Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tabuh Klasik Sanggar Citarum, Pukau Penonton di Kalangan Ayodya

I Putu Suyatra • Senin, 2 Juli 2018 | 04:10 WIB
Tabuh Klasik Sanggar Citarum, Pukau Penonton di Kalangan Ayodya
Tabuh Klasik Sanggar Citarum, Pukau Penonton di Kalangan Ayodya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Seorang seniman tidak tumbuh dan berkembang secara kebetulan. Namun sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan hobi. Seperti pementasan Tari dan Tabuh Kerawitan dari Sanggar Citarum Kota Denpasar didominasi oleh anak-anak. Dengan penampilannya yang lebih menonjolkan tabuh klasik dan tarian sangat memukau penonton yang ada di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Art Center.


Ketua Sanggar Seni Tari dan Kerawitan Citarum, I Putu Sudiartha saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) sebelum pementasan mengaku sempat mengalami kendala. Yaitu dalam mengatur dan membuat suasana anak-anak yang sering bermain dan susah diatur saat latihan, agar menjadi fokus setiap latihan.


“Namanya juga anak-anak, masih senangnya bermain. Di sana juga pemukulan gambelannya sedikit berbeda dengan gong kebyar biasa jadi lebih sulit kalau sudah terbiasa dengan gong kebyar. Meski demikian saat diajak bersama-sama latihan mencari tabuh dan dibarengi tarian mereka tampak menjadi senang dan mulai gampang mengaturnya,” tandas Sudiartha di Denpasar Minggu (1/7).


Dalam kesempatan itu, ia juga mengaku sanggarnya berdiri pada 17 Agustus 2009. Karena bertepatan dengan perayaan hari kemerdekaan RI, ia berharap dengan jiwa semangat kemerdekaan dapat melestarikan seni dan budaya Bali. Di samping itu juga mengembangkan budaya ke arah yang adiluhung dan ajeg.


Terlebih juga nama sanggarnya tersebut bernama Citarum yang memiliki makna cita-cita yang harum dan luhur. Di samping itu kalau sanggarnya sendiri memang terletak di Jalan Tukad Citarum, Denpasar. Dengan pentas di Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun ini sebagai wahana untuk melestarikan seni dan budaya yang telah ada.


Karena memfokuskan sanggarnya untuk merekrut generasi muda, sehingga dikatakan sebagai tempat menghimpun dan mengembangkan profesi bidang seni. “Dalam tabuh samara pegulingan kami membawakan dua tema, yaitu Tabuh Klasik Sumambang Bali, Tabuh Pategak Liar Samas,” paparnya.


Sedangkan tari-tariannya terdapat empat, yaitu Tari Sekar Jagat, Kembang Girang, Jauk Manis, dan Tari Bondres. Pementasan yang sebagian besar dilakukan oleh siswa SD sampai SMP sangat menarik perhatian penonton. Sehingga  tidak tanggung-tanggung para penonton ada yang sampai berjemuran  dan berdiri sambil menyaksikan pemntasan  tersebut.


Untuk persiapan tampil di PKB tahun ini, Sudiartha  mengaku mengajak anggota sanggarnya latihan selama dua bulan. Meski terkendala dengan prilaku dan mood anak didiknya, dirinya menjadi tahu bagaimana dan apa yang diinginkan anak didiknya saat latian. Sehingga ia mengaku dapat belajar banyak dalam memhami karakter mereka.


“Kami dalam pementasan ini hanya menggunakan penabuh sebanyak 35 orang, dan penari sebanyak 14 orang. Semuanya itu masih duduk pada bangku sekolah dasar dan beberapa juga ada yang SMP,” imbuh Sudiartha. 

Editor : I Putu Suyatra
#pkb