BALI EXPRESS, AMLAPURA - Semenjak adanya penyuluh Bahasa Bali yang ditempatkan di masing-masing desa atau kelurahan di Bali, keberadaan lontar di Pulau Dewata semakin terdata. Namun, tak sedikit lontar yang ditemukan dalam kondisi rusak.
Lontar merupakan bagian dari warisan budaya Bali. Sayangnya masih banyak lontar tak terawat di provinsi yang terkenal dengan adat dan budaya ini. Berdasarkan hasil temuan penyuluh Bahasa Bali rekrutan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, banyak ditemukan lontar masyarakat kondisinya memprihatinkan. Selain isinya yang tak bisa terbaca, tak sedikit lontar ditemukan brembeng (robek). Tentu saja fakta seperti ini membuat hati miris.
Padahal, lontar itu sendiri memuat ajaran ketuhanan, ajaran tentang penciptaan alam semesta, termasuk ajaran lainnya. Sebagaimana disampaikan penulis lontar asal Karangasem, Ida I Dewa Gede Catra, jenis lontar itu beragam. Jumlahnya mencapai puluhan. Misalnya ada namanya babad, tatwa, kakawin, parwa, wariga, niti, usada, dan beberapa jenis lontar lainnya. Umumnya, lontar ditulis dengan aksara Bali, yakni mengunakan bahasa Bali, bahasa Kawi atau Jawa Kuna. Dewa Catra sendiri mengoleksi sekitar 110 cakep lontar di rumahnya di Jalan Untung Surapati, Amlapura. Ada juga salinan lontar yang jumlahnya lebih dari empat ribu buah.
Selain melakukan perawatan fisik, lontar milik Dewa Catra ini juga dipasupati agar mataksu. Lontar koleksinya ini juga diupacarai rutin setiap rahina Sarawati. “Perawatan lontar itu harus skala dan niskala. Kalau skalanya, dibersihkan biar tidak rusak, tidak jamuran, karena tidak mungkin membuka semuanya setiap hari. Perawatan niskala dipasupati,” terang Dewa Catra kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (11/5/2017).
Menurutnya, ada banyak hal yang mengakibatkan banyak lontar rusak di Bali. Misalnya saja, karena kurangnya minat generasi muda mempelajari lontar. Selain itu, perawatan yang dianggap sulit hingga masih melekatnya mindset bahwa lontar itu tenget, tidak sembarang orang bisa menyalin atau membacanya yang tersurat dalam lontar. Hal itu, lanjutnya, mengakibatkan lontar hanya disimpan saja. Bahkan, tak sedikit yang lontarnya hanya diupacarai. Dibungkus kasa, tak pernah dibuka, dan tentu tidak tahu isinya. Di sisi lain, lanjut Dewa Catra, ada juga beranggapan bahwa kalau lontar itu dibaca, maka pembacanya bisa gila, atau mendapat musibah lain.
Masih adanya pola pikir masyarakat semacam ini, juga sering disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha, ketika melihat lontar yang tak terawat hanya karena masyrakat takut membuka, khawatir terjadi musibah.
Dewa Catra berpendapat bahwa hal itu tak terlepas dari trik politik. Bisa saja sebagai upaya agar lontar itu tetap aman. Tidak ditaruh di tempat sembarangan. Sehingga, hanya orang-orang tertentu yang tahu isinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Bisa saja tulisan dalam lontar tak teratur, cerita tidak menentu, sulit dipahami. Itu yang bisa bikin pembacanya gila. Gilanya karena tidak mengerti apa yang dibacanya,” seloroh pria asli Desa Sidemen, Karangasem ini.
Lanjut pria yang hasil karya lontarnya banyak disimpan di Museum Leiden, Belanda ini, yang bisa membuat pembaca lontar itu gila, justru karena terlalu bernafsu ingin menguasai ilmu sebagai mana tersurat dalam lontar.
“Misalnya saja lontar usada. Di sana ada ilmu pengobatan. Tidak semudah itu langsung bisa mengobati. Tidak mungkin baru baca langsung bisa ‘terbang’. Kalau keinginannya terlalu tinggi, ini yang dimaksud bisa gila,” imbuh pria kelahiran 1937 silam ini.
Dewa Catra yang juga kolektor keris ini pun mengakui, puluhan tahun menyelami dunia lontar, tak sedikit jenis lontar yang disakralkan pemiliknya ia baca, atas permintaan pemiliknya. Buktinya, tidak pernah terjadi hal-hal buruk hanya karena membaca lontar tersebut. Justru bikin masyarakat sadar. Tidak menduga-duga isi lontar yang dikeramatkan itu. Sering terjadi, ternyata lontar masyarakat yang dibacanya itu tidak sesuai.
Contohnya, ada masyarakat menyebutkan lontar yang disimpannya itu berisi silsilah keluarga, atau ilmu pengobatan, dan tidak sembarangan bisa dibaca. Sehingga lontar itu begitu secret.
“Ada yang bilang isinya tenget. Ternyata cuma soal pangayam-ayam, atau hanya catatan penjualan tanah zaman dulu.
Kan rugi disimpan. Makanya, tak sedikit yang lontarnya diganti,” ungkap mantan guru SD ini.
Yang terpenting, lanjut dia, kalau lontar itu disakralkan, sebelum membukanya memohon petunjuk sasuhunan di mana lontar itu berada. “Analisa saya beda. Kalau masih tulisan, ya, harus dibaca. Sama dengan sebagai pegawai. yen ngelah SK ten baca, napi isine, ten uning,” jelas Dewa Catra yang menyimpan lontar tatwa 1625 masehi ini.
Maksudnya, Dewa Catra mengibaratkan kalau seseorang sebagai pegawai sudah punya SK (surat keputusan), kalau tidak dibaca akan tidak tau apa isi SK tersebut.
Editor : I Putu Suyatra