Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Benarkah Mitos Bhatara Peceng dan Cicing Berung Saat Kuningan?

I Putu Suyatra • Rabu, 6 Juni 2018 | 19:47 WIB
Benarkah Mitos Bhatara Peceng dan Cicing Berung Saat  Kuningan?
Benarkah Mitos Bhatara Peceng dan Cicing Berung Saat Kuningan?



BALI EXPRESS, DENPASAR - Berbeda dengan Hari Raya Galungan yang dilaksanakan dari subuh hingga tengah malam, perayaan Kuningan  sedikit berbeda. Konon saat Kuningan, jika mabanten dan sembahyang setelah pukul 12.00 siang, Bhatara yang turun adalah Bhatara Peceng  (buta) dan Cicing Berung alias anjing korengan ?  


Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda menuturkan, mitos Bhatara Peceng itu sesungguhnya tidak benar. Ia membenarkan, adanya aturan melaksanakan persembahyangan sebelum tengah hari pada saat perayaan Kuningan. “Memang ada aturan itu, tapi bukan karena mitos Cicing Berung dan Bhatara Peceng ya,” ujarnya.



Dijelaskan Mpu Jaya Acharya Nanda, dalam lontar Sundarigama dijelaskan pelaksanaan Hari Raya Kuningan sebaiknya dilaksanakan sebelum tengah hari. Karena diceritakan leluhur serta para dewa dan dewi akan kembali ke alam Swargaloka pada saat tengah hari. “Dalam Lontar Sundarigama ketika Galungan semua leluhur dan para dewa dewi dikatakan turun nyingakin seluruh anggota keluarganya. Makanya, ketika Galungan dihaturkan soda di bale delod. Nah, ketika Kuningan, pada tengah hari semua Bhatara dan leluhur akan kembali ke Swarga loka. Makanya, disarankan untuk melaksanakan persembahyangan pagi sebelum tengah hari,” ujarnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group), pekan kemarin.



Mitos Bhatara Peceng, menurutnya sebagai penggambaran orang – orang zaman dahulu agar anak – anaknya tidak mengulur waktu ketika melaksakan persembahyangan di saat perayaan Kuningan.


“Aturannya kan melaksanakan persembahyangan sebelum tengah hari, mungkin Bhatara Peceng itu hanya sebagai visualisasi untuk menakuti anak – anak, agar tidak sembahyang melewati waktu,” ujarnya.



Di sisi lain,  Ida Pandita yang berdomisili di wilayah Sronggo, Gianyar ini, juga memaparkan, perayaan Kuningan harus dilakukan sebelum tengah hari. "Ida Sanghyang Widhi Wasa memberkahi dunia dan umat manusia sejak jam 00 sampai jam 12.00. Jadi,  saat itu sangat tepat kita datang menyerahkan diri kepada-Nya mohon perlindungan. Dikarenakan energi alam semesta,  panca mahabhuta ( pertiwi, apah, bayu, teja, akasa) bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya di bajeg surya (tengah hari)," urainya. Setelah lewat bajeg surya, lanjutnya, disebut masa pralina (pengembalian ke asalnya) atau juga dapat dikatakan pada masa itu energi alam semesta akan menurun dan pada saat malam hari adalah saatnya beristirahat atau yang disebut juga tamasika kala.

Editor : I Putu Suyatra