Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ada Palinggih Ikan Berkepala Gajah, Ini Dasar dan Tujuan Pendiriannya

I Putu Suyatra • Senin, 6 Agustus 2018 | 01:29 WIB
Ada Palinggih Ikan Berkepala Gajah, Ini Dasar dan Tujuan Pendiriannya
Ada Palinggih Ikan Berkepala Gajah, Ini Dasar dan Tujuan Pendiriannya

BALI EXPRESS, DENPASAR - Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing memiliki dua palinggih unik yang terdapat di mandala tengah.  Ada palinggih bertubuh seperti manusia dengan kepala menyerupai gajah. Juga ada  pelinggih yang berwujud ikan namun memiliki kepala gajah, yang dikenal dengan  Gajah Mina. Kenapa sosok aneh itu ada di kawasan ini?


Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing yang berdiri di atas lahan hutan konversi di sisi utara Pulau Serangan ini, dikenal angker dan.unik. "Di kawasan pura ini,  terdapat sebuah palinggih yang memiliki bentuk berupa makhluk mitologi. Berbeda dengan Pura Beji umunya. di Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing menstanakan Dewa Baruna sebagai dewa tertinggi," papar Pemangku Pura  Beji Sakenan Tunggak Tiing, Anak Agung Ngurah Bagus Aryana kepada Bali Express (Jawa Pos Group), pekan kemarin.


Disinggung soal keberadaan Palinggih Gajah Mina  di Pura Beji Sakenan Tunggak Tiing, pemangku yang tinggal di Puri Kesiman ini menjelaskan bahwa Gajah Mina merupakan kendaraan atau stana Dewa Baruna. “Makhluk bertubuh Ikan Berkepala Gajah itu disebut Makara atau Gajah Mina, yang  dipercaya sebagai stana atau kendaraan Dewa Baruna. Di sini Dewa Baruna adalah Dewa tertinggi yang distanakan,” papar pria yang akrab dipanggil Turah Mangku ini.


Ditegaskannya,  Dewa Baruna distanakan sebagai Dewa tertinggi di Pura Beji karena  posisi pura yang terletak di pinggir laut. Di samping statusnya sebagai Pura Bejinya Pura Sakenan. Kondisi ini membuatnya otomatis menstanakan Dewa Baruna sebagai Dewa tertinggi. “ Arena ini Bejinya Pura Sakenan, dan  Dewa Baruna juga distanakan sebagai pemilik lautan. Masyarakat Sakenan yang sebagai besar juga bergantung dari hasil laut, makanya di sini juga distanakan beliau,” ungkapnya.
Secara filosofi, lanjutnya, Palinggih Gajah Mina merupakan simbol dari  kekuatan mahadasyat dari Raja Lautan, yakni Dewa Baruna.


Lantas,  mengapa menggunakan palinggih berbentuk Gajah Mina dan manusia berkepala Gajah? Turah  Mangku memaparkan, masyarakat Serangan  sangat bergantung pada hasil laut. Oleh karena itu dibuatkanlah stana beliau dalam wujud Ikan besar berkepala Gajah.  “ Di lautan raja dari segala makhluk laut adalah Ikan besar. Sedangkan di darat, makhluk yang paling baik dan bijaksana adalah Gajah. Nah dari pemikiran itu, maka terlahirlah bentuk Gajah Mina,” paparnya.


Selain karena filosofi tersebut, penggunaan Gajah Mina dan Manusia Berkepala Gajah, juga dikaitkan dengan kisah penyelamatan dunia oleh Matsya, Avatara Wisnu yang berujud Ikan Berkepala Gajah.
“Pernah dengar kisah Avatara Wisnu tentang Matsya Avatara? Dunia diselamatkan oleh Dewa Wisnu dengan ujudnya sebagai Ikan Berkepala Gajah. Makanya, kami juga terinspirasi dari sana,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat meyakini bahwa Palinggih Gajah Mina bisa memberikan perlindungan bagi masyarakat, khususnya masyarakat Serangan. “Ya kami semua berharap beliau selalu melindungi dan memberikan berkah lewat hasil laut,” ujarnya.


Gajah Mina adalah kombinasi dari binatang Gajah dan Ikan berupa binatang purba sejenis ikan berkepala Gajah yang dalam lontar Yama Tattwa dipakai oleh wangsa Wesia sebagai petulangan dalam upacara Ngaben.


Gajah Mina sebagai salah satu dari tujuh makhluk mitologi dalam kepercayaan Hindu yang juga disebut Makara, yakni berujud seekor Ikan Berkepala Gajah tersebut juga sering dilukiskan atau dipahatkan pada candi sebagai hiasan kekarangan dalam arsitektur pura yang memiliki sejarah arkeologis.


Sementara Dewa Baruna  dalam ajaran agama Hindu, adalah manifestasi Brahman yang bergelar sebagai Dewa Air, penguasa lautan dan samudera. Kata Baruna (Varuna) berasal dari kata var ( Sanskerta) yang berarti membentang atau menutup. Kata 'var' tersebut kemudian dihubungkan dengan laut, sebab lautan membentang luas dan menutupi sebagian besar wilayah bumi. Nama lain dewa Baruna adalah Jalapati (penguasa Air), Pracheta (yang bijaksana), Yadapati ( Raja binatang laut), Ambhuraja (Raja Awan), Pasi (yang membawa jaring).


Baruna juga diyakini menguasai hukum alam yang disebut Rta.  Baruna memiliki tunggangan bernama Makana atau Makara, sebuah raksasa laut yang aneh. Makara digambarkan sebagai makhluk campuran antara buaya dan lumba-lumba dan di lain kesempatan nampak seperti ikan besar dengan kepala gajah.
Salah satu mitos paling terkenal yang melibatkan Baruna berasal dari Ramayana.



Rama, yang merupakan Avatara Dewa Wisnu, diceritakan ingin menyeberangi lautan Lanka.
Rama lantas berdoa dan menawarkan korban kepada Baruna, memohon kepadanya untuk membantunya.


Ketika Baruna tidak menjawab, Rama mulai menyerang laut Lanka, membunuh makhluk di dalamnya dan membakar air. Baruna akhirnya muncul, setelah melihat Rama hendak menggunakan senjata yang mampu menghancurkan semua ciptaan, dan meminta maaf kepada Rama. Baruna lantas menenangkan lautan dan membuat jembatan yang melintasi lautan. 

Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #pura unik #pura #sejarah pura