BALI EXPRESS, DENPASAR - Pelaksanaan yadnya di Bali sangat identik dengan adanya sarana upakara yang disebut dengan uperengga. Dalam pemasangan Sanggah Surya dan Sanggah Tawang, juga menggunakan uperengga, namun apa maknanya?
Pada Sanggah Tawang dan Sanggah Surya dilengkapi dengan pohon pisang yang masih terdapat jantungnya, yang oleh orang Bali dikenal dengan sebutan Biu Lalung .
Ini merupakan simbol purusa atau centana dari Sang Hyang Widi. Selain itu, penggunaan buah pinang dalam Sanggah Tawang juga merupakan simbol permohonan umat kepada Ida Sang Hyang Widhi.
“Di mana diharapkan agar segala yang dipersembahkan dapat berpahala sesuai dengan persembahannya.” ujar Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group).
Dijelaskan lebih lanjut, dalam tatanan uperengga digunakan juga yang dinamakan Buah Uduh Peji yang merupakan simbol manifestasi Sang Hyang Widhi sebagai Bhatara dan Bhatari, Dewa dan Dewi yang ikut menyaksikan persembahan umat, dan memberi anugerah sesuai karmanya.
Sedangakan Kelukuh Berem adalah sebuah pelepah pinang yang dibentuk seperti kantong dan berisi berem. Kelukuh merupakan simbol kekuatan Prakerti atau Acetana Sang Hyang Widi. Prakerti dapat diartikan sebagai kekuatan pada setiap material yang dipersembahkan sebagai sarana memberikan anugerah kepada umat Hindu.
“Namun, intinya dalam pelaksanaan yadnya di Bali wajib disertai dengan rasa yang tulus dan ikhlas, agar makna yadnya menjadi maksimal,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra