BALI EXPRESS, DENPASAR - Momen Hari Valentine dimanfaatkan oleh sejumlah pasangan memadu kasih. Tak terkecuali dengan pasangan selingkuh. Itulah fakta ikuti perayaan budaya Barat yang tak bisa terbantahkan, bahwa hari kasih sayang (Valentine) adalah alkimia cinta dan seks jadi ritus, telah disimpangkan. Bagaimana dengan tradisi di Bali?
Bertepatan dengan momen Valentine, 14 Februari 2018 lalu, di Kabupaten Buleleng, dua orang pegawai kontrak yang bertugas di Badan Keuangan Daerah (BKD) Buleleng, tepergok melakukan aksi selingkuh.
Kedua pegawai kontrak itu, pria asal Desa Penglatan dengan pasangan selingkuhnya, wanita yang tinggal di Desa Sambangan, sepakat telanjang bikin ranjang bergetar di siang hari di salah satu rumah kost di Gang Balbo, Jalan Pantai Segara Penimbangan. sekitar pukul 13.00 Rabu siang. Di luar Bali perayaannya lebih marak lagi, di Surabaya ditangkap 24 pasangan remaja yang belum resmi menikah, merayakan malam Valentine di kamar hotel.
"Valentine adalah hari kasih sayang, demikian dalam tradisi Barat. Dalam tradisi ketimuran (Bali), cinta kasih tidak ada perayaan khusus. Sebab cinta, asmara, dan kasih sayang hendaknya selalu dihadirkan dalam diri kepada semua makhluk setiap saat dan waktu," papar I Ketut Sandika, S.Pd.,M.Pd, penulis buku Hindu dan peneliti budaya ini kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, Jumat (16/2) kemarin.
Kendatipun ada perayaan Tumpek Krulut, lanjut Magister Pendidikan Agama Hindu ini, hanyalah sebuah simbolis dalam ritual bahwa tresna lulut asih adalah dasar kehidupan manusia. "Artinya, hari suci tersebut hanyalah media mengingatkan kita bahwa dasar kelahiran manusia berawal dari adanya kasih sayang. Sehingga Tumpek Krulut dirayakan melalui hal-hal yang mencerahkan, seperti ritual dan seterusnya," ujar pria asal Klungkung ini.
Sandika yang juga Pengajar Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar dan IKIP PGRI Bali ini, menegaskan, kasih sayang adalah cinta alkimia yang mencerahkan. Berbeda dengan Barat, lazimnya hari kasih sayang diwujudkan lebih ke arah euforia seksual (sexs party) dan sejenisnya.
Dijelaskan salah satu penulis naskah film Nyungsang ini, dalam teks tutur Bhuwana Mahbah disebutkan bahwa ketika tidak ada apapun. Nora hana (tidak ada) dewa, bhuta, bhuwana, akasa, dan lainnya, maka Sanghyang Sunya menciptakan Sanghyang Tiga Guru, dan selanjutnya beliau menciptakan Sanghyang Guru Reka. Guru Reka, adalah Guru dunia yang menciptakan Lanang (laki-laki), perempuan (wadon) dan kedi (banci). Kemudian Sanghyang Guru Reka menanamkan benih Smararatih pada semuanya, tujuannya jelas agar mereka memiliki cinta kasih sayang dan birahi tentunya. Namun, agar tidak birahi, nafsu dan cinta serta asmara, kasih sayang dipahami dalam arti sempit, maka beliau menciptakan 'aksara' atau sastra sebagai pengendali, di antaranya modre, swalalita, wrehastra, ardha candra, angka pati, pemada, carik, dan surang.
"Selanjutnya, atas kemurahan Sanghyang Guru Reka, aksara tersebut diajarkan kepada sang lanang, wadon dan kedi agar mampu memahami cinta, kasih sayang yang sebenarnya adalah tangga menuju pembebasan diri. Dari aksara ini, lahirlah yoga sastra, yakni sebuah jalan pembebasan dengan memahami hakikat aksara. Jadi, teks tersebut secara tidak langsung memberikan makna cinta dan kasih sayang adalah tangga menuju pembebasan diri," beber pria penulis buku Tantra ini.
Lalu, bagaimana dengan hakikat seks? Dikatakan pria kelahiran Klungkung, 11 Februari 1988 ini, dalam teks lontar Tutur Tattwa Menadi Jadma dijelaskan, bahwa sanggama adalah yajna rahasia. Artinya, mereka yang bersanggama adalah melakukan ritual yajna. Pun demikian orang melakukan sanggama hendaknya terlebih dahulu melakukan posesi yajna.
"Sanggama tujuan jelas 'ngereka sarira' sebagaimana disebutkan dalam teks tersebut. Sebab, dari sarira witning trinadi (sumber tiga nadi) inilah muncul Ongkara. Singkatnya, tubuh manusia dipersonifikasikan sebagai Ongkara Sungsang (terbalik) dan Ngadeg (tegak). Dua Ongkara tersebut bertemunya di antara kedua alis (hingga nanti dipahami) dan orang menemukan pembebasan. Jadi, sanggama adalah ritual untuk manusia ngereka sarira agar yang punya sarira memahami aksara Ongkara," urai Sandika.
Dijelaskannya, dalam Brhadaranyaka Upanisad disebutkan dengan sangat jelas bahwa seks adalah yajna. "Inti manusia adalah air mani. Lalu, Prajapati menciptakan perempuan, dan kemulian perempuan terletak pada bagian bawah (vagina). Bahkan, vagina disamakan dengan kunda (tempat pahoman), sebagai tempat pemeras air soma. Liang vagina adalah kunda, bulu vagina adalah rumput yajna. Kemudian orang melakukan sanggama adalah ia yang beryajna memeras air soma kehidupan. Sehingga seks adalah sakral," ujar Sandika.
Lalu, merujuk sumber tersebut, apakah cinta dan seks (sanggama), ada kesamaan? Ditekankannya,selama ini banyak yang salah kaprah, cinta diartikan sama dengan seks. Bahkan, banyak orang beranggapan membuktikan cinta harus ngeseks, sebaliknya dengan ngeseks artinya cinta. "Merujuk deskripsi tersebut, cinta tidak sama dengan seks walaupun identik. Cinta adalah kasih sayang universal sesungguhnya," terangnya.
Ketika ada cinta, lanjutnya, ia adalah benih melampaui nikmat sanggama seungguhnya. Sedanggkan sanggama adalah sesuatu yang sakral yang tiada lain adalah ritual 'ngereka sarira'. Jadi, sangat berbeda, bukan berarti dijauhkan atau bertentangan, tetapi berhubungan. Sebab, sanggama harus didasari dengan cinta kasih universal bahwa melakukannya bukan untuk pemenuhan birahi, tetapi melampaui semua itu. Dengan demikian, lanjut Sandika, cinta dan seks adalah tangga menuju 'kebebasan' diri. "Jika, dimaknai dan dilakoni dengan benar dan melalui pandangan benar. Sekali lagi, mecintai tidak mesti harus seks, dan seks bukan berarti cinta. Jadi, cinta dan seks sesungguhnya ketika kita bisa melampaui nikmat birahi, kecemburuan, iri hati, kedengkian, amarah dan semacamnya," pungkas Sandika.