BALI EXPRESS, DENPASAR – Rahina Budha Wage Klawu, hari istimewa untuk uang. Hari khusus yang ditujukan untuk melaksanakan pemujaan pada Ida Bhatara Sri Sedana atau disebut juga sebagai Dewa Rezeki. Dewi Laksmi yang bermanifestasi sebagai Ida Bhatara Sri Sedana.
Bali dikenal kaya akan adat istiadat serta ketaatan masyarakatnya dalam menjalankan ritual agama. Ajaran Animisme yang masih melekat kuat di Bali, menjadikannya memiliki warna tersendiri. Sistem Tri Hita Karana yang masih dipegang teguh masyarakatnya membuat Bali dikenal memiliki empati yang tinggi, tak hanya bagi sesama, bhakti pada Ida Sanghyang Widhi, juga peduli menjaga keharmonisan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Hal ini terlihat dari adanya upacara khusus yang ditujukan untuk tumbuh – tumbuhan, binatang, keris, bahkan untuk uang.
Di Bali ada hari khusus untuk melakukan upacara terhadap uang, tepatnya saat rahinan Bhuda Wage Klawu. Bahkan, berkembang mitos dilarang membelanjakan uang pada hari itu.
Rahinan Bhuda Wage Klawu jatuh setiap 210 hari atau setiap enam bulan sekali. Rahinan ini merupakan hari khusus yang ditujukan untuk melaksanakan pemujaan pada Ida Bhatara Sri Sedana atau disebut juga sebagai Dewa Rezeki. Dewi Laksmi yang bermanifestasi sebagai Ida Bhatara Sri Sedana biasanya dipuja di areal persawahan, pasar serta tempat – tempat yang melakukan transaksi perputaran uang.
Maka, praktis hari suci ini umumnya dirayakan oleh para pedagang, petani, pemilik toko, serta para pebisnis lainnya. Ida Bhatara Sri Sedana biasanya distanakan di beberapa pura khusus, seperti Pura Melanting.
Di Pura Melanting yang umumnya terdapat di setiap pasar, biasanya dibuat perayaan khusus untuk menunjukan rasa syukur atas rezeki yang selama ini telah diterima.
Selain dilakukan upacara khusus di Pura Melanting, umumnya masyarakat Hindu di Bali, juga melakukan upacara kecil di rumah masing – masing. Dengan cara meletakan canang serta bebantenan di atas uang atau kotak uang. Hal itu dilakukan untuk menghormati Bhatara Sri Sedana selaku Dewi Keberuntungan serta Dewi Rezeki. Namun, banyak pantangan yang beredar di masyarakat mengenai rahinan Bhuda Wage Klawu yang juga dikenal dengan Buda Cemeng. Bagimana pemahaman pelaksanaan rahinan ini dan seperti apa pantangan yang seharusnya dilakukan?
Menurut Dosen Institut Hindu Dharma (IHDN ) Denpasar, DR I Gede Sutarya, rahinan Bhuda Wage Klawu merupakan hari khusus untuk pemujaan Ida Bhatara Sri Sedana. Dengan tujuan wujud syukur atas rezeki yang telah diberikan selama ini.
“Itu hanya perwujudan syukur kita kepada Yang Kuasa dalam manisfestasinya sebagai Ida Bhatara Sri Sedana atau Dewi Pemberi Rezeki serta keberuntungan," bebernya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Sutarya juga mengungkapkan, sesungguhnya Bhuda Wage Klawu dalam masyarakat dikaitkan dengan puja wali yang sedang dilaksanakan di Pura Dalam Ped Nusa Penida.
“Sebenarnya dalam Lontar Sundarigama dijelaskan bahwa perayaan yang ditujukan kepada Dewi Laksmi sesungguhnya jatuh pada Sukra Umanis Merakih. Namun, di Bali justru lebih terkenal dirayakan pada Budha Cemeng. Padahal, pada saat itu piodalan di Pura Dalem Ped Nusa Penida. Bhatara yang diusung di Pura Dalem Ped dikenal pemurah, serta sangat suka memberi pertolongan kepada semua orang, terutama yang sedang mencari tamba atau obat. Nah, dari sana dikaitakan agar Beliau berkenan memberikan berkatnya, agar rezeki semakin melimpah,” papar dosen sekaligus penyusun kalender Bali ini.
Dalam lontar Sundarigama menyebutkan banten atau persembahan yang biasanya dihaturkan pada Bhuda Wage Klawu berupa canang, pajati, maupun tumpeng 7 yang disesuaikan dengan desa kalapatra.
“Bantennya biasanya tergantung desa kalapatra. Ada yang hanya menghaturkan canang saja, ada juga yang sampai membuat banten dengan tumpeng pitu. Tapi pada umumnya hanya mabanten canang yang diisi sesari atau uang yang diletakan di sanggah,“ paparnya.
Ketika disinggung apakah benar mengenai pantangan tidak boleh berbelanja ketika Bhuda Wage Klawu? Dosen pascasarjana IHDN ini menuturkan, sesungguhnya mitos tersebut hanya sebagai pengingat. “Mitos itu ada kan hanya sebagai pengingat. Misalnya jangan belanja ketika Bhuda Wage, sebab hari ini adalah otonan uang. Kata orang tua kan begitu. Padahal, sebenarnya itu hanya peringatan untuk kita agar tidak boros. Bukan hanya dilakukan ketika hari tertentu saja, harus dilakukan setiap hari,” pungkas Sutarya. (tya)