Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ida Ratu Niang Sakti juga Disebut Dewi Kwan Im

I Putu Suyatra • Sabtu, 7 Juli 2018 | 17:04 WIB
Ida Ratu Niang Sakti juga Disebut Dewi Kwan Im
Ida Ratu Niang Sakti juga Disebut Dewi Kwan Im

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pangayengan Ida Ratu Niang Sakti di Jalan Wibisana, Dauh Puri Kaja, Denpasar memang tak pernah sepi pengunjung, baik saat rarahinan, maupun hari – hari biasa. Ketika Bali Express (Jawa Pos Group) datang berkunjung, terlihat masyarakat sekitar menghaturkan canang sari dengan permen sebagai rarapan.


“Ratu niang, sangat pemurah. Saya jualan bunga di pasar sana. Kalau mohon di sini sebelum berjualan, pasti laris. Beliau memang pemurah,” ujar Catri, salah satu pedagang Pasar Wangaya, Jumat (7/6) kemarin.


Uniknya tak hanya masyarakat Hindu yang datang sembahyang di pangayengan tersebut. Masyarakat Tionghoa juga datang berbondong-bondong. “Bagi masyarakat Tionghoa, Ratu Niang disebut Dewi Kwan Im. Beliau dewi rezeki dan dewi kehidupan. Makanya banyak masyarakat yang bertandang untuk sembahyang. Pastinya sembahyang menurut tata cara mereka,” ujar pamangku sekaligus pangempon pangayengan Ratu Niang Sakti, Ngurah Gede Agung kemarin.


Ia bercerita, pernah ada keluarga Tionghoa yang datang untuk sembahyang, kebetulan seorang balian juga tangkil saat itu. ”Ketika mereka berdoa bersamaan, balian tersebut tiba-tiba kesurupan. Anehnya si balian berbicara Bahasa Cina. Karena saya tidak mengerti, saya katakan jangan berbahasa Cina karena saya tidak mengerti pabaos Ida,” ujarnya.


Tak hanya soal karauhan berbahasa Cina, masyarakat setempat konon sering melihat patung Ratu Niang Sakti tersenyum atau bahkan melirik. “Banyak yang datang sembahyang bercerita pada saya, katanya ketika mereka lewat akan berjualan di pasar, mereka melihat patung Ratu Niang tersenyum. Karena kaget mereka langsung berhenti dan maturan,” ungkapnya.


Mangku Ngurah Gede menyampaikan, bagi para pamedek yang ingin tangkil, jangan lupa membawa canang atau soda sebagai wujud bhakti. “Jika sempat bawalah pejati atau soda untuk dihaturkan. Namun jika tidak sempat, bawa canangsari pun tak apa, yang penting keikhlasan kita maturan sembah pada-Nya,” ujarnya mengakhiri. 

Editor : I Putu Suyatra