BALI EXPRESS, DENPASAR – Tarian gambuh yang diperkirakan ada sejak 1932 sebagai asal mula gerakan tari yang ada saat ini tergolong langka dan jarang dipentaskan. Gambuh khusus dipentaskan saat pujawali besar.
Hal itu diungkapkan oleh Kelihan Sekaa Gambuh Kaga Wana Giri, Desa Kedisan, Tegallalang, Gianyar, I Gusti Ngurah Widiantara saat diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar Kamis kemarin (28/6). Meski sempat terjadinya pasang-surut dengan keberadaannya di desa setempat, sampai saat ini masih bisa dipertahankan. “Tarian Gambuh ini biasanya dipentaskan pada pura yang sedang melaksanakan pujawali agung. Bukan pada piodalan biasanya, karena sebagai pelengkap yang menandakan pujawali itu berlangsung,” tandasnya.
Widiantara juga menjelaskan pada tahun 1932 lalu Tari Gambuh diperkirakan masuk ke Desa Kedisan bersamaan dengan datangnya imigran ke sana. Sempat terjadi pasang-surut pada sekaanya, lantaran seniman yang melanjutkan tari khusus saat karya agung itu sulit mencari generasi penerus. Sehingga sampai saat ini anggota sekaanya hanya pada ruang lingkup keturunan keluarga sekaa sebelumnya secara turun-temurun.
Dalam kesempatan itu, pria asli Tegalalang Gianyar tersebut menegaskan bahwa Tari Gambuh Hanya dipentaskan pada Tawur Agung dan upacara besar lainnya. “Dalam pementasan itu juga kami dari sekaa Gambuh tidak pernah memasang harga kalau untuk upacara. Karena kami menjalankan apa yang diwarisi oleh leluhur saja. Kalau berkaitan dengan ngayah, memang tidak ada patokan untuk sesari,” jelas Widiantara.
Demi melangsungkan roda organisasi pada sekaa seninya itu, pihaknya sudah mulai menerlibatkan generasi muda. Dalam satu sekaa ada 50. Namun dalam PKB kali ini pihaknya hanya melibatkan 35 anggota saja agar lebih efektif.
“Pementasan biasanya dilakukan sesudah sembahyang, dengan durasi waktunya menyesuaikan di lapangan. Kalau orang akademisi Tari Gambuh ini dikatakan ibu dari seluruh tari. Seperti Tari Condong yang ada di Gambuh sangat mirip dengan Condong yang berkembang sekarang di Legong,” tuturnya di Kalangan Angsoka, Art Center.
Sekaa Tari Gambuh itu sendiri, selain pentas untuk ngayah juga kerap pentas yang bertujuan untuk dikomersilkan. Yakni sebagai duta kesenian di luar negeri, namun untuk di Bali pihaknya secara tulus ikhlas ngayah. Terkait ceritanya gambuh diambil dari sebuah cerita Jawa, Malat dan Panji. Namun saat ini pihaknya menceritakan Prabu Gegelang yang menghaturkan sebuah sesangi (bayar janji) di sebuah gunung daerah Penebel Tabanan. Dikarenakan pada kerajaan Gegelang sudah damai dan menghaturkan yadnya tersebut sebagai ucapan terimakasih.
Dalam melanjutkan roda organisasi sekaa, Widiantara mengaku sulit mencari orang-orang muda untuk bergabung di sana. “Di samping itu makin lama makin pudarnya Tari Gambuh, yang disebabkan oleh degradasi seni semakin berubah. Karena lebih banyak orang menonton yang lucu dan sifatnya menghibur. Memang di sini tidak ada lucu hanya saja ada kemungkinan gerakan beberapa ada lucu. Kalau penari yang pentas di PKB sebanyak 12 orang dan diiringi oleh sekaa gambelan 15 orang,” imbuhnya.
Keseluruhan sekaanya itu terdiri atas kaum pria, bahkan dalam gerakan tariannya penari pembuka sangat terlihat sangat kaku. Namun selanjutnya diimbangi dengan tarian yang lebih memiliki sisi yang lemah lembut dan berupa patih. Karena dianggap sangat jarang dapat ditonton pada piodalan, tampak pengunjung yang ada di sekitar Taman Budaya memadati tempat duduk yang ada di Kalangan Angsoka sebelum hingga pementasan dimulai.
Editor : I Putu Suyatra