BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Dalem Segara Taman Ayung, jadi tempat mengadu pedagang dan nelayan. Apa sejatinya keistimewaan pura yang ada di pinggir Pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar ini?
Pura Dalem Segara Taman Ayung yang piodalannya jatuh tiap Purnama Desta ini,
merupakan pura segara yang terletak di antara pertemuan aliran Sungai Ayung dan kawasan
Pantai Padanggalak. Sosok niskala yang berstana di pura yang dibangun di halaman eks Taman Bali Festival ini, dipercaya sangat pemurah.
Awalnya pura ini, hanya berbentuk palinggih kecil yang berdiri di bibir pantai. “Awalnya pura ini didirikan di bibir pantai dan diusung oleh petani serta nelayan sekitar,” ungkap
Pemangku Pura Dalem Segara Taman Ayung Padanggalak, Jero Mangku Ketut Rega kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.
Dikatakannya, karena hanya berbentuk batu karang yang ditumpuk di atas sebuah beton kecil, akhirnya pemilik eks Taman Bali Festival berinisiatif untuk memugar dan memindahkan ke areal tengah dan mendirikan sebuah pura. “Saya lupa nama pemiliki eks Taman Bali Festival. Mungkin dia khawatir palinggih itu akan hancur digerus ombak. Dia mohon izin untuk memugar palinggih tersebut. Kemudian
mendirikan sebuah pura dan menstanakan Bhatara Baruna," terangnya.
Pura Dalem Segara Taman Ayung, berdiri megah di samping Pura Campuhan Padanggalak. Walau tak setenar Pura Campuhan, Pura Dalem Segara Taman Ayung juga kerap dipadati pamedek.
Konon, Bhatara Baruna yang distanakan di sana, dikenal sangat pemurah. "Awalnya yang datang memuja hanya petani sekitar dan para nelayan. Kalau nelayan setiap berangkat dan pulang melaut pasti sembahyang di sini. Mengucap syukur serta memohon keselamatan," urainya.
Nah, uniknya kini tak hanya warga sekitar yang datang, banyak juga masyarakat dari jauh yang datang, seperti Nusa, Negara bahkan dari luar Bali. "Bhatara Baruna yang malinggih di Pura Dalem Segara Taman Ayung sangat pemurah. Banyak pedagang yang datang untuk meminta dilancarkan rezekinya. Saya tak tahu pasti, namun pamedek yang merasakan dan menceritakan kemurahan hati beliau ketika datang kembali ,” ungkap Jero Mangku Rega. Pura Dalem Segara Taman Ayung, lanjutnya, memiliki kaitan erat dengan Pura Dalem Peed di Nusa Penida.
“Selain Bhatara Baruna, distanakan juga Bhatara Dalem Segara. Beliau juga dikenal dengan sebutan lain di Dalem Peed Nusa Penida. Bhatara Dalem Segara diyakini sebagai Sang penyembuh. Makanya, tak heran banyak orang yang datang untuk nunas tamba,” ujar pemangku yang tinggal di kawasan Bypass Ida Bagus Mantra ini.
Selain Bhatara Baruna dan Bhatara Dalem Segara, juga ada Palinggih Bhatara Siwa Baruna serta palinggih beberapa patihnya. “Bhatara Baruna, Bhatara Siwa Baruna, dan Bhatara Dalem Baruna merupakan penguasa lautan. Siwa Baruna dikenal sebagai pembersih mala. Masyarakat biasanya nunas keselamatan dan penyucian dari beliau,” paparnya.
Pamedek disarankan membawa pajati dan canang sipit sari. “Setelah maturan dan nunas, pamedek selanjutnya akan ke pinggir laut untuk mandi untuk melebur mala dan menyucikan diri karena Bhatara Siwa Baruna menurunkan berkahnya lewat air laut,” ungkapnya.
Selama 13 tahun mengabdikan diri sebagai pemangku di Pura Dalem Segara Taman Ayung, Jero Mangku Rega benar - benar merasakan kemurahan hati beliau yang berstana di Pura Dalem Segara Taman Ayung . Bagaimana tidak? Meski tak memiliki pendapatan tetap, ia dengan tulus selalu menjaga serta ngayah di pura tersebut. “Terus terang kegiatan saya selain ngayah di sini, juga sebagai buruh serabutan. Setelah ngayah, ada saja rezeki yang datang. Beliau yang berstana memang sangat pemurah. Yang penting kita datang dengan niatan yang tulus dan sungguh – sungguh pasti dikabulkan,” terangnya.
Ketika ditanya, adakah kejadian unik selama mengabdi menjadi pemangku ? Mangku asal Banjar Languan Titi mengatakan, pengalaman menyeramkan tidak pernah. Kalau pengalaman unik ada. Ia pernah kedatangan pamedek dari Bungkulan, Buleleng. Pemedek tersebut datang bersama anak serta menantunya. Pemedek itu mengeluhkan anak dan mantunya hingga saat itu belum dikaruniai keturunan. Padahal, mereka telah menunggu bertahun – tahun. “Awalnya ia bermimpi sembahyang di sini. Akhirnya dia mencari tau dan benar – benar datang ke sini. Ia berkeluh soal keturunan yang tak kunjung datang,” ungkapnya.
Jero Mangku Rega kemudian menyarankan mereka untuk melaksanakan persembahyangan, memohon pengampunan serta memohon rezeki berupa keturunan. Selesai sembahyang mereka disuruh melebur mala di bibir Pantai Padanggalak. “Usai malukat, saya sarankan untuk bermeditasi bersimpuh selama satu jam, memohon dengan sungguh – sungguh. Dan, benar saja, mereka duduk matimpuh selama satu jam lebih. "Dengan mata berkaca – kaca, mereka memohon diberikan seorang keturunan. Beberapa bulan kemudian, saya dikabari bahwa mantunya sudah mengandung,” ungkapnya.
Dengan senyum sumringah, Jero Mangku Rega memaparkan betapa pemurah Bhatara Baruna . “Tak ada hal lain yang saya pikirkan ketika mendapat kabar bahagia itu. Saya mengucap syukur kepada beliau yang berstana di sini.” ujarnya.