BALI EXPRESS, DENPASAR - Tembok Panyengker merupakan salah satu bagian dalam seni arsitektur Bali. Pagar berbahan batu, bata, atau beton yang biasanya dihiasi ornamen senada dengan bangunan yang ada di dalamnya ini, memberikan kesan yang indah. Namun,Tembok Panyengker tak hanya memiliki fungsi secara logis dan sekala, tapi juga niskala.
Menurut Dr. Drs. Ketut Sumadi, M. Par, keberadaan Tembok Panyengker sebagai pagar bangunan menjadi hal yang wajib dalam arsitektur Bali. Secara fisik, Tembok Panyengker menjadi pelindung atau pembatas sebuah areal bangunan. Semisal di pura, keberadaan Tembok Panyengker menjadi sebuah penanda kawasan suci, sehingga secara tidak langsung mengontrol perilaku umat yang ada di kawasan tersebut.
Demikian pula di rumah, Tembok Panyengker memiliki fungsi untuk menandai batas pekarangan rumah, sehingga antara pekarangan dan teba ada batas yang jelas. Termasuk pula batas antara rumah satu dengan lainnya. Tembok Panyengker juga untuk melindungi rumah dari orang asing dan binatang liar, sehingga tak masuk sembarangan.
Keberadaan panyengker, dikatakan Sumadi, tak lepas dari pengaruh arsitektur kerajaan zaman dulu. Salah satunya adalah arsitektur Majapahit yang berkembang hingga ke Bali sekitar abad XI. Selanjutnya di Bali juga berkembang konsep Tri Mandala. Konsep ini membagi kawasan menjadi tiga bagian, yakni Uttama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Tri Mandala ini secara khusus diaplikasikan dalam pembagian areal tempat suci, sehingga dikenal istilah Jeroan, Jaba Tengah, dan Jaba Sisi.
Di Uttama Mandala atau Jeroan adalah pusat dari tempat suci, yang berisi palinggih. Madya Mandala atau Jaba Tengah sebagai tempat berkumpul umat menyiapkan sarana untuk upacara, tempat gamelan, dan sebagainya. Sedangkan Nista Mandala atau Jaba Sisi adalah kawasan semi bebas, yang biasanya digunakan untuk kegiatan pendukung saat upacara berlangsung. Terkadang Jaba Sisi juga dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan saat piodalan.
Sementara, secara lebih luas, konsep Tri Mandala juga untuk mengatur tata kota. Uttama Mandala merupakan kawasan tempat suci atau pura, Madya Mandala kawasan pemerintahan, sedangkan Nista Mandala untuk permukiman. Nah, untuk menandai batas antar kawasan, dibuatlah Tembok Panyengker.
“Pura dan Puri kan sebenarnya berasal dari kata Pur yang artinya benteng. Nah, masyarakat di Bali mengonotasikan Pura untuk tempat sembahyang, sedangkan Puri untuk tempat tinggal bangsawan atau kawasan pusat pemerintahan pada zaman dulu. Oleh karena itu, Tembok Panyengker bentuknya mirip tembok benteng,” ungkap Sumadi kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Rabu (24/1).
Di samping Tembok Panyengker, masyarakat Bali juga mengenal istilah pagehan. Pagehan berasal dari kata pageh, yang dalam hal ini merujuk ke pagar. Lalu apa beda pagehan dan Tembok Panyengker? “Panyengker berasal dari kata Sengker yang artinya batas atau lindung. Panyengker artinya pembatas atau pelindung,” ungkapnya.
Panyengker dalam hal ini, lanjut dosen IHDN Denpasar tersebut, tak hanya dari segi sekala, tapi juga niskala. Oleh karena itu, dalam pembuatan Tembok Panyengker diatur dengan perhitungan arsitektur tradisional Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi. Pun dalam pendiriannya ada sejumlah ritual pasupati atau pangurip-urip, sehingga Tembok Panyengker tersebut dipercaya memiliki kekuatan magis.
“Ada perhitungan dan ritualnya, sehingga Tembok Panyengker tersebut menjadi hidup,” terangnya.
Sedangkan pagehan, lanjut dia, mengarah ke pagar biasa atau pagar yang terbentuk dari tanaman yang ditanam sejajar. Istilah pagehan kerap digunakan oleh masyarakat biasa untuk pagar rumahnya atau pembatas lahan pertanian. Dengan demikian, Tembok Panyengker mengarah ke pagar yang terbuat dari material yang kokoh serta memiliki nilai magis. Sementara pagehan mengarah ke pagar biasa. Namun, dalam perkembangannya, Tembok Panyengker juga diaplikasikan untuk sanggah merajan dan rumah-rumah penduduk.
Mengapa Tembok Penyengker begitu penting? Sumadi yang juga sempat puluhan tahun bergelut dengan dunia jurnalistik mengatakan, ada nilai kearifan lokal di dalamnya. Pertama, kata dia, Tembok Panyengker merupakan bagian dari arsitektur Bali yang memiliki nilai keindahan, selain fungsi perlindungan. Kedua, Tembok Panyengker dipercaya oleh masyarakat Bali memiliki fungsi magis sebagai pelindung suatu area atau si empunya rumah. “Percaya atau tidak, jika dibuat dengan baik dan benar, Tembok Panyengker bisa mendatangkan pengaruh positif dan menangkal hal-hal yang kurang baik, yang berasal dari luar rumah,” terangnya.
Mantan Direktur Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut, tak jarang masyarakat Bali yang mengeluh sakit, jika Tembok Panyengker yang sudah dibuat tak dirawat dan diperlakukan dengan baik. Istilahnya adalah pamalinan. “Misalnya ada pohon yang tumbuh di pekarangan kita dan dahannya menjulur melewati Tembok Panyengker, atau kebalikannya, pohon itu tumbuh di luar pekarangan dan dahannya menjulur ke pekarangan, maka bisa menjadi pamali. Apalagi tanaman itu tumbuh di pekarangan tetangga atau dahannya menjulur ke pekarangan tetangga. Secara logika bisa terjadi konflik, namun menurut kepercayaan, bisa menyebabkan pamali. Jadi pohon itu harus dipotong bagian dahannya,” terangnya.
Dengan demikian, Tembok Panyengker kata dia, fungsinya sangat baik, namun konsekuensinya harus dirawat dan diperlakukan dengan baik pula. Pasalnya, Tembok Panyengker telah dipasupati atau dihidupkan secara niskala. Di samping itu, keberadaan Tembok Panyengker juga memberikan celah atau ruang kosong, baik terhadap rumah, maupun pekarangan orang lain. Keberadaan celah ini juga dianggap baik, karena antara rumah yang satu dengan lainnya tak langsung bersentuhan.
Jika salah satu penghuni rumah memiliki aura negatif atau permasalahan, penghuni rumah sebelahnya tak langsung terdampak. Bahkan, jika dimungkinkan celah kosong itu agar lebar dan berupa ruang terbuka, akan menjadi tempat resapan air yang baik.
Lebih lanjut, disinggung mengenai kawasan perumahan yang semakin padat saat ini dan mengesampingkan keberadaan Tembok Panyengker, ia tak menampik. Menurutnya, tentunya ada konsekuensi hal itu. Sebisa mungkin, kata dia, memang dibuat Tembok Panyengker untuk membatasi pekarangan yang dimiliki. “Namun jika tidak mungkin, bisa disiasati dengan membuat pelangkiran di masing-masing ruangan atau kamar. Tentunya penghuninya juga harus rajin sembahyang dan menjaga perilaku. Dengan aura positif yang besar, tentunya aura negatif yang datang dari luar bisa tertangkal,” tandasnya.