Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kepercayaan Umat Hindu di Bali: Sasih Kadasa, Saat Paling Baik Helat Upacara Manusia Yadnya

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Maret 2018 | 16:49 WIB
Sasih Kadasa, Saat Paling Baik Helat Upacara Manusia Yadnya
Sasih Kadasa, Saat Paling Baik Helat Upacara Manusia Yadnya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Apakah Anda berencana menikah tahun ini? Ya, sasih Kadasa adalah saat yang tepat bagi Anda yang ingin menggelar berbagai upacara manusia yadnya, salah satunya adalah  pawiwahan. 

Lantas, seperti apa makna sasih Kadasa yang dikatakan sasih terbaik untuk upacara pernikahan?

Keputusan untuk melangkah ke jenjang pernikahan, merupakan sebuah keputusan besar bagi kedua calon mempelai.

Bukan hanya karena perubahan status dari lajang menjadi menikah, namun hidup dari kedua calon mempelai pun akan berubah secara drastis.

Karena itu, wajar saja jika kedua calon mempelai dan seluruh anggota keluarga mempersiapkan perhelatan tersebut dengan sebaik - baiknya.

Sasih Kadasa atau yang disebut juga Waisaka merupakan sasih ke sepuluh dari 12 sasih yang ada.

Ada pun sasih – sasih yang ada dan berlaku di Bali adalah sasih kasa, sasih karo, sasih katiga, sasih kapat, sasih kalima, sasih kaenam, sasih kapitu, sasih kawulu, sasih kasanga, sasih  kadasa, sasih jyestha, sasih asadha.

"Perhitungan sasih biasanya  dimulai pada saat awal  Caka, yakni setelah perayaan Hari Raya Nyepi. Sasih kadasa dikatakan sebagai saat terbaik dibandingkan 11 sasih lainnya, karena  sasih kadasa merupakan awalan baru setelah melewati sasih kasanga yang gelap dan kotor," ungkap Penyusun Kalender Bali, DR Gede Sutarya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Menurut Sutarya, ada peralihan dari sasih kasanga yang kotor menuju sasih kadasa yang terang.

“Di sasih kasanga, kita melawan bhuta kala yang ada pada diri kita. Kita berjuang melawan hawa nafsu, pikiran kotor dan perbuatan buruk. Nah, ketika kita berhasil melewati sasih kasanga dengan catur brata panyepianya, maka kita akan disambut dengan terangnya sasih kadasa," urai pria asal Bangli ini.

"Di sasih kadasa biasanya bumi akan terang, cuaca juga tidak seburuk ketika sasih kasanga. Panen biasanya melimpah, bunga – bunga bermekaran, ibaratnya seperti musim semi,” ujarnya. 

Selain itu, ia juga mengungkapakan pada purnama ning sasih kadasa, akan ada upacara khusus yang dilaksanakan setahun sekali di Pura Besakih, yakni Bhatara Turun Kabeh.

Upakara tersebut menggambarkan bagaimana para dewa , Ista Dewata turun ke dunia memberikan anugerah kepada umat manusia, agar senantiasa selamat dan hidup sejahtera.

“Banyak piodalan yang dilaksanakan di sasih kadasa. Namun, yang paling besar itu yang ada di Besakih, yaitu upacara Bhatara Turun Kabeh, perhelatan akbar yang dilakukan masyarakat setahun sekali,” ujarnya.

Seperti apa mitos dan sejarah sasih kadasa? Dosen Pasca Sarjana Institute Hindu Dharma Denpasar ini, memaparkan, dahulu ketika Bali masih disebut Bahari Nusa Bali, kondisi Pulau Bali dikatakan sangat kacau.

Bali dipenuhi dengan banyak gunung merapi.

Terjadi bencana di mana – mana, masyarakat tak pernah hidup tenang. Merasa iba, Bhatara Pasupati turun ke dunia menyelamatkan masyarakat di Pulau Bali pada saat sasih kadasa, kondisi bulana mati (tilem) dengan penanggalan rah 1, tanggek 1 tahun Caka 11.

Sutarya juga memaparkan, dalam lontar Cundarigama dijelaskan, bahwa sasih kadasa merupakan saat terbaik untuk melaksanaan upacara pitra yadnya, manusia yadnya, dewa yadnya. 

Dalam lontar tersebut, juga dipaparkan mengenai bebantenan yang wajib dihaturkan selama sasih kadasa.

“Upakara yang umumnya dihaturkan adalah suci, daksina, ajuman canang, reresik, dan dandanan aprangkat. Sedangkan untuk pelaba, biasanya dihaturkan segehana agung, segehan sasah enam tanding, prayascita, panyeneng, dan teenan,” ujarnya.

Di sisi lain, ketika ditanya mengapa sasih kadasa dikatakan baik untuk menggelar perhelatan pernikahan, Sutarya menjelaskan pemilihan hari baik, untuk melakukan pernikahan tak hanya di sasih kadasa. 

Masih banyak sasih lain yang dapat dipilih calon pengantin untuk menghelat upacara pawiwahan.

“Sasih yang bagus digunakan dalam pernikahan, antara lain sasih kadasa, sasih kapat, sasih kapitu, sasih katiga, dan sasih kalima," terangnya.

Namun, dari semua sasih tersebut, lanjutnya, tentu yang paling bagus adalah sasih kadasa.

"Karena sasih kadasa adalah saat di mana dunia sangat terang, setelah melalui sasih kasanga yang sangat gelap. Jadi, sasih kadasa adalah awalan dari Caka. Makanya, dikatakan sangat bagus untuk melaksanakan upacara manusia yadnya khususnya pernikahan,” papar Sutarya.

Dalam lontar Lebur Gangsa, sasih kadasa dikatakan sebagai musim semi atau musim panen.

Masyarakat umumnya sangat makmur di masa ini, karena curah hujan dan stok pangan dikatakan aman.

“Zaman dahulu, orang – orang menganggap saat musim panen adalah saat terbaik, atau saat paling membahagiakan, karena saat itu stok pangan tercukupi, bahkan melimpah, cuaca juga sangat bersahabat,” paparnya.

Disisi lain, Sutarya mengungkapkan dewa yang berstana di sasih tersebut adalah Bhatara Narasinga.

“Narasinga di kenal sebagai avatara Wisnu, sebagai dewa pemelihara.  Maka, di sasih tersebut dikatakan sasih penuh kesuburan, baik untuk memulai keluarga baru dan kegiatan manusia yadnya lainnya,” paparnya. 

Sutarya memaparkan, untuk menentukan hari baik pernikahan tidak hanya mematok pada sasihnya saja, tetapi harus mempertimbangkan tanggal dan lainnya. 

“Pertama pihak keluarga dan calon mempelai harus mencari sasih yang tepat, yaitu sasih kapat, kalima, kapitu, dan kadasa. Kemudian di sasih itu cari penanggalan  (lebih baik setelah tilem menuju purnama).  Lalu, cari wuku yang tidak dilarang, misalnya rangdatiga. Untuk pilihan hari, yaitu hari senin, rabu, kamis, jumat. Kalau bisa jangan sabtu, karena sabtu adalah dina yang sangat buruk untuk menikah,” papar Sutarya.(*)

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#pewiwahan #kedasa #bali #yadnya #Sasih #hindu #kalender