BALI EXPRESS, TABANAN - Masih belum pudar di ingatan tentang pertunjukkan Calonarang dengan watangan mapendem (dikubur, Red) di Desa Getakan, Klungkung yang menyedot perhatian masyarakat. Namun kini sebuah Calonarang yang akan digelar di Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, juga mengundang rasa penasaran masyarakat lantaran menggunakan watangan mebakar (dibakar, Red).
Panggung , tragtag, dan berbagai ornament sudah terpasang di lahan kosong di Banjar Temuku Aya, Desa Tangguntiti, Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan, Senin (23/4). Persiapan itu dilakukan tidak lain adalah untuk pementasan Calonarang yang digelar oleh Pasraman Cakra Ca Buana. Yang membuatnya berbeda adalah digunakannya watangan mebakar atau bangke matah yang dibakar.
Ditemui di Pasraman Cakra Ca Buana, Guru Pasraman Cakra Ca Buana, I Bagus Putu Budi Adnya, 48, menjelaskan bahwa pementasan Calonarang tersebut sejatinya adalah penampilan seni dari orang-orang yang berkesenian, dimana di Pasraman Cakra Ca Buana yang awalnya untuk belajar pengobatan tradisional Bali tersebut, sejak 4 tahun belakangan ini membeli sanggar seni dan budaya untuk para sisya (murid, Red).
“Pasraman ini ada sudah 10 tahun, sedangkan sejak tahun 2014 kita bentuk sanggar seni dan budaya, jadi diisi dengan berbagai kegiatan untuk mengajegkan seni dan budaya Bali,” ungkapnya.
Sehingga serangkaian dengan HUT Pasraman Cakra Ca Buana yang ke-10, maka pihaknya menggelar sebuah pementasan Calonarang Watangan Mebakar yang tentunya membuat siapa pun yang mendengarnya akan langsung penasaran.
Calonarang yang mengambil cerita Nyai Ratna Sumedang tersebut akan dibawakan oleh para sisya yang tergabung dalam sanggar pada hari Selasa (24/4) (hari ini, Red). Sedangkan yang menjadi watangan mebakarnya adalah juga salah seorang sisya di Pasraman Cakra Ca Buana yakni I Ketut Suwitna, dari Banjar Tangguntiti Gede. Kendatipun akan menunjukkan sebuah pertunjukan yang membuat masyarakat penasaran, dirinya tidak mau disebut penampilkan pertunjukkan adu kawisesan (kesaktian, Red).
“Tetapi kami hanya seniman kecil yang ingin berekspresi, ingin menampilkan pertunjukkan seni tanpa bermaksud untuk pamer kawisesan (kesakitan, Red) atau ilmu, tidak ada maksud untuk saling pamer kekuatan atau kesaktian, tetapi ini wujud kami turut melestarikan dan mengajegkan seni dan budaya Bali,” paparnya.
Menurut, adanya watangan mebakar tersebut adalah merupakan wujud Pemurug Ajian Geni Astra atau ajaran pengelukatan untuk orang-orang sakit dengan media api. Disamping itu, kenapa memilih watangan mebakar? Kata dia, simbol api mewakili kehidupan di dunia saat ini yang begitu panas, namun sepanas apapun kehidupan, jika orang itu selalu mensyukuri apa yang dialaminya maka orang itu akan bahagia.
Termasuk pihaknya yang merasa bahagia apabila dapat menghibur masyarakat, terlebih dipastikan ribuan pecinta Calonarang dari berbagai daerah di Bali akan datang untuk menyaksikan pementasan tersebut.
Namun ia menyadari jika segala hal yang dilakukan pasti memiliki risiko, termasuk adanya risiko watangan yang terbakar. Namun pihaknya tetap berharap jalannya pementasan lancar dan tanpa kendala berarti. Sehingga sebelum pementasa dilakukan, ia juga melakukan ritual khusus pukul 02.00 dini hari dan melakukan penangkilan kesejumlah Pura.
“Dan yang watangan pun melakukan sejumlah ritual, seperti berpuasa, termasuk saya juga ada ritual khusus nanti sebelum pementasan,” lanjutnya.
Namun yang terpenting adalah, sebelum menjadi watangan, calon watangan juga harus melakukan sejumlah persiapan, seperti melakukan pembelajaran tattwa Pemurug Ajian Geni Astra dan melakukan olah rasa dan olah bathin sehingga pementasan berjalan sesuai yang diinginkan.
“Jika tidak tentu semua hal ada risikonya, kita latihan empat kali saja, dua kali terbakar. Tetapi astungkara dengan doa dari seluruh pihak, kami berharap pementasan berjalan lancar,” imbuh Budi Adnya.
Saat ditanya apabila kemungkinan terburuk terjadi? Budi Adnya mengatakan jika hal itu akan menjadi tanggungjawab dirinya yang sudah disepakati oleh keluarga yang menjadi watangan.
Sisya yang menjadi watangan pun sudah siap lantaran mengedepankan konsep ngayah. Adapun nantinya watangan yang sudah berbaring akan ditutup dengan kain kasa yang sudah berisi rerajahan kemudian dibakar.
Dirinya menambahkan, dipilihnya hari Selasa (Anggara Wage Gumbreg) sebagai hari pementasan Calonarang sendiri dilakukan karena bertepatan dengan Pemelaspasan Ida Sesuunan Ratu Bagus berupa Barong yang ada di Pasraman Cakra Ca Buana. “Jadi sekaligus nanti Ida Seuunan Napak Pertiwi setelah selesai Meodak,” sambungnya.
Dengan digelarnya pementasan Calonarang ini, pihaknya berharap agar kedepannya ada sentuhan dari Pemerintah, baik pemerintah daerah maupun provinsi terhadap sanggar-sanggar yang aktif melestarikan seni dan budaya. Lantaran untuk menggelar Calonarang ini saja, pihaknya membutuhkan dana mencapai Rp 30 juta yang kemudian diperoleh dari menggelar bazzar dan telah mendapatkan dukungan dari pihak Desa, Adat, Koramil hingga Polsek Seltim.
“Dan kami juga sangat beruntung ada bantuan materi dan moral dari berbagai pihak, ada pecinta Calonarang dan masyarakat lain sehingga kini persiapan pementasan sudah berjalan 85 persen,” paparnya.
Calonarang Watangan Mebakar ini akan dimulai pukul 19.00 yang akan diawali dengan penampilan Lawak Celekontong Mas, dan puncaknya pukul 00.00.
Editor : I Putu Suyatra