BALI EXPRESS, GIANYAR - Pejeng sebagai salah satu desa tua di Bali, menyimpan banyak pura bersejarah. Namun , satu pura yang selama ini tak banyak diketahui, yakni Pura Manik Corong, tempat berstananya Ida Hyang Manik Corong, yang diyakini sebagai salah satu putra Dewa Pasupati.
Berlokasi di wilayah Banjar Puseh, Desa Pejeng, Gianyar, tepatnya di ruas Jalan Proklamator, Pura Manik Corong merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang ada di Pejeng. Dilihat dari depan, keberadaan pura ini memang tidaklah besar atau pun memiliki natar (halaman) yang luas, layaknya sebuah Pura Kahyangan Jagat. Karena untuk bagian utama mandala luasnya tak lebih dari 10x10 meter, dan bagian madya mandala hanya sekitar 4x10 meter. Bahkan, bagian nista mandala, berupa Jalan Proklamator, atau jalan utama yang menghubungkan Pejeng dengan Tampaksiring.
Belum lama ini, Bali Express (Jawa Pos Grop) pun berkesempatan mendatangi pura yang berada tepat di sisi timur Merajan Agung Puri Pejeng. Didampingi Jro Mangku Ngakan Ketut Rai, 64, yang merupakan pemangku Pura Manik Corong, banyak cerita dan sejarah pura ini yang secara langsung dibebernya.
Namun yang menarik, tentu saja mengenai keberadaan sebuah palinggih berupa pelataran berundak dengan panjang sekitar 3 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter, yang berada di sisi timur utamaning mandala. Di bagian atas palinggih yang biasa disebut dengan Palinggih Penerangan itu, terdapat beberapa arca peninggalan purbakala. Seperti dua buah benda yang bentuknya memanjang layaknya tutup sarkopagus. Kemudian sebuah arca dengan lubang tembus ke belakang, lalu sebuah lingga, dan arca manusia dalam sikap duduk berjongkok dengan mata melotot. Selain itu, ada juga arca raksasa, dua buah fragmen arca dan sebuah arca yang sampai kini memang sulit diidentifikasi. Karena itulah, pura ini dan arca-arca ini menjadi bagian dari peninggalan purbakala, seperti ribuan peninggalan purbakala lainnya yang tersebar di Pejeng.
“Tapi, kalau lebih mendetail tentang arca-arca yang ada di Palinggih Penerangan, mungkin lebih pas ditanyakan langsung ke bagian purbakala. Misalnya arca itu peninggalan tahun berapa dan lainnya,” ucapnya.
Namun, seperti kata pemangku yang juga pensiunan guru SD ini, jika ditinjau dari unsur dan struktur bangunan palinggih-nya, keberadaan Pura Manik Corong memang hanya sepelebahan pura kecil saja. Seperti yang dia tahu berdasarkan beberapa sumber lontar, Pura Manik Corong berkedudukan, berfungsi, dan berstatus sebagai salah satu unsur dalam struktur Pura Kahyangan Jagat Bali. Hal tersebut tentunya jika dilihat dari aspek sosiologis spiritualnya.
Salah satunya seperti yang tertuang dalam lontar Sapta Supralinggagiri, yang menurut Jro Mangku Ngakan Ketut Rai, disebutkan jika asal-usul tujuh gunung di Bali, dengan khayangan stana tujuh istadewata yang secara pantheon dikemukakan sebagai putra Hyang Pasupati, yang berparahyangan di Gunung Semeru Agung, Lumajang, Jawa Timur. Atas dasar itu, Balidwipa (Pulau Bali) dan Jawadwipa (Pulau Jawa), dikenal dengan adanya delapan gunung (astalinggagiri), yang merupakan khayangan sebagai stana dari delapan dewa.
Masih menurut ceritanya, sesuai dengan lontar Sapta Supralinggagiri, dikisahkan Dewa Pasupati yang berstana di Gunung Semeru melihat kondisi Balidwipa yang masih labil. Sebuah kondisi yang membuat Dewa Pasupati, memerintahkan Sang Naga Badawangnala, Sang Naga Anantabhoga, Sang Naga Basuki, dan Sang Naga Taksaka, memindahkan bagian salah satu puncak Gunung Semeru ke Balidwipa, guna menstabilkan Balidwipa.
Tugas keempatnya itu, antara lain Sang Naga Badawangnala menjadi penyangga bagian puncak Gunung Semeru yang dipindahkan ke Balidwipa. Lalu, Sang Naga Anantabhoga dan Sang Naga Basuki menjadi tali pengikatnya. Terakhir , Sang Naga Taksaka menerbangkan dari Gunung Semeru ke Balidwipa. Saat bagian puncak Gunung Semeru tersebut diterbangkan, ada bagiannya yang terlepas lalu jatuh, yang kini disebut dengan Gunung Batur. Sedangkan bagiannya yang utuh, saat ini disebut dengan Gunung Agung. Oleh karenanya, ketika itu di Bali ada yang namanya Sad Linggagiri, yang meliputi Gunung Lempuyang, Gunung Andakasa, Gunung Watukaru, Gunung Mangu (Gunung Beratan) , Gunung Batur, dan Gunung Agung.
Kemudian sebagai langkah selanjutnya, Dewa Pasupati memerintahkan putra-putranya agar berstana di gunung yang ada di Bali, untuk menjadi panyungsungan dan panyiwian raja-raja dan masyarakat Balidiwpa. Para putra Dewa Pasupati tersebut, antara lain Hyang Gnijaya yang berstana di Gunung Lempuyang. Kemudian Hyang Tugu yang berstana di Gunung Andakasa, Hyang Putra Jaya yang berstana di Gunung Agung, Hyang Dewi Danuh dengan stana Gunung Batur, Hyang Tumuwuh dengan stana Gunung Watukaru, dan Hyang Manik Gumawang yang berstana di Gunung Beratan (Pucak Mangu), serta Hyang Manik Galang yang berstana di Pejeng. “Karena itu, sejak itu di Balidwipa dikenal adanya Saptalinggagiri (Sapta Supralinggi), yakni stana tujuh putra Dewa Pasupati di Bali Dwipa,” paparnya.
Apa yang disampaikan Jro Mangku Ngakan Ketut Rai juga bersambungan dengan kedatangan panitia piodalan di Pura Semeru, Lumajang, beberapa waktu lalu ke Pura Manik Corong. Kedatangan panitia piodalan itu, untuk matur piuning, sekaligus nunas pikuluh, terkait dengan piodalan di Pura Semeru Agung. “Inilah kaitannya antara Hyang Manik Galang dengan Dewa Pasupati yang berstana di Semeru Agung sebagai salah satu putra beliau,” sambungnya.
Lantas siapa pangemong Pura Manik Corong saat ini. Dikatakan olehnya, sejak karya agung pada 2002 silam dan dilaksanakan pemerintah, pura ini pun diemong Desa Pakraman Jero Kuta Pejeng. Sedangkan untuk upacara piodalan dilaksanakan setiap rahina Budha Cemeng Kelawu, atau setiap enam bulan sekali.
Namun sayang, meski status Pura Manik Corong sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat, kondisi saat ini memang tak sebaik pura-pura lainnya. Walau bangunan pura masih cukup baik, namun kondisi natar-nya cukup rendah. Tak ayal, badan jalan yang berada di depannya, jauh lebih tinggi dari bataran palinggih di dalam pura.
“Karena itu, saya pribadi sangat berharap ada bantuan untuk perbaikan. Minimal untuk panyengker bisa lebih ditinggikan, termasuk Palinggih Penerangan, sebagai palinggih utama,” pungkasnya.