Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Barong Landung Jadi Penolak Bala, Mitologinya Banyak Versi

I Putu Suyatra • Selasa, 31 Juli 2018 | 21:25 WIB
Barong Landung Jadi Penolak Bala, Mitologinya Banyak Versi
Barong Landung Jadi Penolak Bala, Mitologinya Banyak Versi

BALI EXPRESS, DENPASAR - Barong Landung  yang sosoknya tinggi besar dan berpasangan ini, ada di sejumlah Pura Desa dan Puseh di Bali.  Bagaimana muasal dan fungsinya, dan kenapa ada di Pura Puseh atau Pura Desa?


Barong Landung merupakan salah satu kesenian sakral di Bali, namun bentuknya berbeda dengan  Barong Bangkung ataupun Barong Ket.
Barong Landung umumnya dipentaskan pada saat piodalan di Pura Desa dan Puseh. Barong ini  juga muncul  pada upacara Dewa Yadnya tertentu. Wujudnya yang menyerupai manusia dan berpasangan, yakni Ratu Gede dan Ratu Anom, membuatnya kian menarik. Umumnya, hanya pada saat – saat tertentu Barong Landung  ini diarak warga untuk  mengelilingi desa. Hal itu bertujuan  untuk terciptanya keselarasan serta keharmonisan alam semesta.


Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, kata barong  terdiri dari ka ‘ba atau bah yang merujuk pada kata b(h)awa yang berarti  sinar atau penjelmaan. Sedangan Landung berarti tinggi dan besar. "Penjelmaan yang dimaksud adalah perwujudan makhluk mitologi (bhawa). Jadi, Barong Landung dapat diartikan sebagai manifestasi Tuhan sebagai Bhawa dalam bentuk tinggi besar," terang
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda kepada Bali Express ( Jawa Pos Group ) pekan kemarin.
Ia juga memaparkan Barong Landung juga merupakan perwujudan dari sosok Raja Balingkang beserta istrinya. Pernah mendengar mitos Balingkang? "Karena suatu alasan, akhirnya Raja Balingkang beserta permaisurinya dikutuk oleh Dewi Danu menjadi sepasang Barong Landung. Nah, atas dasar mitologi tersebut, maka perwujudan Barong Landung hingga saat ini masih dapat kita lihat di Pura Desa dan Pura Puseh,” ujar Acharya Nanda.


Barong Landung identik  dengan perwujudannya sedikit menyeramkan.  Berperawakan besar berwajah garang dan  hitam legam. Barong Landung biasanya dibuat sepasang, yakni laki – laki dan perempuan. Wujud laki – laki biasa disebut Jero Gede,  sedangkan yang perempuan disebut Jero Luh. “Coba perhatikan, perawakan Jero Luh itu bermata sipit, jidat serta pipinya terlihat menonjol. Berbeda dengan Jero Gede yang berperawakan hitam besar dengan wajah menyeramkan.


Jero Luh digambarkan demikian, lanjutnya,  karena ia menggambarkan permaisuri Raja Balingkang yang juga seorang putri Raja China yang bernama Kang Cing Wei.


Dikatakan Mpi Acharya, Barong Landung sesungguhnya berfungsi sebagai penolak bala. Apabila   terjadi wabah penyakit ataupun bencana alam, maka masyarakat akan melaksanakan upacara permohonan, agar Ratu Gede Macaling bersedia mamargi dan berstana dalam Barong Landung. “Kisah Barong Landung ini sebenarnya banyak versi. Ada yang mengatakan beliau itu perwujudan Ratu Gede Macaling. Ada juga yang menyebutkan berkaitan dengan Kanda Pat. Serta dikaitkan pula dengan kisah Raja Balingkang dan Putri Kang Cing Wei. Namun, dari berbagai versi kisah tersebut, fungsi Barong Landung jelas sebagai media penolak bala,” tegasnya.


Ia juga menjelaskan, biasanya ketika Ida Bhatara Dalem Sakti bersedia tedun dan malinggih (berstana) dalam wadah Jero Gede dan Jero Luh, lantas kedua Barong Landung tersebut akan diarak keliling desa. “Secara filosofi tujuannya untu mengusir roh jahat yang mengganggu masyarakat desa. Nah, prosesi diarak keliling ini biasa disebut tradisi ngalawang,” ujarnya.


Berbeda dengan tradisi Ngalawang Barong Bangkung, Ngalawang Barong Landung tidak dilakukan hingga kedalam rumah warga, melaikan hanya melintas di luar rumah. “Biasanya, pada saat tradisi Ngalawang inilah masyarakat aka berduyun – duyun keluar rumah menanti Barong Landung mamargi (melintas),  tujuannya untuk nunas tamba (obat). Acara Ngalawang ini biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali,” ujarnya.  Pada waktu Barong Landung malancaran (keliling), biasanya masyarakat menghaturkan banten berupa canang sari dan panguntapan. “ Panguntapan itu umumnya diisi sasari berupa dua keping uang kepeng dan segehan. Banten  Panguntapan itu ditujukan kepada para pangiring beliau, dengan maksud agar tidak mengganggu dan sebagai bentuk permohonan agar diberi anugerah kesembuhan, keselamatan, dan kedamaian," terangnya.


Dijelaskannya,  upacara nunas  ( memohon) ini, biasanya dipimpin langsung oleh Jero Mangku Pura Desa atau Pura Puseh sebagai pengiring beliau. Dalam upacara Nunas tersebut, biasanya masyarakat akan diberikan tirta sebagai tamba atau obat. “Tirta yang diberikan itu akan digunakan sebagai obat ataupun pebersihan pekarangan,” ujarnya.


Di singgung soal Kanda Pat, Mpu Acharya Nanda menjelaskan, dalam lontar Kanda Pat diceritakan bahwa Barong Landung  sangat berkaitan erat dengan catur sanak (Kanda Pat). Dikatakan, Barong Landung merupakan perwujudan dari Catur Sanak dalam stananya di Bhuana Agung. Dalam lontar Kanda Pat juga dijelaskan, Barong Landung dipercaya sebagai penolak wabah penyakit sekaligus sebagai penetralisasi kekuatan jahat dari para Bhutakala. Selain terdapat dalam lontar Kanda Pat, sejarah dan mitologi Barong Landung juga terdapat dalam kisah Ratu Gede Macaling.


Dipaparkan Mpu Acharya Nanda, dalam kisah Ratu Gede Macaling, Barong Landung merupakan perwujudan Sang Ratu Gede Macaling yang memiliki tubuh tinggi besar. “Ratu Gede Macaling dalam kepercayaan Hindu di Bali dikatakan merupakan raja dari para makhluk halus. Perawakannya yang tinggi besar membuat makhluk halus takut. Nah dari situ konon, masyarakat membuat sebuah Barong Landung sebagai perwujudan beliau,” ujarnya.


Tak ditampiknya, banyaknya sumber tentang sejarah Barong Landung dengan berbeda versi membuat sejarahnya terlihat gamang atau tak jelas. “Memang, untuk memastikan bagaimana sejarah Barong Landung itu, sangat sulit untuk dipastikan. Secara garis besar, beberapa lontar menyebutkan Barong Landung itu mitologi yang diciptakan untuk menolak bala sekaligus memohon kesembuhan. Namun dalam lontar – lontar tersebut menceritakan sejarahnya justru berbeda – beda versi. Jadi, kita tak bisa mengklaim ini salah ataupun versi ini yang benar,” ungkapnya. 

Editor : I Putu Suyatra