Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dalam Tantra, Seks Yoga Penyatuan Ilahi, Setara Sucinya dengan Pratima

I Putu Suyatra • Jumat, 6 April 2018 | 16:57 WIB
Dalam Tantra, Seks Yoga Penyatuan Ilahi, Setara Sucinya dengan Pratima
Dalam Tantra, Seks Yoga Penyatuan Ilahi, Setara Sucinya dengan Pratima

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bagi sebagian masyarakat, seks adalah tabu. Stigma negatif yang melekat itu, seakan tak pantas dibicarakan ataupun diedukasikan di depan umum. Seperti apa sejatinya seks ditilik dari Tantra?


Dalam Tantra ternyata seks sudah sangat umum dibicarakan, dan dianggap sebagai salah satu cara menyatukan diri dengan Tuhan. Lantas apa korelasi seksi dengan Tuhan dalam ajaran Tantra tersebut?
Seks bagi sebagian orang dianggap tabu.


Ada dua stigma yang beredar di masyarakat mengenai seks. Sebagian menganggap seks adalah tabu, dan sebagian lagi menganggap seks adalah tuntutan jasmani yang dialami oleh semua orang. "Dalam Tatwa Siwa, seks adalah sebuah perilaku yang dianggap suci, karena seks merupakan proses spiritual kembalinya kita kepada Shiva Shakti, yaitu purusa dan prakerti, " papar  Dosen Fakultas Brahma Widya, Institut Hindu Dharma Denpasar (IHDN), DR I Gede Suwantana M.Ag, Kamis (5/4) kemarin di Kampus IHDN Denpasar.


Dalam Vijnanabhairava, lanjut Suwantana, Tantra disebutkan hubungan suami istri atau yang biasa disebut seks adalah sesuatu yang suci. Bahkan, kesucian hubungan seks setara dengan kesucian pratima yang ada di pura.  “ Mengapa seks kesuciannya disebut setara dengan pratima? Karena dalam Tantra, seks adalah sebuah pertemuan antara purusa dan prakerti yang melambangkan Shiva Shakti dengan landasan cinta dan kasih sayang. Sehingga, terlahirlah suatu kehidupan baru. Lantaran itu, perilaku seksual  dianggap suci,” ujar Suwantana.



Dosen lulusan India ini mengungkapkan, semua hubungan seks dikatakan suci. Namun, hubungan yang terjadi di luar ikatan pernikahan dikatakan sebuah penghianatan terhadap Shiva Shakti itu sendiri.


“Karena hubungan seksual itu dalam Tantra sangatlah suci, maka tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus melalui rangkaian upacara khusus dalam suatu pernikahan, jadi tidak sembarangan. Dan, jika hubungan seks itu dilakukan di luar hubungan pernikahan, artinya yang mereka lakukan adalah berhianat terhadap ajaran Tantra dan Shiva Shakti,” ujarnya.



Suwantana menjelaskan, ada uraian mendasar mengapa perilaku seks dikatakan suci. Dalam Rsi Sembina menjelaskan bahwa : Lwir nika sang hyang angastula riawak nikang stri isedeng nian kasparsa ikang nari wisesa, denira sang Maha Widagda Purusa: Hyang Brahma, Wisnu, Indra, Apsari, Uma, Sita, Arjuna, Iswara (RS. 8)



“Dalam kutipan Rsi Sembina itu menjelaskan, bahwa dalam tubuh seorang istri yang sedang orgasme, ada delapan dewa yang sedang bersemayam ketika melakukan hubungan seksual. Yaitu Sang Bijaksana,  Dewa Brahma, Wisnu, Indra, Apsari, Uma, Sita, Arjuna, Iswara. Nah, karena adanya kedelapan dewa suci ini,  makanya hubungan sekual itu dikatakan suci adanya,” ujarnya.



Soal korelasi antara perilaku seksual dengan Tuhan dalam ajaran Tantra,  Suwantana menyebutkan beberapa teks Tantra menggunakan simbol-simbol seks dalam memaparkan aspek-aspek Ketuhanan. Seperti konsep Lingga Yoni adalah bentuk pemujaan paling kuna yang pernah ditemukan dalam sejarah peradaban manusia. Pemujaan Pallus (Lingga) tersebar hampir di seluruh dunia sejak zaman purba. Orang memahami bahwa pemujaan Pallus adalah permohonan untuk kesuburan.



“Saat ini pun pemujaan ini masih eksis, walaupun sudah disesuaikan dengan konteksnya. Aspek maskulin dan feminim merupakan entitas hidup di dunia yang bersifat bipolar. Agar menjadi sempurna, penyatuan terhadap kedua entitas tersebut menjadi sangat esensial,”ungkapnya.


Bahkan, dalam gambaran Chinnamasta, hubungan seks merupakan tindakan spiritual yang di dalamnya bisa digunakan untuk mengecap rasa kesatuan dengan Ilahi melalui pemanfaatan tiga aliran sungai dalam diri.




“ Chinnamasta adalah seorang dewi yang berdiri di atas dua manusia yang tengah bercumbu.
Dewi tersebut memotong kepalanya dan mengeluarkan tiga pancuran darah yang salah satu nya diminum oleh potongan kepalanya sendiri. Maknanya sebagai simbolisasi kontrol seksual diri dan pertumbuhan energi seksual itu sendiri,” ujarnya. 

Editor : I Putu Suyatra