BALI EXPRESS, DENPASAR - Benang Tridatu yang semula lekat dengan aura kedewataan dari sisi niskala, kini berubah fungsi menjadi identitas kehidupan. Kenapa berubah fungsi?
Gelang Tridatu dahulu hanya digunakan warga di Bali saat ada wabah (grubug). Digunakannya benang berwarna merah, putih, dan hitam itu, sebagai penanda agar tidak terkena pengaruh negatif dari wabah yang sifatnya niskala. Namun kini, gelang Tridatu digunakan dalam keseharian umat Hindu.
I.B Wika Krishna lewat tulisan bertajuk Gelang Tidatu (Identitas Kehinduan), tak menampik bahwa gelang Tridatu mulai berubah fungsi, dari yang sifatnya niskala kini menjadi identitas kehinduan.
Fenomena ini hampir menyentuh seluruh lapisan umat Hindu, dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Fenomena ini menunjukkan bahwa, secara sadar umat Hindu mulai menunjukkan penanda dalam satu kesatuan agama dan sekaligus pembeda dengan umat agama lainnya.
Gelang Tridatu sendiri secara filosofis merupakan warna yang mewakili aspek ketuhanan, merah sebagai warna Dewa Brahma, putih sebagai warna Dewa Iswara/Siwa, dan hitam sebagai warna Dewa Wisnu. Ini juga sekaligus mengingtakan tentang proses kehidupan yang diwakili dari tiga dewa tersebut (Tri Murti), Brahma-Uthpti (pencipta), Wisnu-Sthiti (Pemelihara), dan Siwa-Pralina (Pelebur). Dalam konteks keberaksaraan juga diwakili dengan Ang-Ung-Mang. Pada akhirnya kesatuan dari ketiganya adalah Omkara atau Hyang Widhi atau Brahman itu sendiri.
Warna-warna yang mewakili Dewa-dewa Hindu terpapar dalam konsep Dewata Nawa Sanga dan sekaligus karakter dari warna tersebut, yakni Iswara : putih,Mahesora : merah Muda, Brahma : merah, Rudra : jingga, Mahadewa : kuning , Sangkara : hijau, Wisnu : hitam, Swayambhu : biru, dan Siwa : pancawarna.
Penggunaan gelang Tridatu yang mulai demikian memasyarakat di kalangan umat Hindu, tentu saja secara sosial bisa menjadi Identitas kehinduan, sekaligus secara religius bisa menjadi media untuk selalu eling atau ingat akan Hyang widhi.
Tiga warna benang Tridatu juga sebagai lambang kesucian Tuhan dalam manifestasinya sebagai Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Dewa Siwa (pelebur), sekaligus simbol dari tiga serangkai lainnya yang merupakan Shakti-nya Tri Murti, yaitu Dewi Mahasaraswati, Dewi Mahalaksmi, dan Dewi Mahakali. Selain melambangkan Tri Murti dan Shakti-nya, benang Tridatu juga melambangkan sifat Tri Guna, yaitu Sattwam (kebijaksanaan), rajas (keangkuhan), dan Tamas (kebodohan), serta melambangkan pula tiga aksara Suci A U M yang membentuk suku kata OM.
Tridatu juga sebagai lambang Tri Kona, yaitu lahir, hidup, dan mati. Dengan memakai Tridatu , seseorang semakin terikat akan tiga perjalanan kelahiran ke dunia, di mana setelah lahir dan hidup, kemudian kematian pasti akan datang. Pengguna Tridatu akan semakin mawas diri tentang perjalanan hidup ini , dan selalu ingat akan Tuhan.
Simbol dari Dewa Brahma diartikan bahwa umat harus selalu menciptakan kebaikan (Dharma), kemudian simbol Dewa Wisnu mengandung maksud umat akan selalu diingatkan untuk selalu memelihara kebajikan, sementara simbol Dewa Siwa bahwa setiap orang harus mau menghilangkan(mempralina) sifat ketidakbaikan atau Adharma.
Di sisi lain, Jro Agni Baradah dari Yayasan Karmadatu, Karangasem, menyatakan bahwa Tridatu mempunya arti tri (tiga) dan datu yang berarti unsur, jadi Tridatu adalah tiga unsur. Nah kebetulan. lanjut pria yang juga mangku dalem ini, yang lazim dipakai untuk memaknai hal ini di Bali adalah benang.
"Benang Tridatu mempunyai filosofi yang sangat luas, ditinjau dari sisi magis/supranantural, spiritual, dan seni," papar Jro Agni Baradah yang juga mentor konsep Manacika Power kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar.
Ditinjau dari sisi magis, lanjutnya, hampir semua pelaku balian atau supranatural mempergunakan hal ini sebagai sarana penyembuhan batin yang disebut benang Kambuhan, dengan harapan agar Sabda, Bayu, Idep kembali pulih dan normal untuk sang sakit.
Dari sisi spiritual bahwa tiga unsur ini adalah 'mind, body and soul. "Menyeimbangkan antara pikiran,tubuh, dan jiwa adalah tugas dalam kehidupan sebelum menginjak tingkat rohani yangg lebih tinggi, " urainya.
Ditinjau dari sudut seni, lanjut Hri Agni, tiga warna dijadikan satu adalah seni, di mana warna ini sama-sana menyolok, merah, putih, dan hitam, merupakan warna yang keras dan menawan.
"Celakanya jika kita hanya memakai tanpa faham dengan makna yang sesungguhnya , bahwa benang itu sebagai pengingat ketika Anda galau, maka lihatlah benang itu di tangan, bangkitlah dari keterpurukan untuk lebih semangat. Ini sama seperti melihat jam tangan sebagi pertanda waktu, jika hal ini tidak dipahami maka tak ubahnya hiasan belaka," ungkapnya.
Namun fenomena lainnya dikatakan Jro Agni, ada juga yang saking magisnya berpikir soal benang ini sampai bertumpuk-tumpuk di pergelangan tangannya. " Melihat pemakaian seperti itu, sehingga kesannya sebagai seorang pengepul benang Tridatu," ringkasnya sambil tertawa.
Menilik dari sejarah pemakaian benang Tridatu dimulai abad 14-15 saat Dalem Watu Renggong berkuasa menjadi raja diraja di Bali, saat menaklukkan Dalem Bungkut (Nusa ) oleh patih Jelantik, telah terjadi kesepakatan anatara Dalem Bungkut dengan Dalem Watu Renggong, bahwa kekuasaan Nusa diserahkan kepada Dalem Watu Renggong, begitu pula rencang dan ancangan beliau , Ratu Gede Macaling, dengan satu perjanjian akan selalu melindungi umat Hindu (masyarakat Bali) yang bakti dan taat kepada Tuhan dan leluhur. Sedangkan mereka yang lalai akan dihukum oleh para rencang Ratu Gede Macaling.
Bila beliau akan melakukan tugasnya, maka Kulkul Pajenengan yang kini disimpan dan disungsung di Puri Agung Klungkung akan berbunyi sebagai pertanda akan ada malapetaka atau wabah. Nah, supaya dapat membedakan masyarakata yg bakti dengan tidak, ditandai dengan pemakaian benang Tridatu.
Sementara di India, pemakaian benang ini disebut dengan Raksha Sutra, dimana Raksha berarti perlindungan dan Sutra berarti benang. Jadi, Raksha Sutra berarti benang suci untuk perlindungan. Namun, gelang tersebut di India biasanya hanya terdiri dari satu warna, yaitu kuning atau merah atau putih.
Biasanya saat pemakaian benang ini akan dilantunkan Swasti Sukta, yaitu mantra untuk permohonan perlindungan: Om Swastina indro wriddaswarah. Swastina pusha wiswadewah. Swastina tarkshyo aristanemih. Swastino brhaspatir dadathu. Artinya : Semoga Indra yang perkasa, Pusha (Matahari) yang terpelajar, Tarksya (Garuda) yang tak terkalahkan, serta Brhaspati memberkati dan melindungi kita.
Atau bisa juga dengan mantra singkat : Om Ang Ung Mang
Raksha – raksha Hum Phat Swaha. Ang adalah Dewa Brahma, Ung adalah Dewa Wisnu, Mang Dewa Siwa, Raksha berarti perlindungan, Hum merupakan kawaca (baju zirah atau tameng), Phat adalah bijaksara senjata, dan Swaha (permaisuri Dewa Agni) bisa juga berarti permohonan.