BALI EXPRESS, GIANYAR - Pura Gunung Sari di Desa Pakraman Wanayu-Mas, Bedulu, Gianyar, memang memiliki sejarah panjang. Salah satu keyakinan masyarakat, yakni terkait dengan keberadaan bale raksasa dengan jumlah sake 118 tiang, sekaligus disebut sebagai tempatnya Kebo Iwa.
Nama Kebo Iwa tentu sudah tidak asing lagi dalam kaitan kerajaan Bali kuno. Sosoknya disebut sebagai Mahapatih sakti, dan diyakini memiliki keterkaitan dengan sejumlah situs purbakala di Bali, layaknya Mahapatih Gajah Mada. Salah satunya Pura Gunung Sari di Desa Pakraman Wanayu-Mas, desa yang disebut berasal dari nama hutan yang cantik.
Terkait dengan mitos tersebut, Bendesa Pakraman Wanayu-Mas Ida Bagus Made Parsa menuturkan, hal itu tentu harus dilihat dari keyakinan kapan sebenarnya Pura Gunung Sari itu pertama kali berdiri. Karena jika dikaitkan dengan cerita dan keyakinan bale berukuran raksasa, maka kemungkinan pura tersebut sudah ada sebelum abad X atau pada abad VII semasa pemerintahan Bedahulu atau saat Mahapatih Kebo Iwa masih hidup, atau sebelum Bedahulu dikalahkan Majapahit.
“Itu juga kan (dari) cerita mulut ke mulut. Karena Kebo Iwa itu kekuatan besar sebagai mahapatihnya kerajaan dulu. Kalau cerita itu diambil pasti kaitannya jauh sebelum abad X, yakni keberadaannya itu pada abad VII,” ungkapnya.
“Karena walau tidak ditemukan jejaknya, namun dengan disungsungnya Siwa Budha di sana, kita tahu kalau agama Budha itu masuk Indonesia dan Bali pada abad VII. Jadi sangat mungkin pada abad VII sudah ada pura tersebut,” sambungnya.
Sehingga jika dirunut dari keyakinan akan bale berukuran raksasa dengan sake yang berjumlah 118 buah. Maka diakuinya jika di sisi timur kawasan pura tersebut, tepatnya di jalan masuk menuju ke Pura Gunung Sari memang terdapat gundukan dengan panjang lebih dari 100 meter dan lebar lebih dari 20 meter.
“Makanya kalau diambil dari cerita itu dalam hal ini kaitannya tentu abad VII. Kemudian cerita tentang Kebo Iwa ini, memang di sana ada bale panjang yang menurut cerita orang tua dulu tiang (sake) sampai 118 buah. Itu kan simbolik keagungan bangunannya. Cara orang memberi simbol kebesaran itu, seperti bangunan tinggi dan besar. Dan kita tahu Kebo Iwa itu mahapatih yang sangat luar biasa,” terangnya.
Inilah yang membuat sejak dulu ada keyakinan kalau bale dengan ratusan sake itu sebagai tempat Kebo Iwa. Meski pun saat ini bale yang dimaksud itu tinggal gumuhan (gundukan) tanah dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar 20 meter. Termasuk tidak adanya dokumen tertulis atau gambar yang memuat tentang bale tersebut.
“Jadi itu hanya dari cerita turun-temurun. Tapi masyarakat Wanayu sangat meyakini bahwa itu benar ada,” bebernya.
“Kalau fungsinya, dari keyakinan masyarakat kami bale itu merupakan tempat istirahat Kebo Iwa. Tapi saya meyakini bale itu digunakan sebagai tempat beliau mengumpulkan para pepatihnya atau pasukannya. Istilahnya kumpul dengan panglima-panglima perangnya,” imbuhnya.
Ditanya mengenai adakah jejak lainnya yang tersisa sepersi sendi-sendi (alas sake). Dikatakan olehnya, selain gundukan tanah memanjang dan lebar belasan meter, memang tidak ada satu jejak lainnya yang tersisa. Bahkan para tetua di desanya pun tidak pernah menemukan jejak tersebut. “Tidak ada. Jangankan generasi saya, generasi bendesa terdahulu, bahkan generasi ayah saya juga tidak menemukannya. Kemungkinan memang karena sudah tertimbun, apalagi sekarang arealnya sudah rimbun. Sebab itu kan cerita ribuan tahun lalu. Cuma memang diperkirakan inilah tempatnya bale panjang tempat Kebo Iwa istirahat atau berkumpul dengan para panglimanya,” paparnya.
“Kalau penelitian untuk pencarian bukti, dalam hal ini sebenarnya Pura Gunung Sari sudah masuk situs purbakala. Karena di sana juga ada beberapa peninggalan purbakala, bahkan ada palinggihnya. Cuma secara ilmiah kan tidak mungkin hanya mengandalkan cerita masyarakat (terkait bale besar Kebo Iwa, Red),” pungkasnya. (*/habis)
Editor : I Putu Suyatra