Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Agung Blambangan; Jejak Historis Orang Mengwi di Tembok Rejo

I Putu Suyatra • Minggu, 1 April 2018 | 19:45 WIB
Pura Agung Blambangan; Jejak Historis Orang Mengwi di Tembok Rejo
Pura Agung Blambangan; Jejak Historis Orang Mengwi di Tembok Rejo

BALI EXPRESS, BANYUWANGI - Pura Agung Blambangan di Desa Tembok Rejo, Kecamatan Muncar, merupakan pura terbesar dari  92 buah pura lainnya yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan suci seluas1.375 m2 ini diresmikan bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu, 28 juni 1980. Bagaimana muasal pura dengan Padmasana setinggi 10,6 meter ini dibangun? 


Tim Bali Express (Jawa Pos Group) yang dipimpin Direktur Made Rai Warsa ditemani Gede Agus Suantara, dan I Komang Gede Doktrinaya, meluncur berkendaraan sekitar 1 jam 15 menit dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju lokasi Pura Agung Blambangan.


Mencari Pura Agung Blambangan tak terlalu sulit. Tak bakalan tersesat jauh bila ragu,  karena sebagian warga di pinggir jalan mengetahuinya. Tiba di Jalan Tembok - Kemendung, kemudian berbelok kiri di jalan menuju pura, tepatnya berada di kawasan Jalan Denpasar. Areal parkir  cukup luas di sekitar pura, dan terdapat pula sarana kamar mandi dan warung penduduk sekitar yang tertata rapi. Sejumlah pamangku sudah siaga, bahkan ada yang berada di luar pura.



Salah seorang pemangku Pura Agung Blambangan, Mangku Paimin, seusai memimpin persembahyangan menyambut hangat Bali Express (Jawa Pos Group), dan bersedia meluangkan waktunya untuk  membeber muasal adanya Pura Agung Blambangan.


“Pura Agung Blambangan, awalnya merupakan situs Umpak Songo, peninggalan zaman Kerajaan Blambangan,” turur pria yang usianya sudah berkepala tujuh ini. 



Nama Pura Agung Blambangan, lanjutnya, dilatarbelakangi oleh sejarah perkembangan agama Hindu di Jawa Timur, di mana  pada bagian Timur dari zaman Kerajaan Majapahit, wilayah ini telah disebut Blambangan. Dikatakannya, masyarakat setempat meyakini tempat di sekitar Desa Blambangan adalah pusat Kerajaan Blambangan. Keyakinan ini dikarenakan terdapat penemuan peninggalan sejarah mengenai Kerajaan Blambangan. Selain itu, lanjutnya, terdapat pula situs Umpak Songo yang hanya berjarak satu kilometer arah timur Pura Agung Blambangan,Banyuwangi. Zaman dahulu, banyak warga menemukan benda-benda sejarah ketika menggali tanah di sekitar lokasi, seperti genta kuningan dan berbagai perabot terbuat dari keramik China. Ada juga pernah menemukan arca dan berbagai benda bertuah lainnya. 



Ditemukan juga situs Bale Kambang di Desa Blambangan, Muncar. Konon tempat ini adalah tempat pertemuan rahasia raja Blambangan. Bale Kambang kini sudah tertimbun oleh pepohonan. Bentuknya menyerupai bukit yang menjulang tinggi. Di sekitarnya terlihat jelas tanah mendatar mirip bekas kolam. Menilik bahasanya, Bale Kambang diartikan sebagai balai yang dibangun di atas air. Ada juga yang menyebut balai ini adalah kaputren Permaisuri Raja Blambangan.


Di sekitar Bale Kambang, terdapat sejumlah bukti sejarah yang menguatkan adanya bekas kerajaan besar. Tak jauh dari bale, ada sebuah tanah tinggi yang memanjang. Bentuknya mirip sebuah bukit berbaris. Dipercaya ini adalah tembok istana yang mengelilingi Bale Kambang. Tempat ini terbuat dari tumpukan batu cadas berukuran besar. Selanjutnya daerah ini dikenal dengan nama Tembokrejo. Selain tembok raksasa, banyak lagi situs di sekitar Bale Kambang. “Saat dibangunnya pura, ditemukan sumur gaib di sekitar lokasi pura, sumur ini  diyakini sumur bekas peninggalan Kerajaan Blambangan,” beber Mangku Paimin yang sudah ngayah jadi pemangku sejak 1969. 



Diakui Mangku Paimin, sumur yang kini menjadi sumber untuk tirta itu, kerap menunjukkan hal gaib. “Kadang muncul bulus putih dan seorang wanita di depan padmasana. Kejadian itu kerap dilihat orang yang mempunyai daya supra,” terang Mangku Paimin, yang akhirnya memilih memeluk agama Hindu di tengah lingkungan keluarga tetuanya yang beragama Islam.



Di kawasan Pura Agung Blambangan, lanjutnya, ada lima sumber mata air yang berfungsi untuk panglukatan, dinamai tirta panca limo panglukatan.


“ Mereka yang memohon untuk dilukat biasanya karena sakit dan juga memohon agar diberkati keturunan,” terangnya.



Mangku Paimin yang mengaku tak bisa apa-apa ini, hanya menemani dan turut memohonkan kepada leluhur orang Bali (Hindu) yang berstana, agar permohonan umat yang tangkil bisa dikabulkan.


“Saya berkeyakinan dengan pilihan saya karena sudah perintah lelangit. Lima hari jelang saya didapuk jadi pamangku, istri saya bermimpi kepala saya ditancap dan dihiasi janur di kepala di Pura Agung Blambangan. Dan, lima hari kemudian, ternyata saya dipilih oleh warga untuk jadi pamangku,” tuturnya.  



Tentu saja, tugas ini sangat sulit baginya, namun berkat dorongan spirit istri, juga mempertimbangkan sejarah masa lalu, akhirnya dia mantap dengan keputusannya untuk ngayah.  



Sebelum.dibangun seperti sekarang, lanjutnya, pura masih dipagar bambu, dan demi.keamanan dijaga aparat. “Awalnya  disungsung 40 kepala keluarga,  kini terus berkembang dan sudah ada 16 pemangku yang bertugas bergiliran,” bebernya. 



Soal pawisik (bisikan gaib), diakuinya kerap diberikan oleh beliau yang berstana yang mereka sebut sebagai leluhur umat Hindu. Mangku Paimin tak mau membeber apa saja pawisik yang diterimanya. Untuk urusan niskala atau gaib, mengorek keterangan dari Mangku Paimin sangat sulit, bahkan kerap mengalihkan pembicaraan.  Namun, patut disyukurinya  sejak.jadi pamangku 1969, fisiknya tak pernah ada masalah karena ada semangat ngayah dan bakti.


 “Saya hanya memohon kepada beliau. Saya juga tak.bisa apa apa soal kepamangkuan, tapi beruntung pihak pemerintah terus memberikan.penataran , sehingga perlahan bisa melakukan tatacara sebatas kemampuan.yang bisa.,” akunya.



Soal pengalaman unik? Mangku Paimin pernah diminta sejumlah warga untuk memohonkan secara niskala, sekaligus  diminta memercikkan tirta di semua lokasi pencoblosan pemilihan Kepala Desa. “Kebetulan  yang dimohonkan akhirnya jadi pemenang. Entah itu kebetulan atau tidak, tapi saya meyakini bahwa ada restu dari beliau yang berstana di pura,” ungkapnya.



Ada sebuah peristiwa luar biasa yang terjadi di Blambangan, yaitu pembakaran jenazah Pangeran Tawangalun yang meninggal 18 September 1691. Menurut catatan seorang aparat VOC Valentijn, dua puluh lima hari setelah meninggal, yaitu pada 13 Oktober 1691 dilaksanakan upacara kremasi (ngaben) yang disertai dengan prosesi belapati atau masatya oleh 270  orang wanita. Wanita-wanita itu adalah istrinya dan pengikut fanatiknya, menceburkan diri ke dalam kobaran api suci.


 Wanita pengikut fanatik, termasuk isterinya, seluruhnya ada 400 orang. Dengan demikian tinggal 130 orang yang masih hidup. Kemudian abu Pangeran Tawangalun ditempatkan (dicandikan) di hutan Malecutan. Nama Pangeran Tawangalun  (pendiri Kota Macan Putih), memang harum bagi orang Blambangan karena membawa rakyatnya ke dalam kemakmuran dan kesejahteraan.


Tahun 1676 Pangeran Tawangalun berhasil membebaskan diri sebagai raja bawahan (vasal) dari kekuasan Kerajaan Mataram. Karena itu, rakyat Blambangan, khususnya masyarakat Banyuwangi masih tetap mengenangnya. Beberapa nama diabadikan sebagai nama kelembagaan, seperti nama terminal bus di Desa Jubung-Jember, Radio Tawangalun, pemancar di Kota Genteng, nama tempat suci Pura Tawangalun di Pancer, Pesanggaran,  Banyuwangi. 



Wilayah Blambangan kemudian berada di bawah kekuasaan Kerajaan Mengwi sejak tahun 1736, dan menempatkan Pangeran Menak Jingga sebagai raja bawahan. Menak Jingga adalah putera Pangeran Danureja, dan menjadi raja terakhir Blambangan yang berdarah Tawangalun. 



Adiknya Mas Sirna menjabat sebagai patih dengan nama Wong Agung Wilis (gelar Jawa, setara dengan Anak Agung di Bali). Selanjutnya, Gusti Gede Lanangjaya dari Denpasar diutus oleh Raja Mengwi untuk melantik Pangeran Menak Jingga dan Mas Sirna. 



Di lain sisi, hubungan Pangeran Menak Jingga dengan patihnya Wong Agung Wilis tidak harmonis. Wong Agung Wilis dicurigai berniat merebut kekuasaan. Itu sebabnya kedudukannya diganti oleh Mas Sutawijaya (putranya sendiri) sebagai patih kiwa dan Mas Sutanegara (kemenakan raja) sebagai patih tengen. Wong Agung Wilis pergi mengembara bertapa ke pesisir pantai selatan, ke gunung-gunung, ke gua-gua yang angker dan mendirikan pesraman di tempat yang sekarang disebut Desa Sanggar. Sehingga, Wong Agung Wilis terkenal sebagai orang yang sangat keramat dan sakti. Pejuang-pejuang rakyat Blambangan generasi berikutnya yang  melawan VOC dipercaya sebagai titisan Wong Agung Wilis.


Selain itu, Pangeran Menak Jingga juga membunuh Senapati Blambangan yang bernama Rangga Satata, atas hasutan anaknya Mas Sutawijaya.


Berita terbunuhnya Rangga Satata sampai ke Raja Mengwi. Raja Mengwi murka kemudian mengirim bala tentara yang dibantu Wong Agung Wilis menyerbu Blambangan. Pengeran Menak Jingga melarikan diri, mengungsi ke gunung Gumitir (Merawan), terus ke Senthong (sekarang Bondowoso), Basuki, Banger (sekarang Prabalingga), dan Lumajang.


Di Lumajang utusan Wong Agung Wilis bertemu dengan Pangeran Danuningrat, dan berhasil membujuk untuk diajak ke istana Blambangan. Dari istana Blambangan, utusan Raja Mengwi mohon pamit dengan membawa Pangeran Menak Jingga ke Bali.


Sampai di Mengwi, pangeran berdarah Tawangalun ini dieksekusi mati. Pangeran Menak Jingga alias Raden Mas Sepuh (dalam Babad Bali disebut Pangeran Blambangan) dibunuh di Pantai Seseh. Eksekusi  atas perintah Raja  I Gusti Ayu Oka ini, dilakukan oleh I Gusti Agung Kamasan dari Puri Sibang dan Mekel Munggu.


Sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya,  Pangeran Blambangan mengutuk Kawyapura atau Mangupura (Kerajaan Mengwi) akan mengalami masa-masa surut. Setelah wafat, Pangeran Blambangan dibuatkan Meru Tumpang Solas, yang disembah oleh orang-orang di Desa Munggu, Cemagi, dan Sibang. 



Selanjutnya, Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba bersama adiknya Ki Gusti Ngurah Kutha Bedha, diangkat oleh Raja Mengwi sebagai penguasa Blambangan, menggantikan Pangeran Menak Jingga. Disebut Kaba-kaba karena berasal dari Desa Kaba-Kaba, Kecamatan Kediri, Tabanan. Keduanya setelah diangkat sebagai Raja dan patih oleh Raja Mengwi, segera berangkat ke Blambangan dengan pasukan berjumlah 300 prajurit, dipimpin Ki Tumbakbayuh dan Ki Gajah Gulingan.


Mereka berangkat lewat Pantai Seseh sampai di Blambangan disambut oleh para mantri punggawa. Penguasa Bali ini beristana di Lemah Bang (sekarang Rogojampi, Banyuwangi). Pada awal masa pemerintahannya Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba telah melanggar pesan dan amanat Raja Mengwi.


Pengangangkatan Mantri Ki Mas Anom dan Mas Weka oleh Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba mempunyai pamerih tertentu. Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba ternyata doyan perempuan Banyuwangi. Kedua mantri ini diperintahkan menyediakan gadis-gadis Banyuwangi. Mas Anom merasa sedih, tiap hari, siang-malam hanya wanita saja yang dibicarakan oleh penguasa Bali ini.


Mas Anom pun waswas meninggalkan rumahnya, karena isterinya di rumah sering diganggu. Tidak tanduk Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba bersama patihnya Kutha Bedha, benar-benar menyimpang dari misi yang diembannya. Rakyat Blambangan semakin tidak bersimpati atas kekuasaan Kerajaan Mengwi ini, terlebih lagi didengar berita bahwa Pangeran Menak Jingga (Raden Mas Sepuh) dibunuh di Pantai Seseh. 



Kebencian rakyat Blambangan kepada penguasa dari Bali semakin memuncak. Mantri Wedana Mas Anom berbalik haluan. Ia memimpin pasukan Blambangan menyerbu kediaman Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba bersama Patihnya Ki Gusti Ngurah Kaba-Kaba, Kutha Bedha. Melihat kekuatannya tidak berimbang, kedua penguasa Bali itu memutuskan melakukan puputan. Ki Mas Anom berhasil memenggal kedua kepala penguasa dari Bali itu. Sementara istri-istrinya bunuh diri sebagai tanda setia dan mencegah untuk dijadikan istri boyongan alias rampasan.


Ki Mas Anom kemudian menyerahkan kedua kepala mantan penguasa dari Bali itu kepada Komandan VOC Letnan Edwin Blangke. Sejak itu kemenangan demi kemenangan VOC mulai tampak. Orang-orang Bali yang melarikan diri dan bersembunyi di hutan-hutan digiring ke markas VOC dan dibunuh. Dengan demikian berakhir sudah kekuasaan Kerajaan Mengwi, selanjutnya Blambangan memasuki babak baru di bawah kekuasaan VOC. Selanjutnya VOC mengangkat Sutanagara dan Wasengsari sebagai Bupati dan wakilnya.


Kedua pemimpin baru Blambangan ini dipaksa memeluk agama Islam oleh Kumpeni untuk menjauhkan para pemimpin dan rakyat Blambangan dari pengaruh laten Bali. Sementara rakyat Blambangan sendiri sangat anti Mataram, karena teringat oleh pengerusakan wilayahnya yang dilakukan oleh bala tentara Sultan Agung, Raja Mataram.


VOC ternyata kesulitan mencari pejabat bupati yang benar-benar loyal kepada pihaknya. Bupati Sutanagara diberhentikan, Kartanagara diangkat sebagai penggatinya. Kartanagara juga menjabat sebentar, dia digantikan dengan Ki Mas Rempeg. Masa pemerintahan Ki Mas Rempeg terjadi perlawanan rakyat, yang disebut Perang Bayu. Perang Bayu adalah perangnya rakyat Blambangan yang didukung oleh bala tentara Bali melawan pihak VOC, yaitu Madura dan Mataram.


Seorang tentara VOC yang bernama Serma Van Schaar tewas, mayatnya dimasak dan dimakan bareng oleh bala tentara Blambangan. Sedangkan potongan kepalanya ditancapkan pada sebatang kayu, dipertontonkan berkeliling kepada rakyat Blambangan.
Berita ini membuat pihak VOC marah besar. VOC membalasnya dengan menangkap dan menenggelamkan orang-orang yang dicurigai melakukan aksi tersebut. Bupati Blambangan selanjutnya yang diangkat VOC adalah Mas Alit Wiraguna. Atas perintah VOC, Bupati Wiraguna melakukan pengusiran terhadap para pendeta Hindu etnis Bali. Masa pemerintahan Bupati Wiraguna juga tidak luput dari perlawanan sejumlah pejuang rakyat Blambangan yang masih seagama dengan rakyat Bali, meskipun perlawanannya berskala lebih kecil.



VOC dibubarkan tanggal 31 desember 1799 dan diganti oleh Pemerintah Hindia – Belanda, yang menguasai Blambangan sampai 1942. Dalam masa itu, Inggris sempat menyela menguasai Blambangan tahun 1811 – 1816. Dari tahun 1800 – 1942, perlawanan rakyat Blambangan sudah mereda. Pulau Bali juga sudah dikuasai Belanda melalui Puputan Klungkung sejak tahun 1908.

Editor : I Putu Suyatra
#pura #sejarah pura