Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Baris Memedi, Usai Menari Semua Penari Dilukat di Campuhan

I Putu Suyatra • Kamis, 16 Agustus 2018 | 03:04 WIB
Baris Memedi, Usai Menari Semua Penari Dilukat di Campuhan
Baris Memedi, Usai Menari Semua Penari Dilukat di Campuhan

BALI EXPRESS, JATILUWIH - Salah satu tarian sakral yang ada di Tabanan adalah Baris Memedi. Tarian ini hanya ditarikan saat ngaben massal atau ngaben ngerit di Desaj Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Seperti apa?


Sebanyak 15 orang penari sejak pagi telah bersiap dengan menggunakan pakaian unik berupa daun pisang tua atau keraras, daun andong dan kasa. Mereka tidak lain adalah para penari Baris Memedi yang hanya ditarikan ketika Ngaben Massal atau Ngaben Ngerit di Desa Adat Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan.


Salah seorang penari, I Nyoman Suwirka, 47, menuturkan bahwa dirinya sendiri sudah menarikan Baris Memedi sejak tahun 1984 silam. Dimana Baris Memedi merupakan tradisi warisan nenek moyang yang dilakukan secara turun temurun, tepatnya setiap H-1 upacara Pengabenan. "Upacara Ngaben juga tidak sembarangan, Baris Memedi hanya ditarikan mulai dari Ngaben Madya dan yang lebih tinggi," ungkapnya usai menarikan Baris Memedi, Rabu (15/8).


Ia menambahkan, Baris Memedi memang memiliki keunikan termasuk dari segi pakaian, dimana para penari akan menggunakan daun pisang kering atau keraras, daun andong dan kain kafan atau kasa bekas orang yang meninggal. Bahkan daun pisang kering dan andong diambil langsung dari pohon yang ada di areal Setra atau Kuburan. Sebelum menari, para penari pun terlebih dahulu di pasupati oleh Pemangku Siwa.


"Karena Tari Baris Memedi ini juga maknanya merupakan unen-unen di Pura Ulun Setra atau Prajapati yang akan mengantarjan roh orang yang akan diaben," imbuhnya.


Tak jarang, para penari yang terdiri dari laki-laki ini pun mengalami kerauhan atau trance ketika menarikan tari Baris Memedi. Bahkan pada jaman dahulu yang sampai berlarian hingga mengalami gangguan jiwa apabila upakaranya tidak lengkap. Maka dari itu, dalam pementasan, ada satu orang penari yang bertugas sebagai Penemprat. Dan kebetulan, Suwirka merupakan penari yang bertugas sebagai Penemprat. "Penemprat ini akan keluar setelah penari lainnya menari 20 menit, fungsinya untuk menghentikan tarian agar kembali ke Setra dan tidak masuk ke areal pemukiman warga," lanjutnya.


 


Sebagai Penemprat, Suwirka pun membawa sarana berupa Kelatkat yang sudah diupacarai untuk menyadarkan para penari yang mengalami kerauhan dengan memukulkan sebanyak tiga kali pada kepala penari tersebut. Usai menari, para penari Baris Memedi atau Baris Tujeng karena diiringi oleh tabuh yang disebut Tabuh Tujeng tersebut akan dilukat di Campuhan Batu Penglukatan di Tukad Yeh Baat.


 


Menurut Keturunan Pemangku Pengempu Baris Memedi, Jero Mangku Ketut Darmadi keberadaan Baris Memedi tidak diketahui secara pasti. Namun sudah merupakan tradisi warisan dari leluhur sejak jaman dulu. "Baris serupa juga ada di Banjar Puluk-Puluk, Desa Tengkudak, Kecamatan Penebel, Tabanan," ujarnya.


 


Ia menambahkan, Baris Memedi bisa dipentaskan setelah semua persiapan siap. Mulai dari nunas restu ke pengempu (mengendalikan secara niskala) Baris Memedi, kemudian nunas bangket (piuning) di taman setra. Barulah para penari menari di Depan Merajan Gede Badak. "Jadi mereka tampil persis setelah sarana upakara datang dari beji," imbuhnya.


 


Rangkian para penari ini belum dikatakan selesai. Jika ada yang belum sadar maka akan dihaturkan segehan di setra. Setelah mereka kembali ke setra para penari yang jumlahnya tidak tentu bisa saja 9, 11 ataupun 12 ini akan mandi ke sungai. Tujuanya untuk membersihkan diri. Kemudian kembali ke setra untuk nebusin artinya mengembalikan jiwa yang sebelumnya sempat tidak menyatu. Lalu dilanjutkan proses melukat dan disini baru dikatakan penari sadar sepenuhnya.


 


Adapun hal wajib yang harus ditaati agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, menurut Jero Mangku Darmadi, ketika mementaskan Baris Memedi adalah meminta restu atau ijin kepada pengempu keturunan dari keluarganya. Sebab dari dulu yang mengendalikan Baris Memedi secara Niskala adalah leluhurnya.


 


Hanya saja karena ia sebagai Jero Mangku Bale Agung Desa Pakraman Jatiluwih maka sudah ditunjuk Jero Mangku Siwa yang mengendalikan. "Tiyang sendiri Jero Mangku Bale Agung jadi untuk ke setra sudah tidak boleh. Maka sudah ada orang yang tiyang tunjuk atas restu tiyang untuk mengendalikan. Bukan bagaimana, jika tidak ada restu dari keturunan tiyang maka penari juga tidak mau menari. Jadi tiyang hanya meneruskan aturan dari leluhur," tuturnya.


 


Untuk krama Desa Jatiluwih sendiri mayat tidak dibakar seperti Ngaben pada umumnya. Sebab di sekitaran Desa Jatiluwih terdapat pura besar seperti Pura Batukaru, Pura Besi Kalung, Pura Muncak Sari, agar asap dari hasil pembakaran tidak terbang. "Intinya Pura supaya tidak kotor atau leteh," tandasnya.


 


Sementara itu, Bendesa adat Jatiluwih I Ketut Suparka menyampaikan, untuk Ngaben Ngerit Keluarga Merajan Gede Pasek Badak  saat ini diikuti sawa gede sebanyak 38, dan ngelungah 36. Dikatakannya untuk tarian Baris Memedi memang menjadi salah satu ciri khas Desa Jatiluwih khususnya dalam upacara Atiwa-tiwa atau Ngaben. Kalaupun tidak ditarikan, upacara tetap dilaksanakan dengan nunas tirta di setra dengan upakara khusus.


"Jadi artinya tetap sama, namun belakangan ini tari Baris Memedi memang masih terus eksis ada di setiap kegiatan Ngaben di desa kami,  karena maknanya menjemput roh ke nirwana," paparnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tari bali #hindu #tradisi #tradisi unik