BALI EXPRESS, AMLAPURA - Keberadaan Pura Penataran Agung Pucak Gunung Kembar Kenusut bukanlah pura baru. Hanya saja, pura yang termasuk Khayangan Jagat ini belum begitu familiar. Padahal, ada sisi unik di kawasan suci ini.
Pura yang lebih dikenal dengan Pura Kenusut, berada di wilayah Desa Adat Jumenang, Perbekelan Bukit, Karangasem, Bali. Pangemponnya adalah krama Desa Adat Jumenang, di mana pujawalinya pada purnamaning sasih kalima, atau disebut Bhatara Turun Kabeh.
Jalan menuju ke pura sudah bagus, sudah diaspal hingga di jaba pura, tapi menuju pura butuh tenaga ekstra karena ada tanjakan. Maklum, lokasinya berada di atas bukit. Areal pura juga termasuk luas, lengkap dengan areal parkir kendaraan. Saat cuaca cerah, pemandangan alam dari lokasi pura sangat indah dengan latar dua gunung di belakangnya. Pura ini berdiri di antara dua gunung, yakni Gunung Lempuyang di sebelah utara, dan Gunung Seraya di sebelah timur. Dari pura ini juga bisa menuju Pura Lempuyang Luhur. Namun, belum banyak yang tahu, lantaran pamedek yang nangkil ke Pura Lempuyang Luhur terbiasa lewat jalur Desa Purwayu, Kecamatan Abang.
Tak sebatas keberadaannya diapit dua gunung. Secara filosofi dan niskala, Pura Kenusut disebut-sebut ada hubungannnya dengan Pura Lempuyang di Gunung Lempuyang, dan Pura Bhur Bwah Swah di Gunung Seraya. Pura Kenusut merupakan stana Ida Bhatara yang malinggih di Pura Lempuyang Luhur dan Ida Bhatara di Pura Bhur Bwah Swah. “Pura niki adalah linggastana dari pada Hyang Bhatara yang malinggih di pucak gunung kembar. Pucak gunung kembar itu adalah Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang, Bhatara Pasupati di Pura Bhur Bwah Swah,” ujar salah satu pemangku di Pura Kenusut, Jro Mangku Wayan Catra kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
“Ketika beliau beryoga ingin menentramkan jagat, memudahkan umatnya menyembah, memohon, sehingga di sini ada paraciri berupa arca kembar,” imbuh Mangku Catra.
Konon, pura ini sudah ada sejak zaman dahulu. Cuma baru selesai renovasi 2016 lalu. Proses renovasi pura ini pun berjalan cukup lama, dan dibagi menjadi empat tahap pembangunan. Yakni dari 1994-2016. Meski proses renovasi memakan waktu lama, namun tak mengurangi niat pamedek nangkil. Tak sedikit juga pejabat nangkil ke sana. Sebagaimana diakui Mangku Catra, banyak pamedek nangkil tak hanya memohon karahayuan, keselamatan secara umum. Banyak dari mereka secara khusus memohon supaya dimudahkan dalam karirnya. Misalnya, ada yang memohon agar lulus menjadi PNS, Polisi, bahkan ada memohon supaya lolos menjadi anggota Dewan.
“Saya tahu karena mereka yang menyampaikan, agar saya mudah memohon kepada-Nya. Kalau masalah diberkahi atau tidak, itu urusan dengan Ida sane malinggih driki,” terang Mangku Catra dibenarkan juga Jro Mangku Nengah Wita, yang tak lain ayah kandung Mangku Catra. Keduanya ngayah di Pura Kenusut.
Selain memohon untuk kelancaran dalam hal karir, banyak pamedek berkeyakinan pura tersebut tempat memohon keturunan. Khususnya keturunan kembar. Baik kembar sejenis atau kembar buncing. Termasuk juga tempat memohon agar anak kembar diberkati kemakmuran. Keyakinan bahwa di pura tempat memohon keturunan tak terlepas dari keberadaan linggasana purusa-predana di sana. Ada juga padma kembar. Bagi mereka yang memohon mendapat keturunan kembar, atau nunas agar anak kembarnya diberikan kesehatan, harmonis dalam keluarga, biasanya nunas di Padma Kembar.
“Nunas keturunan kembar di Padma Kembar. Bantennya biasa, peras,” terang Mangku Catra sambil menunjukkan Padma Kembar itu.
Editor : I Putu Suyatra