BALI EXPRESS, GIANYAR - Meski dengan minim pendanaan dan ukuran ogoh-ogoh tidak sebesar seperti ST lainnya, ST Bina Warga tetap berkreativitas dengan cerita yang unik. Yaitu sebuah cerita kandapat menggambarkan proses kehidupan seorang bayi baru lahir hingga mampu bertahan dari gangguan desti.
Ketua panitia ogoh-ogoh, I Kadek Epa Apriliyanto mengungkapkan proses pembuatannya hanya memerlukan waktu sekitar satu bulan. Di samping kendala pendanaan pihaknya juga mengaku terkendala anggota yang datang untuk membantu dalam pengerjaannya. "Modal awalnya dari kas STT hanya Rp 500 ribu saja, selanjutnya kami hanya mengandalkan donatur yang tidak mengikat. Sehingga kini menghasilkam ogoh-ogoh bertemakan kandapat," jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Banjar Mas, Sayan, Ubud, Kamis (15/3).
Anggota ST Bina Warga yang keseluruhan berjumlah 70 orang itu tiap harinya hanya beberapa saja aktif dalam pembuatannya. Meski demikian, Kadek Epa tidak putus semangat dalam menuangkan seninya di dalam pembuatan ogoh-ogoh tersebut. Dalam kesempatan itu juga, dirinya mengungkapkan keseluruhan menghabiskan dana sekitar Rp 10 juta.
Dalam kesempatan itu, penulis sinopsis Jero Mangku Made Ngastra juga memaparkan alur cerita ogoh-ogoh yang dibuat anggota STT setempat. Dalam hal itu kandapat rare menceritakan sebelum manusia lahir ke bumi. Yakni saat sesorang lahir dinamakan kandapat rare. "Awalnya dinamai babu lambana, babuian, babu abstra, dan babu kakera. Maka setelah diupacarai dengan tiga bulan berganti nama kembali saat satu bulan 7 hari selanjutnya," tandasnya.
Upacara itu dia mengatakan ngecolongan. Yakni setelah menginjak umur tiga bulan berganti nama kembalu. Terdiri atas isalir, imokain, iselabir, dan imakair. Selanjutnya ketika manusia menginjak ke tiga bulannya lagi bertepatan dengan otonan berganti nama menjadi anggapati, rajapati banaspati, banaspati raja.
Di sanalah pembagian ilmu yang ditemukan bahwa ada namnya kanda empat rare. Yang terdiri atas butha dan dewa, yang dewa ratu ngurah tangkeb langit, ratu wayan teba, ratu made jelawalung, ratu nyoman sakti pengadang, dan ratu ketut ketung. "Semua itu disebut buta, yaitu anggapati, rajapati, banaspati, dan banaspati raja," imbuhnya.
Lanjutnya, maka di sana muncullah dengan kanda pat dan lain sebagainya. Memang kanda pat rare, yang dikaitkan dengan penestian. Di mana pada hal yang lumbrah ada pada calonarang. "Semuanya ada pada lontar kanda pat, laban desti, atau dikaitkan dengan ari-ari yang disebut dengan nyama," tandas Mangku Ngastra.
Editor : I Putu Suyatra