BALI EXPRESS, TABANAN - Di sejumlah wilayah di Bali terdapat sumber mata air yang muncul secara misterius dan dipercaya merupakan air suci. Salah satunya berada di kawasan Pura Goa Riang di Banjar Delod Sema, Desa Riang Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan. Sumber mata air ini tak pernah surut sekalipun kekeringan melanda, bahkan memiliki empat warna berbeda.
Tak sulit untuk menemukan lokasi sumber mata air yang satu ini, karena belakangan sumber mata air tersebut juga dimanfaatkan oleh PDAM Tabanan, sebagai sumber air baku yang didistribusikan kepada masyarakat di Tabanan. Namun, dari jalan utama kita harus menyusuri ratusan tangga menurun untuk sampai pada sumber mata air tersebut. Sampai akhirnya kita sampai pada sumber mata air yang berada tepat di pinggir Sungai Yeh Nu.
Sumber mata air itu lebih dikenal dengan sumber mata air Goa Riang karena berada di bawah sebuah Goa yang dipercaya menyimpan sejarah panjang tentang keberadaan Desa Riang Gede.
Ada empat sumber mata air di lokasi tersebut, di mana masing-masing arah memiliki warna berbeda. Sumber air sebelah utara berwarna hitam, sebelah barat berwarna emas, sebelah selatan berwarna merah , dan sebelah timur berwarna perak. “Jika kita terkena airnya atau berendam, maka kulit akan terlihat seperti warna-warna itu,” ujar Jero Mangku Pura Goa Riang, I Dewa Made Dibia kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Bahkan , menurut sejumlah peneliti, sumber mata air yang airnya sangat bening hanya ada dua di Tabanan, pertama di Riang Gede dan kedua di Bolangan.
Biasanya pamedek yang tangkil, setelah usai melakukan persembahyangan di Pura Goa Riang, Luhur Goa, dan Beji, maka akan langsung malukat di sumber mata air tersebut dengan tujuan untuk melebur mala.
Menurut Jero Mangku Pura Goa Riang, keberadaan sumber mata air tersebut juga diikuti dengan sejumlah peristiwa unik, salah satunya dahulu kala pernah ada pohon besar di dekat sumber mata air tersebut. Saat pohon itu ditebang, ternyata di dalamya terdapat patung seperti orang yang sedang menuangkan tirta. Ajaibnya, patung itu sempat dibawa ke Kota Tabanan, namun dengan sendirinya kembali ke Riang Gede dan kini patung tersebut ditempatkan pada sumber mata air.
Sementara itu, I Wayan Sudhita, salah seorang tetua setempat yang juga dosen Sejarah di Universitas Maha Saraswati Tabanan, menuturkan, sekitar tahun 2008 silam, pernah ada survei dari Balai Arkeologi terhadap keberadaan Pura Luhur Goa dan Beji. Dan, dari hasil survei, disimpulkan bahwa keberadaan pura tersebut sama dengan yang ada di Gunung Kawi, Gianyar. “Dilihat dari relief ceruk yang ada dan patung Budha yang ada di Pura Luhur Goa, diperkirakan pura ini sudah ada sejak abad ke 8 atau sama dengan usia peninggalan sejarah di Gunug Kawi, Gianyar,” paparya.
Keberadaan sumber mata air ini lah yang dipercayai berkaitan erat dengan keberadaan Desa Riang Gede, di mana Riang berasal dari kata Rih dan Yang. Rih yang artinya air dan Yang adalah air yang keluar dari Tuhan, sehingga Riang berarti air dari Tuhan.
Kini selain dimanfaatkan untuk pengairan subak, sumber mata air tersebut juga menjadi tempat masucian Ida Betara bagi 9 Banjar yang ada di Desa Riang Gede.