BALI EXPRESS, TAMPAKSIRING - Sebuah pura tentu memiliki sejarah dan ikutan mistis, sehingga masyarakat meyakini tempat tersebut merupakan tempat yang disucikan. Seperti juga Pura Batan Bingin di Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, yang unik, karena terdapat lima pura dalam satu areal.
Pua Batan Bingin berbeda dengan pura lainnya, apalagi jika dilihat dari asta kosala-kosalinya. Secara umum sebuah Pura Kahyangan Tiga hanya terdapat dua atau tiga buah pura dalam satu areal. Namun, sangat berbeda dengan Pura Batan Bingin di Desa Pejeng Kawan, Tampaksiring, Gianyar, yang terdapat lima pura di dalam satu kawasan.
Lokasi pura sedikit masuk ke dalam. Jika berangkat dari Kota Gianyar hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Susuri jalan menuju Pasar Pejeng ke barat, dan ikuti jalan yang tembus ke Ubud. Sekitar satu kilomenter dari Pasar Pejeng akan sampai di lokasi pura yang berlokasi di Utara kantor desa setempat. Terlebih di sana sudah terdapat tulisan Pura Batan Bingin dan di jeroan pura juga berdiri kokoh Pohon Beringin yang rindang dan sangat besar.
Bendesa Adat Pejeng Kawan, I Gusti Nyoman Lasia saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di pura setempat, pekan kemarin, mengatakan letak pura yang jadi satu itu memang telah ada sejak leluhurnya terdahulu. Jadi, tidak berani memastikan kapan terbentuknya pura yang jadi satu dalam areal itu dibangun. “Di sini terdapat Pura Batan Bingin, Pura Puseh, Pura Desa, Pura Batan Jepun, dan Pura Melanting. Semuanya piodalan berbarengan pada Puranama Kasa, terkecuali Pura Melanting yang berbeda,” tandasnya, Senin (28/5) lalu.
Lasia juga mengungkapkan Pura Desa dan Puseh dibangun dijadikan satu sekitar tahun 1980. Pura yang terdiri atas tri mandala tersebut, lokasinya di barat Desa Pejeng Kawan yang berdekatan dengan Kantor Desa dan persawahan warga. Lantaran tempatnya yang ada di bawah Pohon Beringin sehingga leluhurnya terdahulu menyebutkan Pura Agung Batan Bingin. Selanjutnya berkembang, dibuatkanlah Pura Desa dan Puseh. Pura yang letak sebelumnya berada di utara pura di kawasan hutan, kemudian dipindahkan untuk menggampangkan krama yang akan tangkil.
Pura Kahyangan tiga tersebut diempon oleh enam banjar adat, sekaligus sebagai banjar dinas dengan jumlah kepala keluarga 800 orang. Piodalan di empat pura tersebut jatuh pada Purnama Kasa. “Piodalannya kita setiap enam bulan sekali, tetapi dengan istilah Sasepen dan Paselang. Sasepen itu upacara sederhana, namun tak mengurangi makna. Sedangkan Paselang itu piodalan nadi yang mempergunakan caru kerbau seperti yang tengah disiapkan saat ini,” jelas pria mantan Kelihan Banjar Dinas Tatiapi Kelod, Pejeng Kawan tersebut.
Selain dua jenis piodalan tersebut, pernah juga dilaksanakan piodalan yang lebih besar pada tahun 2010 lalu, yakni piodalan Ngusaba Nini Panyegjeg Jagat. Upakara tersebut diyakini oleh masyarakat setempat untuk mensejahterakan warga setempat agar terhindar dari segala macam mala.
Dikatakannya, Sasuhunan yang ada, terdiri atas pratima, barong ketet, rangda, dan berupa tapakan lainnya. Sasuhunan tersebut diyakini sebagai penjaga pura dan desa, maupun warga setempat, sehingga aktivitas warga dapat berjalan lancar dan sejahtera. “Sasuhunan yang ada saat ini memang pokok yang ada di areal pura ini. Lain lagi yang dari pura manca semua akan berkumpul sehari sebelum piodalan berlangsung. Sasuhunan yang ada di Pura Penataran Sasih juga ke sini selama sehari. Karena piodalan saat ini kan bertepatan dengan Penampahan Galungan, jadi besoknya harus sudah ada di pura asalnya lagi. Kalau tidak kena rahinan jagat, nyejernya bisa sampai tiga hari,” terangnya.
Disinggung keunikan lainnya, Lasia mengaku hanya menggunakan kerbau setiap upacara dua tahun sekali. Diakuinya sempat dirasa memberatkan warga, sehingga pernah mau diubah dan menghentikan penggunaan sarana kerbau saat setiap piodalan nadi. Namun, warga setempat tidak berani mengubah tradisi yang telah ada, sehingga tradisi tersebut sampai saat ini masih bertahan.
Khusus pada manis piodalan, lanjutnya, krama setempat, khusus anak muda melakukan tradisi Mapalu Dangsil. Yaitu sebuah sarana upakara yang setelah digunakan sehari setelah piodalan, dibawa secara bersama-sama untuk mengelilingi areal Pura Puseh dan Pura Batan Bingin. Menurutnya, tujuan Mapalu Dangsil dengan cara mengelilingi pura untuk ngider bhuana, bahwa karya telah berjalan lancar.
“Selain dangsil yang ada di sini, beberapa alat upakara juga ikut dibawa dalam tradisi ngider bhuana. Mulai dari tegen-teganan yang berisi kelapa ataupun ayam, kemudian jerimpen yang berdiri di depan palinggih juga ikut dibawa ,” terang Lasia.
Dalam pura tersebut, juga terdapat sebuah pura yang disebut Pura Batan Jepun. Di pura ini diyakini sebagai tempat nunas taksu seni, pragina ataupun sekaa gambelan. Hal itu terbukti dari salah satu sekaa teruna yang mewakili pementasan fragmen tari ke tingkat kabupaten, masuk ke tiga besar dan menjadi juara. Karena diyakini sebagai tempat nunas taksu, maka pamedek diarahkan agar sembahyang terlebih dahulu jika ada hubungannya dengan berkesenian. “Selain pentas seni, perwakilan dari desa ini juga pernah dapat juara satu di tingkat kabupaten dalam lomba merias janur. Sehingga tidak dipungkiri lagi, Pura Batan Jepun yang jadi satu pada areal ini, merupakan tempat nunas taksu ataupun kelancaran dalam perlombaan yang berhubungan dengan kesenian,” imbuhnya.