Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Ngejot Tumpeng, Cara Adat Perkenalkan Pengantin Baru

I Putu Suyatra • Rabu, 6 Juni 2018 | 17:45 WIB
Tradisi Ngejot Tumpeng, Cara Adat Perkenalkan Pengantin Baru
Tradisi Ngejot Tumpeng, Cara Adat Perkenalkan Pengantin Baru



BALI EXPRESS, GIANYAR - Pada  Hari Raya Galungan pekan lalu, Desa Medahan, Gianyar terlihat berbeda dari biasanya.  Jika biasanya Ibu – ibu sibuk keliling  bersama keluarga untuk sembahyang, kali ini malah sibuk  mendatangi beberapa rumah yang memasang penjor anten. Inilah tradisi yang dilakukan masyarakat adat kepada para pengantin baru.


Unik, mungkin itu yang terlintas bagi para pendatang di  Gianyar. Tradisi Ngejot Tumpeng hingga kini masih berlangsung di Desa Medahan. Tradisi ini dilaksanakan khusus bagi mereka yang baru menyandang status pengantin baru. Umumnya Ngejot Tumpeng berlangsung pada saat Galungan pertama. Para pengantin yang menikah pada periode enam bulan ke belakang sebelum Galungan diwajibkan untuk memasang Penjor Anten di depan rumahnya.



Pemangku Pura Masceti yang juga  salah satu tokoh di Desa Medahan, Jero Mangku Made Puspa mengatakan, ketika Hari Raya Galungan, masyarakat adat akan datang berduyun – duyun ke rumah sang pengantin membawa banten soda berisi tumpeng, lengkap dengan sampiannya untuk para pengantin baru. Wadah sodan yang kosong nantinya akan diisi dengan tape ketan sebagai balasan.
Dijelaskan Jero Mangku Made Puspa, tradisi Ngejot Tumpeng Galungan ini, bertujuan untuk mendoakan pengantin baru agar menjalankan kehidupan baru tidak mengalami rintangan. Sedangkan tradisi  Ngebales Tape Injin,  lanjutnya,  bermakna agar hubungan masyarakat selalu kuat dan rekat seperti ketan dan berakhir manis seperti tape.



“Ketan yang teksturnya sangat lengket merupakan simbol agar masyarakat adat selalu lekat dan rukun. Dan, dari kerukunan warga tersebut akan selalu terasa manis manyama braya,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.



Dikatakannya, tradisi ini dilaksanakan hampir setiap Galungan. Karena dalam jangka waktu enam bulan sebelum Galungan, pasti ada  hari baik untuk menikah. Dan, ada saja masyarakat di Mudahan yang menggelar upacara pawiwahan atau pernikahan.



Ketika ditanya seperti apa prosedurnya, Jero Mangku Made Puspa mengatakan,
setelah selesai maturan (sembahyang) ke pura yang ada di Desa Medahan, sejumlah krama banjar melaksanakan Ngejot Tumpeng  Galungan  ke rumah pengantin baru yang ada di wilayah banjarnya. Guna menyambut  krama yang hendak Ngejot Tumpeng, pihak pengantin baru biasanya telah mempersiapkan segala sesuatunya di bale dangin. Tumpeng jotan krama tersebut diterima mempelai istri, lalu diletakkan di bale dangin. Sebagai penggantinya, pihak pengantin baru menyuguhkan bingkisan yang di dalamnya berisi tape ketan.



Lantas, tumpeng Galungan tersebut, berikut segala perlengkapan upakaranya kemudian ditata sedemikian rupa di bale dangin. Selanjutnya kedua mempelai melangsungkan upacara natab tumpeng jotan tersebut di bale dangin.



“Galungan kali ini, ada sepuluh pasang pengantin baru di desa kami. Karena banyak, jadi masyarakat menyelesaikan persembahyangan jauh lebih pagi dibanding Galungan biasanya. Sebab, pelaksanaan Ngejot Tumpeng ini, maksimal pukul 12.00 siang. Jadi, pagi – pagi mereka akan berduyun duyun datang membawa Jotan Tumpeng tersebut,” ujarnya.



Selain sebagai doa untuk para pengantin, lanjut  Jero Mangku Made Puspa, tujuan  Ngejot Tumpeng ini dimaksudkan sebagai sarana perkenalan pengantin baru kepada masyarakat adat. “Kalau di sini sebelum Nyepi, status mereka masih anten, belum menjadi krama banjar. Makanya Ngejot Tumpeng  ini penting, agar masyarakat dapat mengenal mereka, dan para pengantin baru tidak kaget ketika nanti waktunya membaur di desa pakraman,” ujarnya.



Selain itu, Jero Mangku Made Puspa menuturkan, dahulu perbedaan masyarakat yang menggelar Ngejot Tumpeng dengan yang tidak dibedakan oleh hiasan Penjornya. Karena Penjor menjadi identitas sebuah rumah melaksanakan Ngejot Tumpeng galungan. Berbeda dengan perkembangan saat ini, lanjutnya, di mana masyarakat sudah semakin kreatif dan seolah berlomba-lomba membuat penjor yang bagus, sehingga agak susah dibedakan. “Kadang ibu – ibunya suka ngeluh, informasi dari banjar ada 10 pengantin, namun mereka tidak bisa menemukan rumah mana saja yang ikut Ngejot Tumpeng. Jadi, mereka keliling dulu baru ketemu. Kalau dulu kan dilihat dari penjornya. Kalau penjornya besar dan bagus pasti Penjor Anten. Nah sekarang, semua penjornya hampir serupa,” ujarnya.
Ditambahkannya, umumnya bale dangin yang digunakan sebagai tempat Ngejot Tumpeng dihiasi pengangge bale, seperti Jerimpen, Gebogan, dan hiasan lainnya.



Di Desa Medahan, Sampian Jotan Tumpeng ini dibawa bergilir dari satu rumah pengantin ke pengantin lainnya. “Biasanya sih tidak begitu. Biasanya satu Sampian untuk satu Jotan Tumpeng. Namun kali ini yang menikah 10 pasangan, sehingga ibu – ibu merasa keberatan jika harus membuat Sampian terlalu banyak. Maka digilir Sampiannya dari satu rumah ke rumah lainnya,”ujarnya.



Selain sebagai perkenalan kepada masyarakat adat, lanjutnya, tradisi ini dilakukan untuk memberikan bantuan kepada pasangan yang baru menikah. Pasalnya,  pasangan pengantin baru  ini dianggap  belum mandiri sepenuhnya. Oleh karena itu, sepatutnya warga sekitar yang sudah terlebih dahulu mapan membagikan bahan makanan yang berlimpah untuk membantu pengantin baru ini.

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi unik