BALI EXPRESS, GIANYAR - Sebagai desa yang diyakini menjadi pusat kerajaan masa lampau, menjadikan Pejeng sampai saat ini memiliki banyak pura-pura besar dan bersejarah. Seperti Pura Kebo Edan, pura yang memiliki sejarah panjang, sekaligus bukti ajaran tantrayana berkembang di Bali.
Berdiri persis di dekat perbatasan Desa Pejeng dengan Bedulu, Gianyar, Pura Kebo Edan yang lokasinya tak jauh dari Pura Pusering Jagat , memang terlihat mencolok dari areal sekitarnya. Dikelilingi tembok tinggi, pura ini dari luar nampak jelas memiliki sejarah yang panjang. Terlebih dari papan nama yang tertera, pura ini menjadi salah satu situs purbakala, bersama beberapa pura kuna lainnya di sekitaran Pejeng dan Bedulu.
Mengulas Pura Kebo Edan, disebutkan jika keberadaanya memang berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Hindu di Indonesia. Sebab, pura ini disebut menjadi bukti berkembangnya ajaran Hindu Trantrayana di Bali. Ajaran yang menfokuskan pemujaan sakti sebagai Ista Dewata-nya. Hal ini pun seperti penuturan Jero Mangku Ngakan Putu Duaja, pemangku Pura Kebo Edan beberapa waktu lalu, merujuk kesimpulan ahli ilmu purbakala asal Belanda De. W.F. Stuttwerheim atas beberapa peninggalan purbakala di Pura Kebo Edan.
Selain itu, keyakinan tersebut juga tertuang dalam beberapa sumber lain, yang menyebutkan jika keberadaannya diyakini berkaitan dengan ajaran Bhairawa, yang berkembang pada zaman Bali Kuna. Sebuah ajaran yang di Bali, menjurus pada dua aliran, yakni pangiwa dan panengen. Pangiwa sendiri memunculkan pengetahuan tentang leak, desti, teluh, taranjana, dan wegig. Sedangkan panengen memunculkan pengetahuan tentang kawisesan dan pragolan.
Lantas, bagaimana dengan ajaran Bhairawa tersebut? Masih menurut Jero Mangku Ngakan Putu Duaja, berdasarkan peninggalan-peninggalan purbakala, diketahui ada tiga macam aliran Bhairawa. Pertama Bhairawa Kala (Hala) Cakra yang merupakan pertemuan ajaran Budha dengan ajaran Tantrayana. Kemudian Bhairawa Heruka (Heru Cakra), merupakan ajaran yang muncul dari tradisi kepercayaan Indonesia bercampur dengan ajaran Kala Cakra, yang dia sebut terdapat di Padang Lawas, Sumatera Barat. “Kalau yang terakhir, yakni aliran Bhairawa Bhima Sakti yang ada di Bali, pertemuan ajaran Bhairawa dengan ajaran Siwa,” sambungnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Namun, ajaran ini disebutkan mempunyai tendesi politik. Tujuannya untuk mendapatkan kharisma besar dalam pengendalian pemerintahan dan menjaga keamanan kerajaan. “Makanya, ajaran ini banyak diikuti para raja atau petinggi kerajaan pada zaman dulu. Seperti Kertanegara yang merupakan Raja Singosari, dan mentahbiskan dirinya sebagai Bhairawa usai menduduki Bali, serta mengangkat Kebo Parud sebagai wakilnya di Bali,” terangnya.
Tak hanya Kertanegara, sebagai upaya mengimbangi kharisma para raja-raja di Bali, diceritakan sosok Raja Patih Kebo Parud juga turut menganut ajaran Bhairawa Bima Sakti, yang secara bersamaan ketika itu ajaran Tantrayana juga turut dikembangkan di Bali. “Makanya, para arkeolog meyakini Pura Kebo Edan sebagai tempat pemujaan Hindu Tantrayana, dan didasarkan atas peninggalan arca-arca yang terdapat di pura ini,” bebernya.
Sebab, menurut dia, ajaran Tantrayana yang dipraktikkan di Pura Kebo Edan merupakan ajaran Bhairawa Bima Sakti, seperti keberadaan arca Siwa Bhairawa. Sebuah arca yang berdiri menjulang sekitar tiga meter, dan terletak nomor dua dari barat di sisi selatan pura.
Melihat posisi arca Siwa Bhairawa yang tampak berkacak pinggang, disebut dalam keadaan kroda (marah), dan mimik menakutkan. Lantaran tak hanya berkacak pinggang, kakinya juga mengangkang dan berdiri di atas mayat manusia.
Tak hanya arca Siwa Bhairawa, dari pantauan di Pura Kebon Edan, pada utamaning mandala juga terdapat beberapa arca lainnya. Seperti arca Ratu Penatih, arca Ratu Pulu, arca Ratu Ganesha, arca Ratu Glebeg, arca Ratu Bayu, serta dua arca yang mengapit arca Siwa Bhairawa, yakni arca Ratu Bawi dan arca Ratu Kebo. Sedangkan satu arca lainnya, yakni arca Gajah, yang berada di luar dibawah sebuah pohon.