BALI EXPRESS, SERIRIT - Simbol Lingga Yoni kembali bisa ditemukan saat pujawali di Pura Dalem Munduk Bestala, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali. Uniknya, krama membuat Togog Pemaon di pewaregan atau dapur yang ada di areal Pura sebagai sarana untuk penolak bala dan memohon kesuburan.
Saat itu, krama Desa Pakraman Munduk Bestala nampak sibuk saat pujawali di Pura Dalem Desa Pakraman Munduk Bestala, Kecamatan Seririt. Mereka tengah mempersiapkan sarana untuk pelaksanaan Pujawali yang jatuh tepat tanggal 30 Mei 2017.
Jika dilihat sepintas, sebagai pertanda adanya pujawali, Pura Dalem ini dihias oleh krama setempat dengan menggunakan janur dan daun enau. Hiasannya pun sangat sederhana. Namun ada yang berbeda saat Pujawali di Pura Dalem Munduk Bestala bila dibandingkan dengan Pura lainnya. Yakni pembuatan Togog Pemaon yang dibuat di dapur umum Pura.
Togog berarti patung, sedangkan pemaon diartikan sebagai dapur. Jadi togog pemaon merupakan patung yang ditempatkan di areal dapur. Togog ini sangat sederhana. Hanya terbuat dari tanah liat yang dicampur dengan air. Bahkan sama sekali tidak ada ukiran layaknya togog yang biasa terpampang pada bangunan pura.
Togog ini dibuat dua buah yang berjenis kelamin laki dan perempuan. Posisi dua togog ini duduk berdampingan. Meski dibuat berdampingan, kemaluan kedua togog itu terlihat jelas. Sepintas, karena hanya terbuat dari tanah liat, nampak tidak ada kesan sakral. Apalagi togog yang berjenis kelami laki. Kemaluannya tampak mengacung seperti hendak mau ereksi. Sedangkan kelamin togog perempuannya pun begitu jelas terlihat. Bisa saja, jika orang awam melihat tak lebih dari patung porno.
Namun terlepas dari kesan porno tersebut Ida Bawati Putu Nata, Minggu (21/5/2017), mengatakan jika Umat Hindu di Bali yang merupakan penganut paham Hindu Siwa Sidanta yang mengagungkan Siwa. Togog ini merupakan simbolis Lingga dan Yoni. Akan tetapi, dalam masyarakat, simbol itu dibiaskan menjadi sebuah seni dan budaya.
"Konon jaman dulu orang melakukan pemujaan tidak menggunakan Pura sebagai tempat pemujaan. Namun pemujaan hanya dilakukan dengan lingga yoni. Dalam masyarakat, itu dibiaskan sebagai sebuah seni yang ditunjukkan dengan togog ini. Sehingga sepintas terkesan porno. Tapi makna filosofisnya sangat tinggi," ujar Ida Bawati Putu Nata kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Bukan hanya merepresentasikan sebagai Lingga Yoni saja, namun masyarakat Desa Pakraman Munduk Bestala sangat meyakini jika togog yang dibuat spontan oleh sejumlah krama itu berfungsi sebagai penolak bala. Sebab setelah selesai dibuat togog ini harus dipelaspas dengan menggunakan banten. Begitupun setelah Pujawali lebar (selesai), togog ini harus dipralina (dihancurkan).
"Saat pujawali kita berharap agar senantiasa diberikan kelancaran. Segala jenis gangguan baik yang nampak maupun tidak agar mekaon (pergi, Red) sehingga pujawali tetap berjalan lancar. Apalagi di pewaregan, sebagai pusat logistik saat pujawali harus dijaga baik secara skala maupun niskala. Sehingga jika ada yang mau berbuat ugig bisa punah. Begitupun jika ada krama yang marah, saat suruh melihat itu, tidak jadi marah. Justru tertawa. Bisa dikatakan itu juga sebagai penghibur," ungkapnya.
Togog itu, sambung Ida Bawati selalu ada dalam Pujawali di pura lingkungan desa maupun saat upacara besar yang diselenggarakan warga. Ssalah satunya otonan lengkap dengan guling babangkit. "Togog ini selalu dibuat jika krama membuat upacara yang sifatnnya utama. Kalau upacara madya dan nista justru tidak ada," katanya.
Tidak hanya itu. Ada keunikan lain yang terdapat di Pura Dalem Desa Pakraman Munduk Bestala. Dalam pura juga terpasang baling-baling yang posisinya menjulang. Itu bukanlah untuk tontonan. Tetapi sebagai simbolis pemikiran pemimpin sejalan dengan krama.
"Kalau baling-baling kan kepalanya berputar. Ekornya mengikuti. Kalau pemimpin harus satu komando dengan warganya," tegasnya. Selain itu, ada juga bunyi sunari yang sangat halus. Melambangkan suara alam yang memberikan wahyu pada pelaksanaan upacara. "Dipangkal sunari juga ada togog monyet yang melambangkan kembali ke Dewa Bayu," tandasnya.
Editor : I Putu Suyatra