BALI EXPRESS, DENPASAR - Pangayengan yang terletak di Jalan Kumbakarna, Dauh Puri Kaja, Denpasar ini cukup unik. Pangayengan tersebut berbentuk sebuah patung seorang pandita istri (pendeta wanita). Masyarakat mengenal patung tersebut dengan nama Ida Ratu Niang. Terletak di sisi barat jembatan yang menghubungkan Jalan Kumbakarna, tepatnya sebelah Pasar Wangaya, membuat pangayengan tersebut tampak jelas terlihat. Konon banyak masyarakat yang datang menepi hanya untuk menghaturkan rarapan sembari menyampaikan permintaan. Lantas seperti apa mistisnya pangayengan Ratu Niang Sakti tersebut? Benarkah dapat memohon jodoh serta rejeki?
Konon, pangayengan Ida Ratu Niang Sakti yang terletak di Jalan Kumbakarna, ini merupakan salah satu yang terfavorit. Selain jaraknya yang lebih dekat dengan kota, konon Ida Ratu Niang sangat sering malancaran (jalan-jalan) dan singgah di sana. Hal itu ramai diceritakan para pedagang serta masyarakat yang tinggal di seputaran jembatan setempat. Cerita-cerita mistis itu juga diakui pamangku, Ngurah Gede Agung Jumat (6/7) kemarin.
Menurutnya, pangayengan yang dibangun pada tahun 1998 ini berawal dari rencana berdirinya hotel miliknya di utara jalan. “Waktu itu saya kan rencana mau mlaspas hotel Puri, pas maluasin ternyata tidak diperbolehkan, karena tempat itu secara niskala merupakan akses Ratu Niang malancaran. Setelah mapinunas, akhirnya Beliau minta dibuatkan pangayengan agar bisa malinggih ketika malancaran di sana,” paparnya.
Jro mangku yang akrab disapa Turah Belanda ini memaparkan, dirinya tidak pernah merencanakan palinggih yang dibangun berbentuk patung Ratu Niang. “Awalnya rencana saya membuatkan palinggih biasa. Namun, kakak bermimpi dan membuatkan sebuah patung. Kami berdua bahkan bingung, kenapa perwujudannya justru seperti ini,” ungkapnya tersenyum.
Terletak di pinggir sebuah jembatan dan relatif dengan dengan pasar, membuat pangayengan Ratu Niang sangat ramai dikunjungi. Tak jarang pedagang yang berjualan di pasar, maupun orang yang hanya sekadar lewat berhenti untuk menghaturkan rarapan berupa sirih pinang, rokok atau hanya sekedar permen. “Biasanya para pedagang yang ramai datang sembahyang. Tapi banyak juga mereka yang datang, khusus ingin nunas dengan Ratu Niang Sakti,” ujarnya.
Uniknya, di pangayengan tersebut ternyata banyak yang memohon agar dipertemukan dengan jodohnya. “Banyak yang datang kesini menghaturkan sasangi. Mereka memohon jodoh. Ada yang sudah umur tapi belum menikah. Ada yang habis patah hati, akhirnya mereka memohon agar segera dipertemukan jodohnya, dan cukup banyak yang kembali naur sasangi, karena doanya mendapat jodoh dikabulkan,” ujarnya.
Selain memohon jodoh, pangayengan tersebut juga sering didatangi masyarakat yang ingin memohon kesembuhan dan rezeki. “Yang cukup unik, kemarin ada yang datang memohon kesembuhan dari penyakit ejakulasi dini. Mereka tidak memiliki keturunan karena sang suami ejakulasi dini, disini mereka memohon. Tidak lama, penyakit itu sembuh. Istrinya datang maturan wastra putih,” ungkapnya.
Menurutnya, Ida Ratu Niang Sakti memang dikenal sangat murah hati, terbukti dari banyaknya pamedek yang tangkil ketika purnama dan Galungan. “Mereka datang dari jauh – jauh. Ada yang minta kesembuhan, jodoh dan rejeki. Mereka datang biasanya membawa banten soda, dihaturkan di sana bersama tembakau, sirih, serta canangsari. Kenapa tembakau dan sirih? Beliau memang sangat menyukai itu,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra