Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Usada Manak, Lontar Tenung Beling Nyaris Punah Ditelan Zaman

I Putu Suyatra • Sabtu, 19 Mei 2018 | 17:14 WIB
Usada Manak, Lontar Tenung Beling Nyaris Punah Ditelan Zaman
Usada Manak, Lontar Tenung Beling Nyaris Punah Ditelan Zaman



BALI EXPRESS, DENPASAR - Profesi sebagai Balian Manak keberadaannya kini dapat dihitung dengan jari. Padahal, di era 80-an, masih sangat digandrungi. Bahkan ketika itu, ilmu kedokteran kalah populer dengan kesaktian sang Balian Manak. Rahasia apa sejatinya  yang tercatat di Lontar Tenung Beling sebagai acuan  Balian Manak?


Dekan Fakultas Ayur Weda Universitas Hindu Indonesia, dr.IB Wiryanatha, M.Si mengatakan,
masyarakat di Bali mengenal dua istilah untuk pengobatan, yaitu sarana dan tamba. Yang dimaksud sarana, bukanlah obat yang langsung menyembuhkan penyakit pasien.  Sarana  adalah sebuah perantara yang digunakan Balian untuk mendeteksi penyakit pasien serta menyalurkan energi penyembuh yang dimasukkan Balian kedalam sebuah sarana.


“Sarana yang telah dihubungkan dan diberi kekuatan penyembuh disebut Tamba. Tamba  adalah obat yang dipercaya dapat menyembuhkan pasiennya,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), kemarin.


Dikatakan Wiryanatha, dalam dunia usada tradisional Bali, metode yang kerap digunakan Balian adalah metode bersifat gaib, metode  menggunakan obat herbal, pengobatan psikis dan metode pembedahan. “Pernah melihat perkakas Balian berupa sarana merajah?  Dalam usada tradisonal Bali, pengobatan yang diberikan selalu bersifat ghaib. Hal itu biasanya digunakan untuk mengobati penyakit tertentu yang memang timbul juga secara niskala,” ungkapnya.



Wiryanatha menambahkan, penyakit yang mengharuskan menggunakan pengobatan niskala contohnya Cerongcong Polo dan penyakit klenik lainnya. Tujuannya sebagai upaya mencegah dan menangkis yang berbentuk mantra, jimat serta sarana merajah  yang menyebabkan timbulnya penyakit.


Dalam ilmu Usada Bali, ada empat belas macam usada, yaitu Usada Manak, Usada Buduh, Usada Cukil Daki, Usada Dalem, Usada Ila, Usada Kacacar, Usada Kuda, Usada Kurantabolong, Usada Pamugpug, Usada Pamungpung, Usada Rare, Usada Tiwang dan Usada Buda Kecapi. Salah satu Usada yang sempat menjadi favorit adalah Usada Manak. Mengapa Usada ini begitu menarik saat itu? Latar belakang masyarakat Bali yang dekat dengan unsur mistis dan klenik membuat profesi sebagai Balian Manak menjadi sangat dibutuhkan.


Selain itu, minimnya tenaga kesehatan serta pusat pusat kesehatan yang jauh dari pedesaan, membuat masyarakat Bali ketika itu tidak punya pilihan. Salah satu Ilmu Usada yang sempat sangat populer adalah Usada Manak. Dalam Lontar Tenung Beling dijelaskan, Usada Manak merupakan pengobatan yang digunakan untuk membantu ibu yang tengah hamil hingga melahirkan. Wiryanatha menjelaskan, dalam Usada Manak terdapat tiga metode pengobatan yang umumnya digunakan, yaitu Pratiaksa Pramana, Agama Pramana, dan Anumana Pramana. Pratiaksa Pramana, lanjutnya,adalah metode pengobatan dengan cara melihat langsung kondisi pasien. Istilah kerennya mungkin diagnosis ya.  Kondisi tubuh pasien dicek, dari kondisi kulitnya, pupil mata, hingga warna lidah. Sedangkan Agama Pramana adalah sebuah metode pengobatan yang berpatokan pada tanda tanda yang terdapat dalam lontar atau kitab suci.


“Kalau Pratiaksa itu patokannya sesuai pengalaman Baliannya. Nah, jika Agama Pramana berpatokan dengan kitab dan lontar, jadi ciri – ciri penyakit akan dia sesuaikan dengan yang ada di lontar. Kira – kira mana dari ciri – cirinya yang paling mendekati. Jika sudah sesuai, ia akan mengobati dengan mantra yang ada pada kitab dan lontar tersebut,” ujar Wiryanatha.


Sedangkan Anumana Pramana,  merupakan metode pengobatan yang mengedepankan analisis sebagai metodenya. Nah yang ini penggabungan antara kedua metode tadi. Jadi, Balian itu menganalisis dari diagnosis yang ditemukan serta ciri – ciri yang sesuai dengan yang ada di lontar, digabungkan dengan pengalamannya untuk mendeteksi dan menangani penyakit.


Jika dalam Usada Manak, lanjutnya, para Balian biasanya mendeteksi jika ada masalah dalam kandungan si ibu.


Wiryanatha menjelaskan, Tenung Beling secara teologi merupakan ilmu pengobatan yang menggunakan metode spiritual sebagai dasar untuk meneropong suatu penyakit. “Jadi, bagi seorang Balian yang benar – benar menguasai  Usada Tenung, baik itu untuk Usada Manak atau usada apapun. Biasanya tanpa kita mengeluh ia sudah dapat mendeteksi seperti apa penyakit kita,” ungkapnya.


Dalam Usada Manak, selain menggunakan tenung sebagai media pengobatannya, usada ini umumnya juga menggunakan tanaman tanaman tertentu sebagai obat atau tamba. Dalam Lontar Taru Permana, disebutkan berbagai macam jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat untuk berbagai jenis penyakit. Dalam lontar tersebut juga diceritakan perjalanan Mpu Kuturan menemukan berbagai jenis tumbuhan obat tersebut. Berawal dari Mpu Kuturan yang tengah melaksanakan meditasi di sebuah Setra Penuon .


Ia merasa sedih, karena pengetahuannya yang kurang mengenai pengobatan. Dengan kesaktiannya, akhirnya beliau memanggil seluruh jenis tanaman untuk datang menghadap. Ia menjelaskan kegelisahannya sebagai seorang suci yang dipercaya dapat mengobati, namun tak seorangpun dari pasiennya yang sembuh setelah ia obati. Berbagai cara dan upaya telah ia lakukan, namun tak juga membuahkan hasil. Berbagai macam rempah dan obat telah ia berikan, namun tak juga dapat menyembuhkan. Akhirnya, datanglah berbagai jenis tumbuhan. Mereka menceritakan kegunaannya masing – masing.


Pohon Dadap berkata ia berguna kulitnya dapat digunakan untuk mengobati perut kembung, dengan cara mencapur kulit pohon Dadap dengan ketumbar dan 11 biji babolong. Selain pohon Dadap, datang pula pohon Silagwi (Sida Rhombifolia). Ia bercerita daging pohon Silagwi berguna untuk mengobati bayi yang baru berumur lima hari ketika terkena flu dan batuk. Lantas, Mpu Kuturuan mencatat semua kegunaan tumbuhan tersebut dalam sebuah lontar yang bernama Taru Permana.

Editor : I Putu Suyatra