BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Dunia seni berduka. Maestro seni lukis klasik wayang kamasan I Nyoman Mandra meninggal dunia di RSUD Klungkung, Minggu (10/6) sekitar pukul 16.00 Wita. Seniman berusia 72 tahun itu menghembuskan napas terakhirnya akibat komplikasi. Seperti apa?
Sejumlah orang duduk membentuk lingkaran di sebuah bale di kediaman Mandra di Gang Laksitanta, Banjar Sangging, Desa Kamasan, Klungkung saat wartawan tiba di rumah tersebut, Senin (11/6). Meski dalam suasana berduka, pihak keluarga Mandra tampak ramah. Salah satu di antaranya langsung memanggil Ni Wayan Sri Wedari supaya wartawan mendapat informasi valid tentang Mandra. Wanita berusia 44 tahun itu merupakan anak pertama Mandra.
Kepada wartawan, Wedari menyebutkan jenazah ayahnya masih dititipkan di RSUD Klungkung. Itu karena upacara ngaben diperkirakan masih lama karena piodalan di Pura Bale Batur desa setempat. Selain itu, pada Anggarakasih Medangsia juga piodalan di Pura Dalem Desa Kamasan. “Jadi setelah piodalan baru mohon petunjuk kapan bisa digelar ngaben,” tutur Sri Wedari, ramah.
Informasi yang didapat Bali Express (Jawa Pos Group), Mandra memang lahir dari keluarga seniman. Sejak kecil, dia sudah biasa melukis wayang kamasan. Kakeknya dari pihak ibu, Rambug dan pamannya Nyoman Dogol merupakan seniman ternama pada zamannya.
Semasa hidup, Mandra pun tak hanya menuangkan darah seninya di atas kanvas. Sejak sekitar 1970-an, dia mulai aktif berbagi ilmu lewat Sanggar Wasundari. Sanggar itu merupakan satu-satunya sanggar di Desa Kamasan yang secara khusus mengajarkan seni lukis klasik wayang kamasan. Tak terhitung jumlah seniman dihasilkan sang maestro. Bahkan sejumlah muridnya juga berasal dari luar negeri.
Wedari memaparkan, maestro yang menyabet sejumlah penghargaan dalam bidang seni lukis tersebut sudah lama sakit. Seperti maag, paru-paru hingga dinyatakan komplikasi. Bahkan sudah sejak lama menjalani rawat jalan ke RSUP Sanglah, Denpasar. Meski dalam kondisi sakit-sakitan, Mandra disebutkan tak mau menyerah dengan keadaan. Dia tetap berkarya. Pun demikian dengan murid-muridnya di sanggar tersebut tetap dapat menimba ilmu.
Mandra dikenal disiplin. Dia juga terbilang “keras” dalam mendidik muridnya. Selalu menekankan agar lukisan klasik wayang kamasan tidak keluar dari pakem, dan tetap berkarakter. Hal itu sering disampaikan karena Mandra tak ingin lukisan wayang kamasan punah dimakan zaman.
Sebelum meninggal, seniman yang sempat meraih penghargaan Dharma Kusuma Madya dari Pemprov Bali 1976 silam itu, berkali-kali mengingatkan anak-anaknya agar sanggar tersebut tetap hidup sebagai ruang regenerasi seni luksi wayang kamasan.
Disinggung terkait pesan ayahnya agar sanggar tetap hidup, Wedari mengaku tak sulit mewujudkan cita-cita almarhum. Itu karena guru seni SMAN 2 Semarapura itu memang seorang pelukis wayang kamasan. Selama ini, Wedari juga aktif mengajar di sanggar ayahnya. Selain itu, darah seni Mandra juga mengalir ke dua anak kandung lainnya. Yakni Ni Made Sri Rahayu dan I Nyoman Adi Prebawa.
“Beliau berpesan agar sanggar diteruskan karena khawatir pelukis wayang kamasan akan punah,” terangnya. Alasan sang maestro cukup beralasan, karena generasi seni lukis wayang kamasan semakin minim. “Di atas 2000-an peminat seni lukis kamasan semakin sedikit,” tandas Wedari.
Editor : I Putu Suyatra