BALI EXPRESS, DENPASAR - Sejak pelaksanaan perlombaan ogoh-ogoh di Kota Denpasar, ST Dharma Cesana, Banjar Tegal Kauh, Desa Ubung Kaja, baru pertama kali mengikutinya tahun ini. Selain menuangkan kreativitas dan keinginan yang sangat besar dalam menjaga maupun melestarikan nilai kebudayaan juga untuk memupuk rasa kebersamaan. Hal itu diungkapkan oleh Ketua ST Dharma Cesana, I Wayan Mega Sujatha ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Tegal Kauh, Ubung, Denpasar.
Dalam kesempatan itu, dirinya mengaku jumlah ogoh-ogoh terdapat di sana ada tiga. Yaitu pertama terdapat Ganesha, Dewa Parwati dan Dewa Siwa. “Kita mengambil tema ini dikarenakan sangat menarik jika cerita tersebut dituangkan ke dalam sebuah karya seni ogoh-ogoh maupun pragmentarinya. Bahkan ini baru pertama kali sekaa teruna kami mengikuti perlombaan,” terang Mega Jumat kemarin (9/3).
Menurutnya, cerita ini diambil dari Lontar Andha Bhuana dan Ganapati Purana. Dalam sinopsisnya menggambarkan kesetiaan seorang istri yaitu Dewi Parwati kepada Dewa Siwa atau Bhatara. Di sana Bhatara Guru menyuruh Parwati turun ke Dunia mencari air susu lembu. Karena susu itu sebagai obat satu-satunya untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya oleh Dewa Siwa.
Lanjutnya, Dewi Parwati kemudian turun mencari susu ke desa-desa, gunung, hingga hutan. Maka di sana ia bertemu dengan pengembala lembu bersama Rare Angon. Sehingga Parwati mau menukar emas, berlian dan perhiasan yang digunakannya untuk ditukar dengan susu yang pengembala miliki. Namun pengembala tidak mau, dikarenakan pengembala memberikan syarat agar Dewi Parwati mau bersetubuh dengan dirinya.
“Dalam ceritanya Dewi Parwati tidak memiliki pilihan dan mau melakukan permintaan dari pengembala. Setelah itu, ia kembali menemui Bhatara Guru untuk memberikan susu. Setelah itu ia diramal oleh anaknya (Bhatara Gana) apa sebenarnya yang ia alami dalam mencari susu untuk ayahnya itu,” urai pemuda 24 tahun tersebut.
Mega juga mengungkapkan pengembala itu sebenarnya adalah ayahnya sendiri Dewa Siwa, belum selesai meramal pustaka yang digunakan untuk meramal dibakar oleh ibunya sendiri Dewi Parwarti. Sehingga Bhatara Gana mengutuk ibunya menjadi Dewi Durga yang disembah pada Pura Dalem dan Pura Prajapati, dan ia akan menjadi sumber penyakit bagi segala makhluk hidup.
Dari cerita itu, Mega dan rekannya sangat tertarik diceritakan dalam sebuah pragmentari. Selai itu proses pembuatannya ia megaku hanya baru menghabiskan sekitar Rp 8 juta khusus untuk ogoh-ogohnya saja.
“Kalau pengeluaran sampai konsumsi, penyewaan pakaian saat pragmetari kemungkinan total hanya menghabiskan sekitar Rp 15 juta. Karena perlengkapan ogoh-ogoh pada tahun lalu kami gunakan kembali makanya bisa lebih irit,” papar Sarjana Ekonomi Universitas Warmadewa itu.
Meski perlombaan yang perdana, pihaknya optimis untuk dapat nominasi khususnya di Denpasar Utara. Jikapun tidak, itu akan dijadikannya sebagai pengalaman dan menyemangati anggotanya untuk bisa berkarya lebih baik lagi. Mega juga mengaku proses pembuatan ogoh-ogoh yang dikerjakannya itu hanya memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan saja.
Bahan yang digunakan, dia menjelaskan sesuai peraturan yang berlaku dalam perlombaan. Yaitu penggunaan bahan yang ramah lingkungan dan tidak menggunakan styrofoam. “Kalau pakai besi dalam kerangkannya itu kan diperbolehkan, dan bentuknya kami gunakan ulat-ulatan dari bambu. Hanya saja kami menggunakan sebuah tissue dan koran dalam proses pembentukan badan dan urat-uratnya,” imbuh Mega.
Editor : I Putu Suyatra