sesangi leluhurnya terdahulu. Di samping itu, percaya tidak percaya , tak sedikit pamedek yang tangkil karena mengalami kabrebehan kemudian mendapatkan petunjuk melalui mimpi untuk tangkil ke pura tersebut.
“Banyak yang tangkil katanya mendapatkan petunjuk di mimpi setelah mengalami kabrebehan,” imbuhnya.
Keunikan lain dari pura ini adalah tidak adanya tembok panyengker yang mengelilingi areal pura. Menurut Juru Sunggi Pura Alas Sari Batu Aya, I Wayan Kodi, 69, hal tersebut memang sesuai petunjuk yang didapatkan ketika bertanya kepada orang pintar. Menurutnya, sebelum melakukan apapun di pura tersebut pihak prajuru pura bersama pemangku dan pangempon pura akan meminta petunjuk secara niskala agar tidak salah langkah.
“Dan, beberapa waktu lalu kami memang sempat berencana akan memasang panyengker di areal pura, lalu kami meminta petunjuk niskala dan ternyata tidak dikehendaki untuk memasang panyengker. Sehingga hanya pepohonan saja yang mengitari areal pura,” paparnya.
Kendatipun tidak berpanyengker tembok, ajaibnya tidak ada binatang yang bisa masuk sembarangan ke areal pura. Aura mistis di Pura Alas Sari Batu Aya ini juga sangat terasa ketika baru memasuki arealnya. Namun, dengan aura tersebut banyak pamedek yang tangkil dan melakukan meditasi di pura ini.
“Banyak yang datang untuk meditasi, namun yang niatnya buruk pasti akan mengalami hal-hal tidak enak di sini. Kalau niatnya memang tulus dipastikan akan menjalani meditasi dengan lancar,” imbuhnya.
Di samping itu, sudah menjadi suatu hal yang dipercaya jika mulai pukul 11.00 sampai pukul 13.00 Wita, warga yang melakukan aktivitas di pura, seperti misalnya ngayah menjelang piodalan tidak boleh keluar dari pura, apalagi nekat pulang. Karena berdasarkan pengalaman sudah banyak yang menemui hal-hal aneh ketika nekat pulang pada waktu tersebut, seperti bertemu ular besar dan lainnya.
“Sebagai umat Hindu kita memang percaya ketika jam-jam itu atau pas jegjeg matan ai, kita tidak boleh beraktivitas sembarangan. Nah, sesuai pengalaman memang jam-jam itu pangayah tidak ada yang berani keluar pura, karena dulu pernah ada yang pulang mendahului tiba-tiba bertemu dengan ular besar di jalan, tetapi setelah dilihat ternyata tidak ada,” pungkasnya.
Keajaiban pura yang pujawalinya jatuh setiap Buda Cemeng Kelawu tersebut, juga terlihat dari adanya sejumlah pica yang konon katanya merupakan pemberian dari yang berstana di pura tersebut. Bahkan, salah seorang warga yang sering kali ngayah di pura tersebut pernah mendapatkan pica berupa uang kepeng yang menurut mimpi diberikan oleh yang berstana di pura tersebut. “Percaya tidak percaya sejak saat itu saya bisa memijat,” ujar Ni Nyoman Mertiniasih.
Editor : I Putu Suyatra