BALI EXPRESS, DENPASAR - Menjelang pelaksanaan hari suci pengerupukan beberapa sekaa teruna-truni (STT) sudah mulai terlihat membuat ogoh-ogoh. Salah satunya di Banjar Titih, Jalan Sumatra, Dauh Puri Kangin, Denpasar. Para pemuda di sini telah menyelesaikan 40 persen ogoh-ogoh Ratu Gede Mas Macaling. Cuma, ogoh-ogoh dikerjakan oleh tiga STT yang tergabung dalam Rukun Pemuda Pemudi Titih (Rupti) karena memiliki ukuran atau size monster.
Salah satu arsitek ogoh-ogoh, I Made Manik Dewantara mejelaskan ketertarikan mengambil judul tersebut dikarenakan kekaguman manifestasi Ratu Gede sendiri. Selain itu ia juga mengaku hal itu memiliki nilai yang sakral akan membuat semirip mungkin, tetapi tidak menyamakan atributnya seperti rerajahan. “Kami mencoba berani membuat ogoh-ogoh ini karena kekaguman akan manifestasi Beliau yang banyak memberikan anugerah,” jelasnya pada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, Jumat (9/2).
Waktu pengerjaannya Manik mengaku sudah mulai dikerjakan sejak 16 Januari lalu. Sedangkan prosesnya dikerjakan oleh sekaa teruna Ruppti yang berasal dari tiga banjar yakni Titih Kaja, Titih Tengah dan Titih Kelod. Ini dilakukan untuk mempersatukan STT ketiga banjar di sana. Selain itu setiap proses dari perancangan dan pengerjaannya selalu dikerjakan bersama-sama.
Ukurannya yang sangat besar itu memang sengaja dikonsep oleh pihaknya, karena tahun ini tidak mengikuti lomba. Meski demikian Manik memaparkan agar tetap bisa menampilkan sesuatu yang baru untuk masyarakat. Tentuya dengan cara menarik antusias dalam menonton pawai pangrupukan nanti.
Dalam kesempatan itu juga ia menerangkan terdapat beberapa kendala dalam pengerjaannya. Salah satunya tempat pengerjaannya yang kecil sehingga pihaknya memutuskan membuat ogoh-ogoh sistem knock down. “Sekarang sudah berjalan 40 persen, dan pengerjaannya dari pukul 18.00 sampai pukul 01.00. Untuk arsiteknya juga terdiri atas anatomi ogoh-ogoh itu sendiri, sehingga banyak adanya arsitek dan harus diperhitungkan,” tandasnya.
Ketua STT Banjar Titih Tengah, I Putu Septya Setiawan menerangkan ogoh-ogoh yang dibuat oleh anggotanya itu berukuran tinggi 7 meter, dengan panjang 8 meter dan lebarnya 4 meter. Selama proses pembuatan baru pernah diturunkan di depan balai banjar sebanyak dua kali. “Saat kami kelurkan dari balai banjar untuk mengukur anatominya. Bahkan itupun juga knock down supaya bisa memperhitungkan lokasi pembuatan di dalam balai banjar. Untuk dana yang dianggarkan dari STT sendiri Rp 20 Juta,” tegasnya.
Dengan konsep yang bisa dipasang dan dilepas itu dirinya mengaku sangat efisein, sebab tidak mengganggu lalu-lintas. Bahkan untuk pengecetannya ia mengaku tidak perlu karena akan menggunakan kain berudru. Untuk lalu-lintas, jalur itu merupakan utama dan padat kendaran sehari-harinya depab balai banjar digunakan lahan parkir. Sehingga memang dirasakan knock down tersebut memang lebih gampang untuk mengolahnya.
Alasan tiga STT membuat satu ogoh-ogoh tersebut untuk menjalin hubungan yang erat. “Kata lelingsir saya dulunya, Titih ini adalah satu banjar. Mungkin ada pemekaran maka sekarang menjadi tiga banjar. Bahkan saya dipesankan oleh lelingsir di banjar ini, Sing kenken banjar ada telu ne penting pemuda sing dadi pecah (tidak masalah banjar ada tiga, yang penting pemuda tidak pecah, Red),” imbuhnya.
Editor : I Putu Suyatra