Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Meski Tak Boleh Ikut Lomba Lagi, Tetap Bikin Ogoh-ogoh Berteknologi

I Putu Suyatra • Jumat, 16 Maret 2018 | 03:53 WIB
Meski Tak Boleh Ikut Lomba Lagi, Tetap Bikin Ogoh-ogoh Berteknologi
Meski Tak Boleh Ikut Lomba Lagi, Tetap Bikin Ogoh-ogoh Berteknologi

BALI EXPRESS, DENPASAR – Setiap sekaa pemuda memiliki inovasi, seni dan kemampuan yang berbeda terlebih dalam menuangkan ke bentuk ogoh-ogoh. Seperti salah satu anggota ST Dharma Laksana yang tiga tahun belakangan ini telah mengembangkan teknologi dalam proses pembuatannya. Sehingga pada tahun 2018 ini dapat dikombinasikan beberapa gerakan melalui jaringan internet.


 


Anggota sekaa teruna sekaligus penggagas ogoh-ogoh internet, I Made Dwi Krisna Putra ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) mengaku sudah membuat inovasi dengan IT sejak tahun 2016 lalu. “Idenya saya dapatkan dari melihat perkembangan internet  yang ada di luar negeri. Yaitu internet dapat dikatakan sangat berperan penting , maka saya mencoba sebuah karya seni dengan mengabungkan jaringan internet seperti ogoh-ogoh ini,” jelasnya di Balai Banjar Kaja, Panjer, Denpasar Kamis kemarin (15/3).


 


Krisna juga mengatakan aplikasi yang digunakan adalah google asisten dengan merakit alatnya sendiri. Dalam proses pengerjaannya ia mmerlukan waktu sekitar dua minggu setelah ogoh-ogoh setengah jadi. Karena gerakan ada dibeberapa bagaian, seperti sayap, mata, dan badan ogoh-ogoh jadi Krisna harus mengisi peralatan khusus di dalam ogoh-ogoh berupa modem dan alat elektronik yang dibutuhkan.


 


“Peralatan yang digunakan supaya bisa bergerak hanya menggunakan jaringan internet itu mengahbiskan uang sekitar Rp 3 juta. Jadi setiap tahun saya juga mencoba dari tiga tahun lalu, pertama menggunakan Bluetooth, kemudian tahun lalu menggunakan sensor suara gambelan, dan tahun ini menggunakan jaringan internet. Bahkan yang ini dari mana saja bisa digerakkan dengan voice google dengan cara menyetelnya terdahulu,” terang pemuda lulusan Elektro UNUD tersebut.


 


Pada tempat yang sama ketua ST Dharma Laksana, Gusti Agung Satriawiguna menjelaskan ogoh-ogoh itu bertemakan Siwa Sarada. Proses pengerjaan pihaknya memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan dengan menghabiskan dana sebesar Rp 15 juta. Selain itu, dirinya juga mengaku sudah dua kali ikut lomba di Kota Denpasar, karena dua kali juga sudah sempat mendapatkan nominasi sehingga tahun ini dan tahun depan STTnya belum bisa ikut perlombaan kembali.


 


“Meski jatah ikut perlombaan kami sudah habis, namun tetap mengembangkan kreativitas pemuda yang ada. Bahkan potensi-potensi yang ada pada masing-masing anggota kita berikan penuh dalam menuangkan seninya dalam pembuatan ogoh-ogoh ini,” jelas pemuda 19 tahun tersebut.


 


Satria juga memaparkan cerita dari ogoh-ogohnya, yaitu Siwa Saraba. Digambarkanlah sebagai sosok yang memiliki karakteristik yang sama dengan narasinga Awatara, yaitu makhluk campura. Dia merupakan Awatara Siwa yang muncul setelah Narasinga Awatara mengalahkan Asura Hiranyakasipu. Saat menghabisi Hiranyakasipu, Narasinga meminum setiap darahnya dan mencabik jasadnya dan mengalungkan pada lehernya sendiri.  


 


Lanjut Satria, hal itu dilakukan supaya Narasinga tidak lagi ada sisa tubuh Hiranyakasipu yang melakukan kontak dengan semseta. Maka Narasinga melampiaskan amarahnya ke dunia dan membuat kekacauan di mana-mana. Di sana muncullah Prahlada dan Laksmi untuk menangkapnya, namun diacuhkan. Para dewa juga berusaha mengahalangi Narasinga, namun upaya dan kerja keras mereka tidak membuahkan hasil.


 


“Karena itu, mereka memohon kepada Dewa Siwa untuk memberikan bantuan kepada mereka. Sehingga di sana Siwa mengutus Virabhadra untuk berperang namun ia juga kalah,” jelas mahasiswa Jurusan Hukum Unwar tersebut.


 


Karena melihat hal tersebut, Dewa Siwa kemudian turun ke bumi mengambil perujudan sosok separuh singa dan separuh burung.  Peperangan antara dua awatara berlangsung selama 19 hari, maka Siwa Sarabha pada akhirnya berhasil membunuh narasima guna mengembalikan jiwanya utuh ke tempat assalnya. “Cerita ini juga mengambil dari Sarabha Upanisad, ayat 1 sampai 4. Kemudian dikemas dan dipoles juga dalam bentuk pragmentari selain ke ogoh-ogoh,” imbuh altit petinju tersebut. 

Editor : I Putu Suyatra
#ogoh-ogoh