Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Manik Corong, Dikenal Sebagai Tempat 'Nerang'

I Putu Suyatra • Minggu, 22 April 2018 | 14:59 WIB
Pura Manik Corong, Dikenal Sebagai Tempat
Pura Manik Corong, Dikenal Sebagai Tempat

BALI EXPRESS, GIANYAR - Keyakinan atas berstananya Ida Hyang Manik Galih (Galang) di Pura Manik Corong, di Banjar Puseh, Desa Pejeng, Gianyar, juga membuat keyakinan akan keberadaan pura ini tumbuh di masyarakat setempat, bahkan hingga keluar Gianyar. Seperti keyakinan  sebagai tempat untuk menawar hujan atau  Nerang.



Pemangku Pura Manik Corong, Jro Mangku Ngakan Ketut Rai mengakui bahwa keyakinan soal Nerang memang sudah dari dulu ada. "Karena itu, ketika masyarakat Pejeng mau melaksanakan kegiatan, pasti nunas biar terang (tidak hujan) disini. Apakah itu kegiatan perkawinan, karya, piodalan, atau kegiatan lainnya,” ucap Jro Mangku Ngakan Ketut Rai.



Tidak hanya masyarakat Pejeng, permohonan supaya tidak hujan ke Pura Manik Corong, juga dilakukan masyarakat Gianyar lainnya. Makanya, keyakinan akan Pura Manik Corong sebagai tempat untuk memohon supaya tidak turun hujan, sudah terkenal tak hanya di wilayah Pejeng saja.



“Bahkan dari luar Gianyar juga sering. Tapi kalau yang dari luar Gianyar, biasanya selain nunas supaya tidak sabeh (hujan), juga nunas jatu (simbol), apakah itu berupa korek api, atau dupa. Jadi, korek atau dupa itu dihidupkan di lokasi dilaksanakan kegiatan. Istilahnya nyejer di tempat tersebut,” paparnya.
Lantas seperti apa sarana untuk memohon supaya tidak hujan? Dari penjelasan Jro Mangku Ngakan Ketut Rai, sarana tersebut berupa pajati prasantun, bol babi, segehan, nasi kepelan, dan kayu api. “Sarana itu dihaturkan di Geni Gotra (penerangan),” paparnya.



“Kalau cerita lain sejauh yang saya tahu memang tidak ada, selain untuk memohon penerangan, dan tentunya memohon karahayuan dan keselamatan,” jawabnya, ketika ditanya adakah keyakinan lain selain untuk penerangan.



Namun, dalam kaitannya dengan Ida Hyang Manik Galang, diakuinya jika Pura Manik Corong sangat sering menjadi lokasi para usada, balian , dan kelompok spiritual melakukan meditasi. Bahkan tak jarang, dia sendiri sering diminta mendampingi ketika ada seseorang yang datang untuk meditasi.


“Jadi, meski jika siang hari suara bising karena di depan pura berupa jalan nasional yang banyak kendaraan. Tapi kalau malam dan di hari-hari tertentu banyak yang meditasi di sini. Karena menurut mereka, aura di sini beda. Bahkan, tak jarang ada beberapa yang karauhan di sini,” paparnya.



Tapi, satu cerita menarik disampaikan pemangku murah senyum ini. Cerita ini terkait dengan penangkapan gembong teroris dr Azahari, salah satu sosok  terkait Bom Bali. Berdasarkan ceritanya, sebelum teroris asal Malaysia ini tewas dalam penyergapan Densus 88 di Kota Batu medio 2005 silam, beberapa hari sebelumnya, seorang pedanda sempat datang ke Pura Manik Corong. “Beliau datang untuk nunas supaya salah satu pelaku Bom Bali itu bisa ditangkap. Ternyata, tiga atau beberapa hari setelahnya, saya melihat berita di televisi ternyata dr Azahari ini tewas setelah disergap polisi,” ceritanya singkat. 

Editor : I Putu Suyatra
#pura unik #pura #sejarah pura