BALI EXPRESS, AMLAPURA - Jika Tenganan identik dengan tradisi makare – kare atau mageret pandannya yang unik, Desa Bugbug juga memiliki tradisi serupa yang terbilang cukup unik. Tradisi Tatebahan, salah satu tradisi tahunan yang diselenggarakan desa Bugbug sebagai bentuk rasa syukur atas panen berlimpah serta keberhasilan dalam menggelar suatu prosesi adat. Uniknya, dalam prosesi ini peserta diwajibkan menggunakan pelepah pisang sebagai senjata utama. Prosesinya yang mirip dengan perang pandan. Lantas seperti apa rangkaian prosesinya? Serta apa pesan dan makna yang tersirat dalam Tradisi Tatebahan di Desa Pakraman Bugbug?
Tradisi Tatebahan merupakan rangkaian upacara Dewa Yadnya. Konon, upacara ini ditujukan kepada Dewa Sangkara yang dikenal juga sebagai tumbuh-tumbuhan. Masyarakat Desa Bugbug percaya Dewa Sangkara malinggih di tegalan atau kebun setempat. Tradisi ini merupakan salah satu dari beberapa prosesi dalam Aci Usaba yan rutin diadakan di Desa Pekraman Bugbug, Karangasem.
Tatebahan berasal dari kata tebah yang berarti pukul. Jika diartikan secara konkret, Tatebahan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan dengan cara saling memukul antar peserta yang bersenjata pelepah pisang. Atraksi saling pecut antara satu peserta dengan peserta lain pun, tidak dilakukan sembarangan. Terdapat pakem atau aturan pasti yang tidak boleh dilanggar. Hal itu yang dipaparkan Bendesa Pakraman Bugbug, Jro Mas Suyasa.
Menurutnya, dalam menjalankan prosesi Tatebahan, peserta dilarang memecut organ tubuh tertentu dari lawannya. Seperti bagian wajah, alat vital, dan kaki. “Hanya boleh menyerang area punggung dari leher kebawah, dan area atas pinggang. Di luar itu dilarang karena akan berbahaya bagi peserta. Pantangan lainnya peserta hanya boleh menyerang lawannya sebanyak tiga kali,” tegas Suyasa.
Adanya aturan menyerang sebanyak tiga kali konon merupakan simbolisasi dari keyakinan tiga tingkatan alam semesta, yaitu bhur loka, bwah loka dan swah loka. Lantas apa sesungguhnya makna dari Tradisi Tatebahan tersebut? Selain sebagai salah satu tolak bala, Tradisi Tatebahan juga diyakini dapat mencegah aura negatif datang dan masuk kedalam tubuh manusia. Disisi lain, Tradisi Tatebahan juga merupakan simbol dari rasa suka cita masyarakat Desa Pakraman Bugbug atau hasil panen yang berlimpah. “Itu bentuk rasa syukur kami atas panen tahun ini yag berlimpah. Di sisi lain juga sebagai perwujudan rasa syukur kami karena berhasil muput karya besar Aci Usaba Sumbu kemarin,” ujarnya.
Seperti halnya Desa Bali Mula Lainnya, Desa Pakraman Bugbug telah melaksanakan Tradisi Tatebahan, bahkan sejak sebelum mengenal agama. “Tradisi ini sudah ada, bahkan sebelum Majapahit mengenalkan Hindu di Bali, yang ketika itu agama hindu di Bali masih dikenal dengan agama Tirta,” ujarnya. Desa Pakraman Bugbug yang memiliki luas 562 hektare ini berbatasan langsung dengan Desa Tenganan di sebelah utara, Pantai Bugbug di sebelah selatan, Desa Nyuh Tebel di sebelah barat dan Desa Pertima di sebelah timur.
Desa Pekraman Bugbug dikenal sebagai salah satu Desa Bali Mula yang sampai saat ini masih mempertahankan tradisi serta kepercayaan yang telah diturunkan dari generasi kegenerasi. Salah satu ideologi yang hingga kini masih dipertahankan serta tersirat dalam tradisi Tatebahan adalah Ideologi Rwabhineda. Di Bugbug, konsep Rwa Bhineda yang tersirat merupakan esensial atau potret kebenaran yang dimulai dari individu (Bhuana Alit) masyarakatnya dan dilanjutkan dengan penghayatan Bhuana Agung atau alam disekitarnya. “Rwa Bhineda bagi kami adalah pola keseimbangan. Yang berawal dari diri sendiri dan diimbangi dengan Bhuana Agungnya agar senantisa damai dan makmur,” ujarnya.
Ketika ditanya sejarah tradisi Tatebahan tersebut, Suyasa memaparkan dahulu sebagian besar penduduk di Desa Bugbug berprofesi sebagai petani. Karena lahan di desa Bugbug terbilang subur dan letak geografisnya mendatar, maka tak heran sebagian besar dari mereka menanam padi ataupun berladang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tradisi tatebahan sendiri lahir dari rasa syukur masyarakat desa bugbug atas panen melimpah yang mereka peroleh setiap tahunnya. “Tradisi ini tentu tidak lepas dari sejarah desa Bugbug yang memang hidup dari hasil pertanian. Kami percaya dengan mengadakan tradisi Tatebahan ini, Dewa Sangkara yang malinggih di tegalan atau sawah akan selalu memberi kesuburan serta kemakmuran,” ungkapnya.
Selain rasa syukur, tradisi ini dilaksanakan sebagai upaya mencegah hal-hal negatif secara niskala. “Ibaratnya sebagai penangkal marabahaya serta sebagai media untuk mempererat tali silaturahmi antar warga,” ungkapnya.
Lantas seperti apa ritual Tatebahan tersebut? Seperti yang dijelaskan Suyasa, Tradisi Tatebahan dilaksanakan setiap setahun sekali, yakni pada Purnama Sasih Desta atau Tumpek Klurut. Tradisi ini diadakan di Pura Bale Agung Desa Pakraman Bugbug. Menurut Suyasa, ada tiga tahap dalam pelaksanaan tradisi Tatebahan tersebut. Yakni tahap persiapan, tahap pertama dan tahap kedua.
Dalam tahap persiapan, masyarakat desa Bugbug mempersiapkan pelepah pisang, serta hasil pertanian lainnya untuk di persembahkan ketika pelaksanaan tradisi Tatebahan. Tak hanya hasil panen, masyarakat juga mempersiapkan banten pangulapan, banten pajegan, banten peras, daksina dan segehan mancawarna. Di tahap pertama yang diselenggarakan keesokan harinya, masyarakat Desa Bugbug akan mengumpulkan semua hasil pertanian yang telah disiapkan. Hasil pertanian yang berupa beras, sayur, umbi – umbian, cabai dan tomat diracik sedemikian rupa menjadi sebuah masakan urap. Makanan yang telah jadi akan dihaturkan dahulu kepada Tuhan atau Dewa Sangkara di tegalan dan persawahan. Sisa makanan yang telah dihaturkan akan dimakan secara bersama – sama dalam satu wadah. Acara makan bersama ini dikenal juga dengan tradisi magibung.
Selanjutnya, di hari ketiga, prosesi perang pelepah pisang pun digelar. Pagi hari masyarakat Desa Bugbug terlihat mulai berkumpul di Pura Bale Agung. Dengan hanya menggunakan kain yang menutup bagian bawah tubuhnya, laki – laki Desa Adat Bugbug terlihat gagah dengan menenteng pelepah pisang di kedua tangannya. Tak hanya anak muda yang ikut serta, laki – laki paro baya pun tak ketinggalan untuk ikut berpartisipasi dalam tradisi itu. Acara diawali dengan berdoa bersama yang diadakan di pelataran Pura Bale Agung Desa Pakraman Bugbug.
Usai melaksanakan doa bersama, masing – masing peserta bersiap di sebuah arena yang telah di persiapkan. Mereka dipersilahkan untuk memecut lawannya tiga kali secara bergiliran. Tentunya dengan larangan tidak boleh mengenai area tubuh yang telah di tentukan. Perang pelepah pisang itu berlangsung sekitar dua jam. Sisa sisa pelepah yang telah hancur akan diambil oleh seorang prajuru dan di letakan pada areal sawah dan tegalan di seluruh Desa Pakraman Bugbug. “Yang boleh ikut serta adalah seluruh warga Desa Bugbug yang berjenis kelamin laki – laki. Biasanya dari berbagai banjar di Desa Bugbug pasti ikut serta,” ujarnya.
Selain tidak boleh memukul lawan di area tertentu, dalam tradisi ini peserta juga tak diperbolehkan menyimpan rasa dendam. “Biasanya saking kerasnya memukul kadang peserta ada juga yang terluka hingga berdarah – darah. Nah, di luar arena tidak ada yang boleh menyimpan dendam,” ujarnya.
Terakhir Jero Suyasa berharap, tahun mendatang tradisi tetabahan akan diselenggarakan kembali. “Walaupun di tahun – tahun mendatang profesi petani semakin berkurang disini, tapi kami berharap tradisi ini akan terus berlanjut hingga ke cucu dan cicit kami. Kenapa? Karena ini warisan tak benda yang sudah kita terima dan kita jalani dari generasi ke generasi,” ujarnya menjelaskan.
Editor : I Putu Suyatra