BALI EXPRESS, DENPASAR - Pentas Calonarang memiliki berbagai risiko, yakni secara sekala (nyata) bisa saja gagal karena ada yang terluka. Sedangkan secara niskala (gaib), bukannya mendatangkan anugerah, justru petaka.
Oleh karena itu, harus dilakukan persiapan yang benar-benar matang, baik dari segi ritual, maupun manusianya, terutama yang menjadi pamangku, bangke matah, dan pangayah yang munut rangda. Dr. Jro Mangku Gede Made Subagia, SH., M.Fil.H menjelaskan, orang-orang tersebut harus menyucikan diri secara lahir dan batin terlebih dahulu.
“Jadi yang bersangkutan harus menyucikan diri dahulu melalui pawintenan dan pengendalian diri. Karena sekali lagi, Calonarang ini bukan untuk memperlihatkan kesaktian, tapi memuja Ida Bhatara Siwa Sakti. Kesucian yang harus ditanamkan jika kita ingin mendatangkan yang Suci. Karena dalam Weda disebutkan, ketika engkau ingin datang kesucian datang, sucikanlah dirimu dulu,” tegasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Di samping ritual mawinten, dikatakannya ada ritual masucian di pamuhunan (tempat pembakaran mayat di kuburan), macaru, dan ritual nyambleh.
Selanjutnya, khusus bagi watangan atau yang menjadi bangke matah, harus siap mental.
“Pemilihan watangan tidak sembarangan, minimal pangiring Ida, siap mental, dan tidak boleh karauhan selama prosesi. Misalnya saat dimandikan layaknya jenazah, tiba-tiba karauhan, kan tidak masuk akal,” jelasnya.
Selanjutnya yang menjadi rangda juga harus tau ucapan-ucapan yang mesti diutarakan. Misalnya di timur dewanya siapa, senjatanya apa, warnanya bagaimana, bhutanya apa, dan sebagainya. Demikian pula di arah lainnya, sesuai pakem yang ada. “Melalui ucap-ucap tersebut, semua dimasukkan ke dalam diri. Saat semuanya masuk, maka ia akan merasa gatal, barulah ada proses nebekin (menusuk),” ungkapnya.
Meski demikian, salah satu Doktor Ilmu Agama Pascasarjana IHDN Denpasar tersebut , tidak menampik kemungkinan kegagalan, sehingga menimbulkan korban seperti di beberapa tempat belakangan. Penyebab kegagalan dikatakannya bisa saja banyak hal.
“Tapi yang pertama, biasanya keyakinan terhadap Ida Bhatara kurang, sehingga sampai ada yang nyabuk (menggunakan kekebalan). Yang begitu kan tidak perlu karena sudah kekuatan dari beliau. Rugi nyungsung Ida,” ujarnya.
“Kedua adalah kesucian yang bersangkutan. Kalau hendak mundut Beliau tidak boleh melakukan hal-hal kotor,” tegasnya.
Di samping itu, Jro Mangku Subagia menegaskan, yang bersangkutan harus mau belajar sastra. “Harus belajar sastra juga, tidak boleh sembarangan. Makanya ada istilah adung (selaras) Weda lan Widhi. Weda itu sastra, widhi itu Tuhan. Kalau keduanya menyatu, disanalah datang anugerah dan keberhasilan,” pungkasnya.