Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Kisah di Balik Penciptaan Gerak Penuh Misteri Tari Telek

I Putu Suyatra • Minggu, 4 Februari 2018 | 23:25 WIB
Begini Kisah di Balik Penciptaan Gerak Penuh Misteri Tari Telek
Begini Kisah di Balik Penciptaan Gerak Penuh Misteri Tari Telek

DENPASAR, BALI EXPRESS - Ada alasan khusus yang sebenarnya melatarbelakangi penciptaan tari Telek hingga wajib dipentaskan sejumlah banjar atau desa adat di Bali. Ada kisah menarik di balik gerak yang penuh misteri ini.

Menurut Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni (FPAS) UNHI, Dr. I Made Yudabakti, S.Sp. yang di wawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Senin (8/5/2017) lalu,  menjelaskan bahwa Tari Telek  sebenarnya tertuang dalam lontar Barong Suari.

Dikisahkan, cerita bermula dari kerinduan Batara Siwa kepada Batari Giri Putri (Dewa Uma) yang menghilang dan menjelma ke dunia menjadi Dewi Durga.

Akhirnya, Batara Siwa mengutus para dewata untuk mencari serta membujuk sang dewi agar mau kembali ke Siwa Loka atau sorga.

"Penjelmaan para dewata inilah yang jadi pokok cerita dalam pementasan Telek dan tarian-tarian lain yang menyertainya," jelas Yudabakti 

Lebih lanjut diterangkannya, salah satu dewa yang diutus turun ke dunia adalah Dewa Wisnu.

Dalam pengembaraannya di dunia mencari Dewi Durga, Dewa Iswara pergi ke empat penjuru dunia.

Lakon ini ditarikan dalam empat penari bertopeng putih yang lebih dikenal dengan Telek.

Karena Dewa Wisnu tidak kunjung kembali membawa Dewi Durga ke Siwa Loka, maka Bhatara Siwa mengutus juga Dewa Brahma melakukan pencarian yang ditarikan oleh penari topeng Bang (Jauk) dan Topeng Penamprat.

Dalam pengembaraannya, Brahma dan  Wisnu bertemu, keduanya sama-sama tidak berhasil menemukan sang dewi yang mereka cari. 

Selanjutnya, Dewa Iswara juga turut melakukan pengembaraan ke dunia dengan bentuk topeng ireng yang lebih dikenal dengan sebutan Banaspati Raja (berwujud barong). 

Dalam perwujudannya sebagai Barong, Dewa Iswara melakukan pencarian hingga ke hutan belantara.

Suatu saat, sampailah di sebuah kuburan bernama Setra Gandamayu.

Di sini, Barong melihat Rarung (pengikut Dewi Durga) yang sedang menggelar ilmu hitam untuk menciptakan wabah penyakit di dunia.

Barong sempat bertanya kepada Rarung, tetapi tidak mendapat jawaban karena dia sedang melaksanakan monabrata (puasa bicara) untuk mewujudkan ilmu hitamnya.  

Mendapat perlakuan tidak simpatik seperti itu, Barong marah dan terjadilah perang tanding di antara mereka.

Rarung kalah serta meminta bantuan kepada gurunya, Dewi Durga.

Dewi Durga tampil dalam wujudnya sebagai Rangda dan terlibat pertarungan sengit dengan Barong.

Meskipun kalah, Barong akhirnya mengetahui bahwa Rangda itu sebenarnya Batari Giri Putri atau Dewi Uma yang tengah dicarinya. 

Barong lantas melaporkan 'pertemuannya' itu kepada Bhatara Siwa ke Siwa Loka.

Siwa pun turun ke dunia sebagai Dewa Ludra yang merasuki badan Barong agar bisa bertemu dengan istrinya yang telah menjelma jadi Durga.  

Pertemuan antara Siwa dan Durga pun terjadi dan mereka melepaskan kerinduannya yang membuncah.

Pertemuan ini melahirkan kala (pengaruh-pengaruh negatif) yang ribuan jumlahnya.

Beruntung, Siwa dan Durga cepat tersadar dan mereka pun kembali ke Siwa Loka. Tinggallah kala di dunia.

"Kala yang memenuhi dunia akan mengalahkan atau memakan segala yang ada, termasuk dunia itu sendiri," jelas pria asal Tulikup Gianyar ini. 

Dia menegaskan bahwa pementasan Telek itu merupakan satu-kesatuan dengan tampilnya tokoh Jauk Bang, Penamprat, Barong, Rarung, dan Rangda dalam pementasan. 

Keseluruhan pementasan tersebut nantinya  membangun satu cerita yang utuh, sehingga pementasan tersebut sering disebut Barong Telek. 

Lantas, apakah kaitan atraksi narat atau ngunying (menusuk dada dengan keris) di pengujung pementasan?

"Kehidupan di dunia ini diibaratkan sebagai orang ngunying. Artinya, hidup sama dengan samsara karena tidak mungkin menghindar dari sang kala atau waktu. Lengkap dengan segala kebahagiaan dan penderitaan yang menyertainya," tegasnya.  

Dijelaskannya, tarian di Bali dibagi menjadi tiga jenis, yakni Tari Wali (Sakral), Tari Bebali atau yang dikenal dengan tarian pengiring upakara, dan Tari Bali-Balihan yang identik dengan sebuah tontonan atau hiburan semata. 

Jika mengacu kepada fungsinya, Tari Telek tergolong tarian sakral yang dipentaskan ketika ada acara khusus di sebuah pura atau tempat suci.

Tarian yang menggunakan iringan tetabuhan palegongan ini, biasanya ditarikan oleh wanita dan menggunakan topeng berwarna putih.

"Dapat dikatakan ini merupakan satu-satunya tarian sakral yang ditarikan oleh wanita, namun menggunakan tapel atau topeng dalam pementasannya," ujar Yudabakti.

Dijelaskan lebih lanjut, di beberapa daerah di Bali, tarian ini wajib diitarikan setiap dilaksanakannya upacara. Salah satunya di Desa Jumpai.

Alasan mengapa wajib dipentaskan tidak diketahui secara pasti. 

Tari Telek di Desa Jumpai diperkirakan mulai berkembang sekitar tahun 1935 sampai sekarang. 

"Tarian ini dijadikan pelengkap upacara keagamaan di pura di lingkungan masyarakat Jumpai, " terangnya.

Tari Telek ini, lanjutnya, mempunyai hubungan erat dengan Barong Ket dalam pementasannya yang juga merupakan sasuhunan Desa Jumpai ," tutup Yudabakti.

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #hindu #tari