Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mistis Sejak Penulisan, Gambarkan Orang yang Punya Ilmu Pengiwa

I Putu Suyatra • Sabtu, 3 Februari 2018 | 15:00 WIB
Mistis Sejak Penulisan, Gambarkan Orang yang Punya Ilmu Pengiwa
Mistis Sejak Penulisan, Gambarkan Orang yang Punya Ilmu Pengiwa

BALI EXPRESS, DENPASAR - Film Nyungsang yang digarap oleh seniman gabungan dan disutradarai Komang Indra Wirawan (Gases Bali) akan ditayangkan akhir Maret mendatang di Denpasar Cineplex. Film yang diangkat berdasarkan kisah nyata, ini memiliki nilai filosofi terkait ilmu pengiwa (kekebalan). Menariknya, sebelum ditayangkan, film ini sudah melahirkan cerita mistis dari proses penulisan naskahnya.


Sutradara sekaligus penulis naskah film Nyungsang, I Komang Indra Wirawan mengaku dalam menulis ia sangat menjiwai alur ceritanya. “Memang saat menulis itu saya sangat mendalami ceritanya. Bahkan ada saja barang yang jatuh secara tiba-tiba  dan membuat saya kaget. Kadang ada seperti orang yang lewat di belakang saat menulis itu. Ya Astungkara sampai saat ini saya selamat dan segala hal dalam peroses pembuatannya dilancarkan,” jelasnya ketika ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, Jumat kemarin (2/2). 


 


Kejadian mistis tersebut, menurut Indra Wirawan, seolah “memaksa” penulis ikut “masuk” dalam cerita yang sedang ditulis. Sedangkan pemain maupun penari yang ikut shooting juga sering mengalami kejadian aneh. Salah satunya saat pemainnya yang sedang memperagakan makan darah seperti ada firasat yang mistis atau berada di dunia niskala.  


“Ini kan saya baru pertama kali bersama teman-teman membuat konsep seperti ini.  Entah apa itu hasilnya nanti kita nikmati saja. Karena pasti ada saja yang akan mem-bully, komentar dan lain sebagainya. Tetapi kita tidak akan patah semangat. Karena di sini kita ngayah untuk mempertahankan sebuah tradisi dan budaya Bali itu sendiri,” ujar pria yang juga sebagai Jero Dalang tersebut.


Sedangkan sponsor dalam pembuatan film tersebut datang dari Gases Bali dengan IKIP PGRI Bali saja. Untuk pendukung film, dari beberapa dosen yang ada di sana maupun seniman. “Syukurnya teman-teman semua mengerti dengan keadaan. Karena proses pembuatan film itu saja sudah menghabiskan Rp 175 juta di luar penyewaan gedung dan alat-alat,” jelasnya. 


Indra Wirawan juga menjelaskan agar berkarya terlebih dahulu jangan melihat hasilnya. Ketika film tersebut mendapatkan apresiasi yang bagus oleh masyarakat ke depannya ia akan merancang tema yang lain. “Kita tidak tahu tentang dunia film, jadi beberapa harus dipelajari. Bahkan setiap akan melakukan pementasan kita  semua melakukan persembahyangan terlebih dahulu agar diberikan keselamatan,” imbuhnya. 


Pada tempat yang bebeda, salah satu crew pembuatan film ini, I Ketut Sandika mengatakan Nyungsang terdapat dalam lontar pangiwa. Dia mengatakan kebanyakan terdapat perilaku Nyungsang yaitu suatu keadaan yang terbalik pada umumnya. “Nyungsang itu merupakan sebuah pemahaman dengan keadaan pemikiran dan ilmunya terbalik,” terang pria Magister Pendidikan Agama Hindu tersebut. 


Sandika juga mengungkapkan di dalamnya tersebut terdapat tradisi dan kultur yang dikembangkan dalam film Nyungsang ini. Selain itu juga dapat menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki ilmu pangiwa. Bahkan ia juga menegaskan pesan kehidupan tidak boleh mengabaikan dunia niskala. Dikarenakan ada kiri dan kanan yang dikenal dengan istilah rwa bhineda. 


“Dalam tubuh seseorang kan terdapat aksara ongkara, karena ongkara ngadeg dengan Ongkara Nyungsang itu ketika bertemu pada satu titik akan ada sebuah kesadaran. Maka akan ditemui pada hulu hati, yang bisa meleburkan dualitas  dan keharmonisan maupun keseimbangan yang menghasilkan cinta kasih,” terang pria asli Klungkung tersebut. 


 


Pada tempat yang sama, editing vidio, Budi Mahayana mengungkapkan, gangguan paling utama dalam proses pengambilan gambar adalah cahaya. “Saya pribadi tidak merasakan hal mistis seperti apa yang dirasakan oleh rekan saya yang lainnya. Palingan kendala saat di lapangan saja yaitu pencahayaan dan audio saja. Karena pengambilannya kan hanya pada sore sampai malam saja, di samping itu pada tempat shooting juga terkadang banyak suara jadi kurang fokus untuk audionya,” jelas Budi. (bersambung) 

Editor : I Putu Suyatra
#film