Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Sejarah Anjing Pantang Dipukul Saat Pelaksanaan Yadnya

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Maret 2018 | 19:19 WIB
Begini Sejarah Anjing Pantang Dipukul Saat Pelaksanaan Yadnya
Begini Sejarah Anjing Pantang Dipukul Saat Pelaksanaan Yadnya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Umat Hindu sangat pantang memukul atau menyakiti binatang, khususnya anjing pada saat pelaksanaan upacara yadnya. Mitos ini telah berkembang sejak lama di kalangan masyarakat Hindu Bali. Namun, apa yang menjadi dasar dari pantangan tersebut?


Mitos pantang memukul anjing, konon bermula dari cerita Maharaja Janamejaya yang merupakan pewaris tahta Kerajaan Hastina Pura menggelar upacara yadnya di Kuruksetra. Maka , diperintahkanlah oleh beliau salah seorang sanak saudaranya untuk mengawasi dan menjaga tempat pelaksanaan ritual upacara yadnya tersebut. “Sanak saudara beliau yang diperintahkan untuk menjaga dan mengawasi tempat dan pelaksanaan ritual upacara yadnya tersebut bernama sang Srutesena,” tutur Dekan Fakukltas Pendidikan Agama dan Seni UNHI, Dr. I Made Yudhabakti yang diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (4/6/2017).  



Dikatakan lebih lanjut, ketika pelaksanaan upacara yadnya tersebut tengah berlangsung, ada seekor anjing yang bernama Sarameya, ikut menonton dan menyaksikan ritual upacara yadnya tersebut. Dilihatlah anjing tersebut oleh Sang Srutesena, kemudian dipukullah anjing tersebut oleh Sang Srutesena. Anjing tersebut kemudian lari sambil meraung kesakitan. Anjing tersebut kemudian menceritakan hal yang ia alami kepada Ibunya. Ternyata ibu dari anjing yang bernama Sarameya ini adalah Sang Sarama, istri dari Bhagawan Pulaha. Sedih dan terpukul hati Sang Sarama mengetahui bahwa anak beliau dipukul tanpa membuat kesalahan atau dosa. Oleh karenanya, beliau kemudian pergi ke Kuruksetra, tempat di Pmana upacara yadnya itu berlangsung. Setibanya di tempat  Maharaja Janamejaya menggelar upacara yadnya tersebut, beliau kemudian bersabda dan memberikan kutukan.


"Hai Maharaja Janamejaya, Sarameya adalah putraku, ia sangat santun, ia tahu bahwa dirinya kotor, ia tidak menginginkan persembahan dan sesajenmu, apalagi sampai menjilatinya. Sejatinya ia hanya ingin menyaksikan dari kejauhan upacara yadnyamu, tapi ia dipukul, padahal perbuatannya tiada dosa. "Oleh sebab itu akan ada bencana besar yang akan engkau dapatkan di kemudian hari, karena memukul yang tak sepatutnya dipukul," ujarnya.



Demikian kutukan Sang Sarama kepada Maharaja Janamejaya. Setelah berkata demikian,  Sang Sarama kemudian lenyap menghilang dari pandangan. Mendengar kutukan ini, Maharaja Janamejaya menjadi sangat sedih dan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Beliau tidak menyangka bahwa dirinya akan dikutuk oleh Bhatari Sarama. Akhirnya, Maharaja Janamejaya memutuskan untuk menyudahi ritual upacara yadnya tersebut.  Demikianlah sekilas cerita yang dikutip dari Adi Parwa. “Di mana hingga kini tetap menjadi acuan agar mereka yang menggelar upacara yadnya tidak sembarangan memukul anjing yang seringkali datang ke tempat upacara yadnya berlangsung,” terang pria asal Tulikup Gianyar ini . 



Kedatangan anjing dalam setiap pelaksanaan upacara yadnya, tentu memiliki alasan yang mendasar dan masuk akal. Hal ini terkait dengan berbagai jenis makanan dan sesajen yang mampu mengundang kehadian anjing atau binatang lainnya untuk mendekat.  Secara akal sehat, kondisi ini tentu tidak dapat disalahkan, karena  anjing dan binatang lainya , hanya memiliki Dwi Pramana, yakni Bayu dan Sabda saja. “Jadi, mereka tidak bisa berpikir dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh dan mana yang tidak,” imbuh pria yang juga menekuni Pedalangan ini. 



Hal yang biasa dijumpai di mana seringkali anjing-anjing ini berebut dan berkelahi diantara mereka dan tak jarang menyebabkan sedikit kekacauan di tempat upacara yadnya berlangsung. Melihat hal seperti ini, banyak warga   marah dan akan segera mengambil tindakan dengan mengambil kayu,  kemudian memukul anjing tersebut. Namun seringkali, walaupun sudah dipukul dan diusir berkaIi-kali, anjing anjing itu akan kembali Iagi dan kembali membuat gaduh, inilah wujud 'gegodan' kecil dalam pelaksanaan upacara yadnya. “Ketika kita mampu mengatasi hal tersebut, maka tingkat konsentrasi kita dalam pelaksanaan yadnya sudah mumpuni dan tahan godaan,” terangnya. 



Dalam situasi seperti inilah sejatinya kesabaran manusia mendapat ujian. Diperlukannya kehati-hatian agar untuk tidak sembarangan memukul anjing-anjing tersebut. Hal ini tentu berkaitan dengan Ahimsa karma atau menyiksa makhluk hidup lainya. Tentu anjing-anjing tersebut harus diusir, agar tidak mengganggu, tetapi tidak dengan cara menyiksa atau memukul. Tentu masih  ada cara lain, cara yang Iebih baik daripada memukulnya. Lebih baik mengusir mereka dengan cara sekadar menggertak, namun tidak menyakiti, atau mungkin menyediakan tempat di luar tempat upacara di mana anjing-anjing ini bisa diberi makanan, agar tidak mengganggu dan Ialu lalang di tempat upacara berlangsung.  



Memberikan makanan pada anjing-anjing ini adalah salah satu wujud Bhuta yadnya atau pemberian bagi mahkluk bawah, guna mendamaikan mereka. Sama halnya dengan para bhuta, jika anjing-anjing tersebut tidak ditangani dengan baik, mungkin bisa menjadi suatu hal yang mengganggu atau 'gegodan'. Oleh sebab itulah, selain bakti dan ketulusan dalam beryadnya, kesabaran serta ketenangan juga merupakan sebuah hal penting yang harus dimiliki oleh mereka yang menggelar upacara yadnya. Harus diketahui bahwa 'gegodan' atau gangguan,  bisa mengambil wujud apapun, guna menghalangi keberhasilan upacara yadnya yang sedang dilaksanakan. Jadi, jangan biarkan hal kecil menjadi sebuah penyebab gagalnya upacara yadnya yang dilaksanakan. 




Di samping itu pula, apabila diselami lebih dalam makna dari yadnya, maka akan dipahami bahwa segala bentuk upacara yadnya bertujuan untuk mendamaikan ketiga dunia, Bhur Bwah Swaha, serta segala isinya, termasuk para binatang. “Maka siapa pun yang melangsungkan ritual upacara yadnya, jika ingin yadnya yang dilakukan berhasil tanpa halangan, hendaknya menghindari perbuatan-perbuatan yang mungkin menyakiti mahkluk Iain, apalagi mahkluk yang tak berdosa,” tandasnya. 

Editor : I Putu Suyatra