Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Sejarah Pura Griya Sakti Manuaba di Desa Kendran, Tegallalang

I Putu Suyatra • Minggu, 29 April 2018 | 15:23 WIB
Begini Sejarah Pura Griya Sakti Manuaba di Desa Kendran, Tegallalang
Begini Sejarah Pura Griya Sakti Manuaba di Desa Kendran, Tegallalang

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Griya Sakti Manuaba merupakan cikal bakal sejarah trah Brahmana. Peranda Sakti Ketut Buruan atau yang lebih dikenal sebagai Peranda Ketut Ler, digadang – gadang sebagai nenek moyang trah Manuaba. Lantas, siapakah beliau?


Pura Griya Sakti Manuaba  di Desa Pakraman Manuaba, Desa Kendran, Tegallalang Gianyar,
diempon tujuh banjar adat, yakni  Banjar Pande, Tangkas,  Tengah, Triwangsa, Gunaksa,  Pinjul, dan Banjar Dukuh.  Meskipun, Pura Griya Sakti Manuaba merupakan Pura Kawitan  bagi trah Manuaba, namun kini status pura tersebut merupakan Pura Khayangan Jagat. Konon, dahulu pura tersebut merupakan sebuah griya, atau tempat tinggal seorang peranda sakti yang bergelar, Peranda Ketut Ler.


Dijelaskan Pemangku  Pura Griya Sakti Manuaba, Jro Mangku Nyoman Sibang, dalam Lontar Dwijendra Tatwa disebutkan Peranda Ketut Buruan atau yang disebut juga Peranda Ketut Ler, merupakan keturunana langsung dari Dang Hyang Dwijendra. Peranda Ketut Ler merupakan putra dari seorang Brahmana bernama Brahmana Diler. Peranda Ketut Ler sendiri memiliki nama asli Brahmana Nyoman Buruan. Dalam lontar tersebut disebutkan bahwa Peranda Ketut Ler juga merupakan sasuhunan atau nenek moyang dari trah Brahmana Manuaba.


Selain tertulis dalam lontar Dwijendra Tatwa, lanjutnya, dalam kisah mitologi yang saat ini masih berkembang di Desa Pakraman Manuaba, menyebutkan tentang kisah kepahlawanan dan kesaktian Peranda Ketut Ler di Abad ke -14 masehi. “Ida Peranda Ketut Ler memiliki julukan Ida Bhatara Sakti Manuaba. Namanya sudah tersohor hingga ke penjuru negeri. Berkat beliau, desa kami dan seluruh wilayah sekitarnya menjadi makmur serta bebas dari wabah penyakit,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Gianyar, Senin (23/4).



Dikisahkan dahulu masyarakat sekitar sempat mengalami gering atau wabah penyakit. Tak hanya terkena wabah penyakit, bahkan wilayah sekitar sering mengalami gagal panen dan kekeringan dalam waktu yang lama. Merasa sangat menderita, masyarakat mengadu kepada Raja Bali saat itu.  Peranda Ketut Ler  yang ketika itu juga diangkat sebagai Bhagawanta, akhirnya diutus untuk membantu masyarakat di Desa Pakraman Manuaba. Dikatakannya, ketika itu ia tak datang sendiri, melainkan datang bersama I Gede Bawa dan anaknya I  Ketut Tangsub. Berbagai upaya mereka tempuh. Ida Bhatara Sakti Manuaba mencoba menyembuhkan wabah yang menimpa masyarakat. Salah satu caranya adalah  bersama-sama melakukan pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi agar masyarakat Manuaba terhindar dari segala bencana dan gangguan roh jahat, wong samar serta  buta demit yang mengganggu pada saat itu.



Atas usahanya pada saat itu, juga berkat kesaktiannya, maka segala bencana bisa diatasi. Peranda Ketut Ler yang juga kerap dijuluki Ida Bhatara Sakti Manuaba, terus berupaya mengatasi masalah hingga tuntas. Banyak orang sakit bisa sembuh tanpa obat, karena itu beliau sangat dihormati dan dipuji oleh masyarakat dan dijuluki Bhatara Sakti.



Masyarakat Manuaba akhirnya memohon agar beliau bersedia menetap dan  tinggal di Desa Manuaba untuk menjaga dan menyelamatkan Desa Manuaba. Permohonan masyarakat dipenuhinya, Beliau pun bersedia tinggal dan menetap di Desa Manuaba bersama dengan I Ketut Tangsub. Kini, tempat persemediannya dijadikan Stana atau Griya beliau. Selain mitologi pengobatan, Ida Bhatara Sakti Manuaba juga memiliki kisah lain dalam perjalanannya menjaga Desa Manuaba. Di Abad ke 14 masehi, Raja Bali membagikan air dan tirta suci kepada desa – desa yang ada di seluruh Bali. Hanya orang tertentu saja yang bisa menjadi perwakilan untuk mengambil air tersebut. Dikisahkan, Ida Bhatara Sakti Manuba datang terlambat, dan hanya mendapatkan sedikit air. Bagaimana reaksinya? 


“Tak apa, jika kami hanya mendapatkan air sepanjang gayung air ,” ujarnya.



Setelah berucap itu, ada keajaiban yang terjadi. Gayung air tersebut memanjang dan mengalir sepanjang lereng menuju Desa Pakraman Manuaba. Sejak saat itu, Ida Bhatara Sakti Manuaba membangun Dam (Bendungan) untuk menampung air dan membuat desa tersebut subur dan sejahtera. Selain membuat Dam, ia juga menurunkan ilmu pertanian, yang bs dituangkan  dalam  Lontar Dharma Pemaculan.



Dalam kesempatan yang sama,  Kelian Dinas Banjar Tangkas, I Ketut Dana menambahkan,
Pura Griya Sakti Manuaba juga merupakan tempat terakhir Ida Bhatara Sakti Manuaba manunggal atau mencapai moksa. "Namun anehnya, ketika beliau mencapai moksa, bukannya badan kasar yang tertinggal. Namun, sebuah lempengan perunggu serta tongkat yang berada di tempat ia moksa. Sampai saat ini, kedua benda peninggalan itu masih kami jaga di sini. Tongkatnya kami letakan di Palinggih Tetekan, sedangkan perunggunya disimpan di gedong suci,” ujar Ketut Dana.



Selain benda pusaka, Pura Griya Sakti Manuaba juga memiliki tradisi ini,  mapeed hingga puluhan kilometer. “ Ketika piodalan, biasanya ada tradisi mengambil air suci di Pura Damukeling. Semua pratima serta pusaka serta gebogan gebogan tinggi, kami bawa dengan beriringan dan berjalan kaki dari Pura Griya Sakti menuju Pura Damukeling. Tradisi itu harus dilakukan setiap tahun. Jika tidak, kami akan mengalami bencana,” ujarnya. Meski medan perjalanan cukup terjal karena kontur jalan berbukit, lanjutnya, namun semua peserta mapeed yang semuanya wanita dengan beban bebantenan di kepala selalu bersemangat, dan tak merasa lelah.



Pura Griya Sakti Manuaba terdiri dari tiga bagian mandala. Di Mandala luar terdapat sebuah wantilan yang cukup besar, biasanya digunakan sebagai tempat pasamuan atau tempat melakukan persiapan ketika piodalan. Tak jauh dari wantilan terdapat palinggih kecil dengan patung macan di tengahnya. Suasananya terlibang cukup teduh karena dinaungi dua pohon Tangi. Di pelataran Mandala Utama terdapat beberapa palinggih, yakni Palinggih Padmasana, Gedong, Pawedan, Palinggih Ida Bhatara Ratu Gede, Piyasan Ageng, Bale Panyucian, Palinggih Tetekan, Bale Pasedekan, dan Panegtegan.  "Palinggih Tektekan diyakini merupakan tongkat beliau sebelum moksa, dan disebut sebagai Taru Kemoning ,” ujar
Jro Mangku Nyoman Sibang.




Setiap Selasa Keliwon, Medangsia atau 10 hari setelah Hari Raya Kuningan, Pura Griya Sakti Manuaba pasti dipadati ribuan orang. Tak hanya mereka dari keturunan Manuaba atau warga sekitar saja yang datang,  tapi pamedek dari seluruh Bali datang untuk melaksanakan persembahyangan. “Ramai sekali jika pelaksaan piodalan. Bahkan, kami sempat  kewalahan. Biasanya mereka yang datang memohon kelancaran untuk rezeki atau kemakmuran. Ada juga yang datang untuk diberkati kesembuhan setelah sakit keras bertahun tahun,”  katanya.

Editor : I Putu Suyatra
#pura #sejarah pura