BALI EXPRESS, UBUD - Pesta Penyembuhan Bali 2018 yang diprakarsai praktisi Yoga, Kadek Siwa Ambara di Desa Nyuh Kuning, Mas Ubud, disambut antusias warga. Selain menggunakan metode Yoga Tertawa, juga terlibat sederet praktisi spiritual dengan keahliannya masing – masing.
Desa Nyuh Kuning, Mas Ubud,Minggu pagi (17/6) lalu, terlihat ramai. Para lansia serta ibu – ibu terlihat berjalan bergerombol menuju Wantilan Widya Sabha. Dengan kaos putih bertuliskan Ambarashram, mereka memadati wantilan yang terletak di depan lapangan. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) tiba di depan wantilan, masyarakat yang datang terlihat telah ramai mengantri di loket pendaftaran. Pesta Penyembuhan Bali merupakan agenda tahunan yang digelar pusat penyembuhan dan penyadaran diri Ambarashram.
Kadek Siwa Ambara yang ditemui di lokasi menuturkan, acara penyembuhan ini digelar sebagai ajang edukasi sekaligus penyembuhan massal. “Acara ini kami adakan nyaris setiap setahun sekali. Sebagai ajang edukasi kepada masyarakat, bahwa pengobatan spiritual itu bentuknya beraneka ragam. Ada melalui hypnoterapi, obat herbal, ada juga wariga, membaca garis tangan, dan masih banyak lagi metode penyembuhan lainnya,” ujarnya.
Selain itu, Ambara menuturkan ada lima penyebab sakit yang dialami manusia, yakni penyakit yang diakibatkan oleh fisik, pikiran, masalah keuangan, masalah sosial, dan mental. “Yang paling utama menyebabkan penyakit yaitu pikiran. Hampir 90 persennya pikiran mengakibatkan penyakit. Sedangkan sisanya murni diakibatkan kondisi tubuh,” ungkap ahli penyadaran diri ini.
Dalam acara tersebut banyak praktisi spiritual yang ikut memeriahkan kegiatan, seperti dr. W Mustika, Siva Dandi ( ahli trisula healing ), Mangku Dalang Nardayana (ahli penyakit niskala). Kemudian ada juga Agung Gede Sukarena (ahli terapi tertawa), Mangku Desak Partiwi (pembaca garis tangan), Anantha Wajendra (ahli hypno), Jero Tunjung (ahli penyakit niskala), Mangku Warnawaji (ahli tenung), juga ahli wariga Wayan Rambler. “Semua praktisi yang hadir adalah praktisi yang memang ahli di bidangnya. Jadi, para peserta dapat memilih mana yang mereka butuhkan. Jika mereka ingin membaca garis tangan, akan menemui Jero Desak Partiwi. Bila ingin mengobati penyakit niskala, datang ke Jero Tunjung. Kami bebaskan, semua peserta memilih,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat sangat besar untuk ikut dan datang dalam acara penyembuhan kali ini. Sedikitnya 500 orang dari berbagai daerah di Bali hadir, memanfaatkan momen ini. Ambara berharap kedepannya pengobatan alternatif akan lebih berkembang. “Saya berharap kedepannya para praktisi lebih banyak yang berani menunjukkan diri serta kemampuannya. Agar dunia pengobatan alternatif lebih berkembang dan dapat dijangkau oleh masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.
Dari sederetan orang yang hadir, tak sedikit yang konsultasi soal nasib. Percayakah Anda dengan suratan takdir? Setiap orang diyakini memiliki suratan takdirnya masing – masing, yang merupakan buah karma perbuatannya. Untuk urusan ini, ditangani oleh Wayan Rambler, seorang ahli Wariga serta Astronomi. Ia banyak mempelajari Ilmu Wariga lewat lontar serta tanda - tanda alam yang terjadi di bumi. Menurutnya, perputaran fenomena alam yang terjadi setiap 210 hari membuat Ilmu Wariga dan Astronomi tergolong ilmu pasti. “Astronomi itu ilmu pasti, dan telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Terbukti dengan tercatat dalam lontar lontar wariga tentang kejadian alam,” ungkap Rambler. Lantas, bagaimana pengaruh wariga terhadap kehidupan seseorang? Laki – laki paro baya ini memaparkan, hari kelahiran sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang, seperti rezeki, jodoh maupun waktu kematian. “Ya jelas ada pengaruhnya, lewat wariga kita bisa menghitung jumlah angka dan membaca nasib seseorang dari angka tersebut. Ada perhitungan khususnya,” ungkap Rambler.
Namun, pola membaca nasib dengan metode wariga, kini terbilang lebih modern. Rambler memadukan tekhnologi dengan Ilmu Wariga yang ada di lontar. “Ini inovasi yang kami buat. Jadi tidak perlu susah – susah membuka lontar, lewat aplikasi ini saya dapat membaca nasib seseorang dari hari kelahirannya,” ungkapnya.
Berbeda dengan Wayan Rambler, Mangku Desak Partiwi menggunakan metode garis tangan untuk membaca garis kehidupan seseorang. Dengan hanya mengelus tangan serta melihat garis tangannya, Mangku Desak mampu membaca nasib seseorang. “Ini bukan ilmu, ini bakat yang dibawa seseorang. Sebuah keistimewaan yang diberikan Tuhan bagi orang – orang tertentu, dan kebetulan saya salah satunya,” ungkap Mangku Desak.
Menurutnya, garis pada telapak tangan setiap orang sesungguhnya memiliki arti yang berbeda. “Coba perhatikan, garis tangan antara satu orang dengan orang lainnya, pasti berbeda. Semua itu karena nasib, karma, serta hasil perbuatan tiap orang yang berbeda. Dan, tiap garis memiliki arti dan jalur tersendiri,” ujarnya.
Mangku Desak memaparkan, dirinya terbiasa membaca lewat tangan kiri pasiennya. Pada telapak tangan kiri terdapat guratan dan garis yang melintang membentuk pola tertentu. Pola – pola tersebut yang menggambarkan jalur rezeki, nasib serta perjalanan hidup seseorang. “Coba lihat jika garis yang membentang vertikal terlihat tebal, maka orang tersebut tergolong murah rezeki,”ungkapnya, sembari menunjuk telapak tangan seorang pasiennya.
Masyarakat Ubud terlihat sangat antusia ketika mengetahui Mangku Desak hadir hari itu. Tak tanggung – tanggung, selama empat jam warga rela menunggu di depan ruang praktiknya hanya untuk mengetahui nasibnya lewat garis tangannya.
Meski terlihat kewalahan, namun Mangku Desak tetap berusaha melayani dengan baik. “Saya anggap ini ngayah. Ngayah tak hanya kepada Tuhan, namun juga kepada sesama manusia,” ungkapnya.