BALI EXPRESS, DENPASAR - Kerasukan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sakral. Namun, secara metafisika tak menutup kemungkinan kerasukan disebabkan faktor ketertekanan atau stres, selain diakibatkan adanya roh jahat.
Dijelaskan Ketut Gede Suatma Yasa, SH., M. Ag., CHt., MNNLP alias Guru Mangku Hipno, ada istilah karauhan dan kerasukan. Karauhan secara ontologi, lanjutnya, Ida Bhatara tedun (turun) dan masuk ke dalam pikiran seseorang, menghadirkan kesadaran murni dan memberikan vibrasi ketuhanan. Jika hal ini terjadi, sifat ketuhanan akan muncul pada diri seseorang. Kata-katanya lembut, menyelesaikan masalah, memberikan tuntunan, tidak ada kekerasan atau provokasi.
Sementara, secara ontologi, kerasukan terjadi ketika seseorang yang tanpa sadar, kemudian ada unsur buruk masuk ke dalam tubuhnya. Unsur tersebut masuk melalui kaki naik ke tubuh bagian atas, kemudian menggeser intresa atau taksu kesadaran.
“Jadi, dia menggeser dari intresa, sehingga seseorang menjadi tidak sadar, bukan memasuki alam bawah sadar,” ungkapnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (13/2) lalu.
Ketika ada di alam tidak sadar, yang bersangkutan tak bisa mengontrol dirinya. Nah, saat inilah unsur-unsur bhuta yang masuk. Ketika unsur bhuta yang masuk, maka dia menjadi buta. Ia tidak memiliki cukup pengetahuan untuk membedakan antara benar-salah, baik-buruk, indah dan tidak indah.
“Jadi kuncinya di sana. Dia sudah keluar dari konsep satyam, siwam, sundharam, yang merupakan konsep ketaksuannya sebagai manusia. Jadi yang berlaku adalah dia seperti bhuta. Ini yang perlu disadari masyarakat,” ujarnya.
Ciri-ciri dominan secara fisik yang bisa dilihat pada orang kerasukan adalah matanya melotot, gerakannya agak kasar dan keras, cenderung berpower besar, serta menggunakan kata-kata awal ah, eh, oh, ih. “Kata-kata ini menunjukkan ada depresi dalam tubuh seseorang yang perlu pelampiasan. Secara metafisika, kata-kata ini mengawali seseorang melakukan pemberontakan pada dirinya,” katanya.
Namun demikian, lanjut pria kelahiran Singaraja itu, unsur-unsur yang masuk dalam tubuh seseorang tak selalu disebabkan oleh unsur bhuta yang tersebar di dalam bhuwana agung atau alam semesta. Bisa jadi unsur-unsur ini memang berada dalam tubuh seseorang, yang merupakan gejala atau simtoma sebuah penyakit. Jadi, penyakit inilah yang sebenarnya mempertontonkan dirinya ketika seseorang tidak sadar.
“Jangan cepat-cepat mengatakan kerasukan itu adalah peristiwa religius atau sakral. Bisa jadi itu berhubungan dengan psikosis atau sakit yang berhubungan dengan gangguan mental,” tegasnya.
Lalu, kenapa seseorang yang kerasukan tenaganya besar dan secara fisik memiliki kekuatan yang dahsyat, bahkan orang yang normal terkadang tidak sanggup memegangnya? Menurut Guru Mangku Hipno, semua itu karena ada gejala penegangan, pengerasan, atau pengakuan saraf, sehingga ini mengeluarkan tenaga yang besar dan gerakannya agak kaku.
“Dalam kasus ini ia masuk dalam keadaan yang disebut neurosis. Gejala fisiknya mengalami pengerasan, mata melotot, seperti sedang marah tapi tak terlampiaskan,” terangnya.
Kalau itu terjadi, kata lulusan Magister Teologi Pascasarjana IHDN Denpasar itu, harus dilakukan tindakan pencegahan lanjut. Jika dibiarkan, hal itu berlanjut karena bisa memengaruhi diri dan lingkungannya. Ketika berpengaruh pada lingkungan, inilah yang disebut dengan kerasukan massal.
Lebih lanjut, Guru Mangku Hipno menggambarkan, ada tiga kondisi seseorang. Pertama, sadar secara fisik, kedua adalah kesadaran yang lebih tinggi yang disebut intresa atau taksu, dan yang lebih murni adalah nadi. Saat taksu seseorang menyala dan ia tak mampu mengendalikan, saat inilah ia akan menjadi kuat dan terkadang kebal. Hal ini biasanya dialami oleh orang-orang yang menjadi mandung dalam tarian Calonarang. Ia tak terluka meski ditusuk keris, namun keadaanya tidak sadar.
Ketika seseorang nadi, taksunya bisa dikendalikan, maka ia tak bisa kerasukan. Keadaan nadi adalah ketika taksu seseorang menyala dan dia memiliki inscape, yakni kontrol yang tepat. Ia tetap sadar, tapi memasuki dimensi yang lebih halus dalam alam niskala. Saat inilah terkadang ia mendengar pesan-pesan secara niskala atau pawisik. Kesadaran yang terpadu dengan taksu yang menyala biasanya dialami oleh orang-orang yang menarikan rangda. Meski ditusuk oleh mandung, ia tak terluka. Pun ia tetap dalam keadaan sadar.
Apa yang harus dilakukan agar orang kerasukan cepat sadar? Seperti dijelaskan di awal, lanjutnya, kerasukan terjadi karena ketegangan. Biasanya yang dominan adalah di bagian leher belakang. Cara menyadarkannya dengan memegang leher bagian belakang. Di sana ada bagian yang menonjol. Tonjolan tersebut dipegang perlahan dan ditekan, bukan dicekik. Langkah berikutnya adalah meminta orang tersebut melemaskan tubuhnya, karena ini merupakan peristiwa kekakuan saraf. Berikan perintah melemaskan tubuhnya dari kepala sampai ujung kaki.
“Yang tak kalah penting, jangan biarkan yang bersangkutan menutup mata. Kalau dia menutup mata, maka ini akan panjang . Usahakan dia membuka mata. Kalau dia tidak mau, kita yang mengarahkan dan membantu membuka matanya sedikit. Tapi jangan dipaksa. Biasanya cara membuka mata ini menggunakan bantuan air,” lanjutnya.
Peristiwa kerasukan itu, artinya unsur api sedang membara dalam diri seseorang. Menurutnya, secara metafisika, kerasukan terjadi karena tubuh kanan seseorang sedang bereaksi. Tubuh kanan adalah api, kiri air, dan tengah adalah angin. “Kalau kerasukan diberikan api atau dupa, itu akan lebih kuat lagi, karena sudah ada api dalam tubuhnya. Jadi yang paling baik menyadarkan kerasukan adalah dengan air. Biasanya air itu diraupkan ke mukanya dan diminumkan. Maka dari itu, biasanya digunakan tirtha. Jadi itu secara logisnya, sangat ilmiah secara metafisika,” tegas mahasiswa program Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut.